Rabu, Juli 27, 2011

ISLAM ADALAH AGAMA YANG MUDAH


Oleh
Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas



Islam adalah agama yang mudah dan sesuai dengan fitrah manusia. Islam adalah agama yang tidak sulit. Allah Azza wa Jalla menghendaki kemudahan kepada umat manusia dan tidak menghendaki kesusahan kepada mereka. Allah Allah Azza wa Jalla mengutus Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam sebagai rahmat.

"Artinya : Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” [Al-Anbiyaa’: 107]

Allah menurunkan Al-Qur'an untuk membimbing manusia kepada kemudahan, keselamatan, kebahagiaan dan tidak membuat manusia celaka, sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla.

"Artinya : “Kami tidak menurunkan Al-Qur'an ini kepadamu (Muhammad) agar engkau menjadi susah; melainkan sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah), diturunkan dari (Allah) yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi.” [Thaahaa: 2-4]

Sebagai contoh tentang kemudahan Islam:

Senin, Juli 25, 2011

Golden Time for Gold : Karakteristik Investasi Emas Anda


Oleh : Ahmad Ghozali
Kapan saat terbaik (golden time) untuk membeli emas? Pertanyaan ini seringkali diajukan ketika saya menyampaikan kondisi terkini dari harga emas. Tapi lucunya, saat harga naik banyak yang tidak membeli dengan alasan khawatir harganya sudah terlalu mahal. Dan saat harga sedang turun, banyak juga yang tidak mau membeli dengan alasan karena khawatir harganya akan terus turun.



Untuk mereka yang beralasan seperti itu, saya rasa memang bukan masalah harga, tapi memang belum siap untuk menginvestasikan dananya dalam bentuk emas. Belum siap dalam arti belum siap menerima risiko, atau memang belum ada rencana pembelian emas dalam rencana keuangannya.



Tapi bagaimana jika memang sudah memiliki dana untuk membeli emas, hanya saja masih ragu dengan harga yang terus berubah hampir setiap hari? Kapankah saat yang tepat untuk membeli emas?

Jumat, Juli 22, 2011

Kegagalan Euro, Kegagalan Uang Kertas...


Ketika 18 tahun lalu sebagian besar negara-negara anggota Uni Eropa menyepakati Perjanjian Maastricht untuk menggunakan mata uang tunggal Euro, dunia ikut antusias menyambutnya. Saat itu seolah ada harapan akan lahirnya mata uang baru yang bisa digunakan sebagai reserve currency, dan mengurangi ketergantungan dunia terhadap US Dollar. Untuk beberapa tahun di usia awalnya memang Euro berkinerja menarik, daya belinya menguat sampai usianya yang ketujuh. Namun ternyata sama seperti mata uang kertas lainnya, Euro nampaknya tidak akan mampu bertahan sampai usia lanjut.
Sejak menginjak usia ke delapan sampai kini di usia yang kedelapan belas, Euro terus kehilangan daya belinya. Terhadap emas daya beli Euro sekarang hanya kurang dari 1/3 dibandingkan dengan daya belinya ketika lahir 18 tahun lalu. Ilustrasi grafik dibawah menggambarkan situasi ini. Dibandingkan dengan US$ memang Euro masih relatif baik, tetapi ini karena US$-nya yang berkinerja sangat buruk beberapa tahun terakhir. Kinerja yang sesungguhnya dapat dilihat pada daya belinya terhadap emas yang terus merosot.
Kegagalan EuroKegagalan Euro
Kegagalan Euro ini menambah panjang daftar pelajaran bagi kita – bahwa tidak satu-pun mata uang kertas yang mampu mempertahankan daya belinya dalam jangka menengah apalagi dalam jangka panjang. Bila Euro saja yang dilahirkan di jaman modern dengan dukungan sejumlah besar negara-negara di zona ekonomi paling maju di dunia – tidak mampu mempertahankan eksistensinya dalam jangka panjang, lantas apakah kita bisa yakin bahwa mata uang yang kekuatannya hanya mengandalkan ekonomi satu negara yang biasa-biasa saja – akan mampu bertahan ?. Inilah yang perlu kita antisipasi, agar kita tidak menjadi korban kegagalan mata uang kertas yang setidaknya sudah dua kali terjadi di negeri ini yaitu tahun 1965/1966 ketika terpaksa diberlakukan sanering Rupiah, dan 1997/1998 ketika daya beli uang kita turun tinggal ¼-nya.

Lantas apa yang bisa kita lakukan untuk dapat menghindari dampak buruk dari penurunan daya beli uang kertas (apapun namanya) ini ?.

Rabu, Juli 13, 2011

Bermimpi Mengatur Negeri, Agar Negeri Tidak (Jadi) Bangkrut


Membaca berita di harian Republika dua hari ini (04-05/07/11) dengan judul “Belanja Pegawai Dorong Kebangkrutan” dan “Belanja PNS Tak Terkontrol” membuat saya miris melihat angka-angka yang disajikannya. Betapa tidak, belanja pegawai di APBN kita telah naik dua kalinya selama empat tahun terakhir, sementara pertumbuhan APBN-nya sendiri sangat jauh dibawah pertumbuhan biaya pegawai yang mencapai rata-rata di kisaran 19% per tahun ini. Pertanyaannya adalah dengan belanja yang begitu besar tersebut apakah kesejahteraan pegawai negeri selama empat tahun terakhir melonjak dua kalinya ?. Bagaimana dengan kesejahteraan rakyatnya ?.
Belanja pegawai yang naik 2 kalinya tersebut ternyata sangat dekat dengan teori peluruhan daya beli mata uang kertas yang saya tulis lebih dari setahun lalu. Artinya kenaikan belanja pegawai yang lebih dari 3 kali pertumbuhan ekonomi rata-rata ini sebenarnya kurang lebih hanya setara dengan apresiasi harga emas pada periode yang sama. Bila harga emas ini kita gunakan sebagai cerminan daya beli atau tingkat kemakmuran baku – maka selama empat tahun terakhir rata-rata pegawai negeri memiliki tingkat kemakmuran yang relatif tetap.
Membengkaknya Biaya PegawaiMembengkaknya Biaya Pegawai

Selasa, Juli 12, 2011

Malaikat itu ternyata............(Part I)


Suatu hari di ibukota yang panas menyengat, seorang lelaki tua –sebut saja Pak Joko- sedang berjalan di pinggir jalan dengan memanggul bungkusan di pundaknya. Ada bayangan rasa keletihan dari raut muka Joko yang sedang berjuang mencari sesuap nasi di kerasnya ibukota. Tapi rasa letih itu ia kesampingkan sejenak sampai dia tiba di daerah pinggiran pasar yang ramai dan penuh sesak. Ketika ia telah berdiri di sebuah warung makan kecil yang ada di sudut pasar, seketika rasa laparnya muncul. Sedetik kemudian ia pun telah duduk di pinggir warung tersebut untuk beristirahat sejenak. Dalam pikirannya ia sebenarnya ingin makan di warung itu, tapi apa daya hari itu ia belum mendapatkan sepeser rupiah pun dari pekerjaannya sebagai pengumpul plastik bekas.
                Tak berapa lama ia duduk datanglah seorang pemuda berambut gondrong yang akan memasan makanan di warung tersebut. Beberapa saat duduklah sang pemuda di samping Pak Joko. Sebelum Toni-nama sang pemuda gondrong tersebut- memesan makanan, terlibatlah kedua lelaki itu dalam suatu percakapan.
                “ Panas sekali ya Pak siang ini, biasanya jam-jam segini udah turun hujan lebat“, ujar Toni memulai percakapan.
                “ Iya nak, panas banget hari ini, serasa matahari dah di atas ubun-ubun ‘, timpal Pak Joko.
                “ Bapak darimana ? habis kerja berat ya, kok kelihatannya letih sekali Pak?” tanya Toni
                “ Ah…tidak nak…bapak cuma kebetulan lewat saja “, elak Pak Joko yang sebenarnya dalam hatinya dia memang merasa letih ditambah belum ada makanan sesuap pun yang masuk ke kerongkongannya.
                “ Bapak belum makan ya? Saya mau pesan makanan nih…gimana kalau Bapak saya pesankan juga ?” tawar si Toni.
                “ Ah…nggak usah nak…bapak masih kenyang kok….belum merasa lapar “, elak Pak Joko lagi.
                Melihat Pak Joko yang kelihatannya lapar dan letih, Toni merasa kasihan dan memikirkan suatu ide bagaimana caranya dia bisa membelikan makanan buat Pak Joko tanpa membuatnya merasa tersinggung. Sedetik kemudian Toni memesan 2 porsi nasi campur dan 2 gelas es the ke penjual makanan.

kelanjutannya tunggu saja ya...n kalo mw koment tentang cerita ini ato mw kelanjutannya kayak gimana ane dengan senang hati menerimanya
                

Minggu, Juli 03, 2011

Bagaimana Cara Memulai Wirausaha agar Sukses


Saat ini banyak orang terpikir untuk memulai usaha sendiri. Tak aneh memang, di saat lapangan kerja yang makin sulit, atau kalaupun telah bekerja namun penghasilan masih belum mencukupi kehidupan sehari-hari. Atau kalaupun sudah mencukupi, tapi waktu untuk keluarga justru tak ada. Maka, memulai usaha sendiri menjadi pilihan untuk mengubah kondisi itu.
Akan tetapi masih banyak juga yang tak kunjung mau ACTION memulai wirausaha. Mengapa? Konon, ada banyak hambatannya. Yang bila kita tanya pada orang yang belum memulainya, banyaknya hambatan tersebut bisa dari A sampai Z.
Ok… saya paham, tiap orang itu unik. Tiap orang punya kondisinya masing-masing yang tak bisa disamaratakan. Namun, secara umum, orang yang tak kunjung mencoba wirausaha, biasanya alasannya karena di bawah ini.
  1. Modal. Sering orang yang berniat memulai usaha, modal menjadi kambing hitam. Modal di sini diidentikkan dengan uang. Karena tak memiliki modal uang yang mencukupi, maka tak kunjung mulai usaha.
    Ya, saya tahu modal uang itu penting. Tapi ada banyak modal lain yang saya kira juga tak kalah penting seperti jaringan atau bahkan diri anda sendiri. Kejujuran, ketekunan dan sikap pantang menyerah yang anda miliki adalah modal besar untuk sukses berwirausaha.
    Banyak cerita juga bagaimana banyak wirausahawan sukses lahir bukan karena berlimpah-ruahnya modal uang, tapi modal sosial atau modal yang ada dalam dirinya.
    Kalau yang mau memulai usaha online, bisa dicoba bisnis afiliasi, seperti afiliasi Mr Action Club dan Aset Virtual contohnya. Ini usaha yang tanpa modal uang. Tinggal promosi dan hasilkan komisi.
  2. Tak tahu bagaimana cara memulai usaha. Anda tak tahu bagaimana cara memulainya, sehingga tak kunjung mulai usaha. Kalau yang ini, mau tak mau anda harus belajar.
    Belajar tak harus seperti orang yang sekolah datang ke ruang kelas, tapi anda bisa diskusi atau ngobrol dengan orang yang telah mulai usaha. Anda serap ilmunya dan tinggal praktekkan.
Dan mungkin banyak lagi hambatan lainnya…
Tapi semua itu, menurut saya, akar masalahnya  terletak pada mindset. Bagi yang belum terbentuk mindset bisnisnya, mungkin terasa tak mudah untuk memulainya.
Kalau yang sebelumnya sudah punya penghasilan tetap, tiba-tiba terbayang harus beralih ke kondisi yang tak pasti. Tak jelas berapa penghasilan yang diperoleh bulan depan, belum jelas bagaimana usaha yang akan dicobanya nanti, dst.
Ketakutan dan kekhawatiran semacam itu mampu menahan mereka untuk tidak kunjung ACTION memulai usaha sendiri.
So, bagaimana?
Asah mindset bisnis anda. Bergaul dengan orang-orang yang berwirausaha bisa membantu mengasah mindset bisnis anda. Bukan saja anda belajar cara teknisnya, tapi juga belajar dari suka-duka yang mereka lalui sebagai wirausahawan.
Langkah lain yang “relatif aman” adalah dengan memulainya sebagai bisnis sampingan. Tanpa melepaskan pekerjaan saat ini, sambil mulai mencoba buka usaha sendiri. Dengan demikian, diharapkan mindset bisnis perlahan semakin teruji.
Sebab wirausaha itu butuh praktek, butuh ACTION!
Kalau anda belum juga mulai usaha, ada baiknya anda lihat ke dalam diri anda sendiri. Ada apakah dengan diri anda?
Menurut saya, seorang wirausahawan itu punya ciri atau karakter yang terangkum dalam kata ACTION.

A = ACTION

Action atau tindakan adalah karakter wirausaha. Menjadi wirausaha berarti mau mengambil inisiatif, mau melakukan ACTION, mau mengambil tindakan untuk mengambil peluang yang ada. Wirausahawan bukan sosok yang mudah berdiam diri. Mereka mengutamakan tindakan dalam kesehariannya.

C= CREATIVE

Wirausahawan itu sosok kreatif. Mereka mampu menciptakan/mengembangkan sesuatu yang mungkin sebelumnya dianggap biasa atau bahkan mustahil oleh banyak orang. Kreativitas tersebut membuatnya berhasil membuat nilai tambah dalam apapun yang digelutinya. Masalah mampu diubahnya menjadi peluang.
Mereka juga kreatif untuk menghadapi tantangan usaha yang dihadapi. Tantangan yang kian besar justru memompa semangatnya untuk lebih kreatif dalam menghadapi tantangan usaha.

T= TRUST

Wirausahawan memegang trust sebagai prinsip hidupnya. Dalam pengertian ke luar diri, trust berarti tekad untuk memegang kepercayaan konsumen. Mereka sadar, kepercayaan adalah modal utama dalam bisnis.
Ke dalam diri, trust berarti percaya pada dirinya, pada apa yang di-ACTION-kannya. Wirausahawan punya rasa percaya diri untuk melakukan ACTION.

I = INDEPENDENT

Independent atau kemandirian menjadi jiwa wirausahawan. Mereka ingin bebas, ingin mengatur hidupnya sesuai yang dia mau. Wirausaha mandiri ingin bekerja untuk dirinya sendiri. Mereka mau mewujudkan impian-impiannya lewat usaha mandirinya itu.
Kemandirian tersebut juga membuatnya sadar akan resiko yang mungkin terjadi, dan dia siap menanggungnya sebab telah memilih jalan wirausaha.

O= OPPORTUNITY

Opportunity atau kejelian melihat peluang/kesempatan adalah ciri wirausahawan. Dimana-mana dia temukan ide ide bisnis yang bisa menjadi peluang bisnis baru.
Kejeliannya melihat peluang tersebut bukan saja menghasilkan uang bagi dirinya sendiri, tapi banyak orang lainnya.

N = NO QUIT

Wirausahawan sejati tak pernah menyerah. Mereka tak pernah berhenti ACTION. Kegagalan tak pernah dianggapnya sebagai kegagalan. Setiap kali jatuh, dengan cepat mereka bangkit dan ACTION lagi. Mereka percaya kesuksesan itu pasti akan datang.
Kesuksesan itu tak datang tiba-tiba. Tapi melalui proses penuh keringat. Dan semuanya itu akan terbayar lunas saat menjadi wirausaha sukses.
Sempat beberapa waktu lalu dalam diskusi dengan Pak Imanuel Ginting dalam komentar di postingan Siapkah Menghasilkan Uang dari Internet secara Full Time?saya katakan…
“Saat melihat seseorang yang sudah sukses, pelajari juga proses jatuh bangunnya. Sebab itu akan mengasah mental entrepreneur kita.”
Mari ACTION! Jangan tunda lagi. Setiap detik yang ditunda untuk memulai sesuatu, berarti anda sendiri yang menundanya untuk lekas terwujud.
Salam ACTION!

Senin, Juni 20, 2011

Ayo Kuasai Perdagangan, Agar Kita Tidak Meninggalkan Anak-Anak Yang Lemah...


Dalam sejarah panjang umat Islam yang umurnya lebih dari 14 abad, tidak banyak yang menyadari bahwa kita yang di belahan bumi Nusantara ini pernah menjadi titik yang ikut melemahkan kekuatan ekonomi umat Islam di muka bumi. Kapan itu terjadi ?, yaitu ketika negeri ini dijajah selama 350 tahun oleh Belanda, yang kemudian menguasai sumber daya dan mengeruk hasilnya dari bumi Nusantara ini. Dengan ketidak mampuan kita mempertahankan kedaulatan kita saat itu, bukan hanya penduduk negeri ini saja yang dikalahkan – tetapi sejatinya seluruh kekuatan umat ikut dilemahkan.
Pelemahan kekuatan ekonomi kekhalifahan yang antara lain di trigger oleh pendudukan penjajah Belanda atas bumi Nusantara ini dapat saya kutipkan dari bukunya Bernard Lewis yang berjudul “What Went Wrong?: The Clash Between Islam and Modernity in the Middle East” sbb :
“Dalam periode yang sangat panjang, kopi dan gula diimpor ke Eropa dari atau melalui Timur Tengah. Tetapi kemudian kekuatan kolonial (Eropa) menemukan jalan untuk menanam kopi dan gula (tebu) seluas-luasnya dengan cara yang murah di negeri—negeri jajahan mereka. Mereka melakukan ini dengan seluruh kekuatan sehingga mereka sukses, sampai mereka mampu mengekspor kopi dan gula ke wilayah Kekhalifahan Turki Ustmani. Di akhir abad 18 bila seorang Turki atau seorang Arab menikmati kebiasaan tradisionalnya – meneguk secangkir kopi manis – sangat besar kemungkinannya bahwa kopinya dari Jawa yang diduduki Belanda atau Amerika Latin yang diduduki Spanyol, sedangkan gulanya dari dari West Indies yang diduduki Inggris atau Perancis, hanya air panasnya saja yang lokal (Turki atau Arab)”.
Jadi ketika kita lemah sejatinya bukan hanya kita saja yang lemah, tetapi seluruh umat ini ikut lemah. Dalam contoh diatas, ketika kita bisa dijajah oleh Belanda dan mereka mengeruk hasil bumi (kopi) yang murah dari Nusantara ini – ternyata kopi tersebut bukan hanya mereka nikmati di negaranya sendiri – tetapi di ekspor ke negeri kekhalifahan dan melemahkan kekekuatan ekonomi negeri-negeri tujuan ekspor tersebut.
Maka di dalam Al-Qur’an-pun kita diingatkan untuk tidak meninggalkan keturunan yang lemah “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” ( QS 3 : 9).
Gejala-gejala melemahnya generasi kita dan anak – anak kita di jaman ini sesungguhnya juga begitu gamblang. Munculnya orang mati karena kelaparan, 80 % penduduk negeri ini berpenghasilan kurang dari 20 % nishab zakat, dan berbagai indikator lain yang akan mudah kita pahami bila kita mampu dan mau merangkai informasi ‘connecting the dots’ dan mengambil pelajaran dari situasi yang tidak menyenangkan ini.
Data lain yang saya peroleh yang sangat menyedihkan adalah data FAO (Food and Agriculture Organization) yang keluar tahun lalu yang tersaji dalam grafik di bawah. Daerah yang berwarna gelap adalah daerah yang mengkonsumsi daging tinggi, semakin terang semakin sedikit konsumsi daging-nya. Anda bisa lihat warna untuk negeri kita ? sangat terang !. Bila rata-rata penduduk di dunia mengkonsumsi daging 46.6 kg per tahun, kita hanya mengkonsumsi 11.14 kg per tahun.
Meat Consumption by CountryMeat Consumption by Country

Dalam hal konsumsi daging ini, kita berada di nomor urut 156 dari 177 negara yang datanya ada di FAO. Jauh dibawah tetangga kita sendiri seperti Brunei yng di no urut 52 (65 kg), Malaysia no urut 75 (48.99 kg) dan bahkan Timor Leste yang berada di no urut 107 (31.37 kg). Apakah ini karena negara kita besar sekali jumlah penduduknya sehingga rata-ratanya menjadi rendah ?, tidak juga !, China yang jumlah penduduknya lebih dari 5 kali jumlah penduduk kita – mereka berada di nomor urut 68 dengan konsumsi daging 53.45 kg per kapita per tahun !.
Dari konsumsi daging yang begitu rendah inilah yang antara lain berakibat langsung pada penurunan tinggi badan dari anak-anak yang lahir di negeri ini. Yang perlu kita juga sangat khawatirkan adalah konsumsi protein yang sejalan dengan konsumsi daging tersebut diatas – yaitu dibawah rata-rata dunia seperti dalam grafik dibawah. Kita perlu kawatir karena kurangnya konsumsi protein bisa berakibat pada penurunan kecerdasan anak-anak negeri ini.
Protein Intake Protein Intake

Mengapa kita perlu tahu informasi-informasi seperti ini ?, bukan untuk mengeluh atau menyalahkan siapapun di negeri ini. Dengan informasi yang kita rangkai ini, kita berharap bisa berbuat sesuatu untuk memperbaiki keadaan. Tidak penting besar kecilnya upaya yang bisa kita lakukan, tetapi bila banyak-banyak penduduk negeri ini berniat dan mulai berbuat sesuatu untuk menolong diri kita, anak-anak kita dan umat secara keseluruhan, mudah-mudahan ini bisa mengundang pertolongan Allah yang tiada batas kekuasaanNya.
Apa konkritnya yang bisa kita lakukan ?. Anda bisa mulai dari apa yang Anda punya ilmunya, punya pengalaman atau ketrampilannya. Yang jelas di negeri tropis ini tidak terhitung jenis hewan yang dagingnya halal untuk dimakan – yang mudah dibudi-dayakan. Dari ayam, itik, kambing, domba, sampai kerbau dan sapi semuanya bisa hidup baik di negeri ini. Apakah susah untuk menumbuh kembangkan hewan-hewan ini agar dagingnya tersedia cukup dengan harga yang terjangkau untuk anak cucu kita ?. Insyaallah tidak sesulit merancang pesawat terbang atau pembangkit listrik tenaga nuklir – yang katanya-pun mampu dilakukan pemuda-pemudi terbaik negeri ini.
Ilmunya jelas ada karena begitu banyak lulusan peternakan dan kedokteran hewan dari S1, S2 dan S3 di Indonesia. Sumber daya alam-nya juga begitu mendukung, lantas mengapa sampai kita menjadi bangsa yang kurang mampu dalam hal konsumsi daging dan protein ini ?. Yang belum cukup mungkin adalah para pedagang dan pengusaha yang bukan hanya mengejar keuntungan sesaat, tetapi pedagang dan pengusaha yang menyadari kedudukan strategisnya dalam membangun kekuatan umat dalam jangka panjang.
Yang juga masih kita perlukan lagi adalah kepemimpinan yang bervisi, yang mampu merangkai informasi dan menentukan arah perjalanan bangsa secara confident, memprioritaskan kepentingan yang luas yaitu fokus pada memakmurkan umat atau rakyatnya.
Dan bagi kita kebanyakan rakyat biasa - bukan pemimpin negeri dan belum menjadi pedagang atau pengusaha , waktunya berhenti untuk mengeluh dan mencerca polah tingkah pemimpin dan wakil rakyat kita yang sibuk dengan urusan kelompoknya masing-masing, waktunya untuk berbuat apa yang kita bisa. Untuk memotivasi diri kita ini, ada buku bagus yang terbit sekitar 7 tahun lalu yang di tulis oleh Muhammad Ali Haji Hasyim dengan judul “Bisnis Satu Cabang Jihad” (Pustaka Al-Kautsar, 2003).Buku ini banyak memberi contoh amal-amal shalih yang bisa kita lakukan yang bernilai jihad, yaitu mulai ber-bisnis. Argumennya jelas dan sangat masuk akal, bahwa jihad dalam pengertian perang-pun selalu membutuhkan jiwa dan harta – dari mana harta ini di peroleh secara halal ?, ya dari perdagagangan atau bisnis yang halal.
Perlunya harta untuk memenangkan pertempuran dan mempertahankan kejayaan umat ini menjadi jelas kaitannya manakala kita melihat sejarah bangsa ini yang ditaklukkan penjajah awalnya melalui perdagangan, dan bagaimana hanya gara-gara perkebunan dan perdagangan kopi kita dikuasai penjajah – bukan hanya kita yang kalah, tetapi kita juga telah ikut melemahkan kekuatan ekonomi Kekhalifahan Turki Ustmani di awal tulisan ini – yang akhirnya juga berujung pada keruntuhannya.
Dengan usaha insyaAllah kita bisa menyiapkan generasi yang makan daging dan protein secara cukup, kemudian dengan pendidikan yang baik dari para ustadz dan para pendidik – insyaallah generasi anak-anak kita akan menjadi generasi unggulan, yang menjadi titik kekuatan umat di masa depan bukan menjadi titik lemah seperti yang terjadi sejak Belanda menjajah negeri ini sekian ratus tahun lalu. InsyaAllah !.

Kamis, Juni 16, 2011

Memakmurkan Rakyat Dengan Pasar, Bukan Dengan Mencetak Uang Banyak-Banyak


Ini adalah cerita nyata dari negeri yang mengaku dirinya sebagai negeri adi kuasa. Al kisah hampir tiga tahun lalu negeri itu menjadi pemicu krisis keuangan global, yang dampaknya nyaris merambah ke seluruh dunia. Karena mereka mengira bahwa supply uang-lah yang bisa mengatasi krisis tersebut, maka banyak-banyak uang Dollar dicetak. Sejak krisis memuncak September 2008 hingga kini, konon bank sentral-nya negeri itu – Federal Reserve – telah ‘mencetak uang’ dari awang-awang sebanyak US$ 1.6 trilyun. Teratasikah krisis mereka dengan injeksi uang yang luar biasa banyaknya tersebut ?. Ternyata tidak...!.
Data resmi inflasi yang dikeluarkan pemerintah negeri itu setahun terakhir memang hanya 3.2 % (data per April 2011), tetapi banyak pihak di negeri itu sendiri yang meragukan kebenarannya – diantaranya adalah Shadow Government Statistics yang meng-klaim inflasi sesungguhnya bisa lebih dari dua kalinya.
Menurut saya sendiri pengukuran inflasi yang paling akurat adalah dengan menggunakan indikator harga emas – karena adanya bukti yang sahih bahwa daya beli emas ( yang direpresentasikan oleh Dinar) adalah stabil sejak jaman Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam – yaitu satu Dinar untuk satu ekor kambing kelas baik.
Dengan menggunakan indikator kenaikan harga emas, kita tahu bahwa sejak krisis memuncak September 2008 dan pemerintah negeri itu mulai mencetak uang dengan skala besar, harga emas telah melonjak lebih dari dua kalinya dari kisaran US$ 750/Oz ke angka diatas US$ 1,500/Oz hari-hari ini.
Apa ini artinya ?, bila Anda hidup di negeri tersebut dengan uang Dollar-nya dan penghasilan Anda dalam Dollar tidak bisa naik dua kalinya atau lebih selama tiga tahun terakhir – maka Anda akan merasakan penurunan kemakmuran. Bentuknya adalah barang-barang kebutuhan Anda menjadi lebih berat untuk Anda beli.
Pemerintah negeri itu yang menggunakan teori Keynesian – yaitu teorinya John Maynard Keynes (1936) bahwa negaralah yang paling efektif dalam mempengaruhi siklus ekonomi – yang kemudian diaplikasikan dengan tindakan bank sentral mengendalikan jumlah uang dan kebijakan fiskal pemerintah – ternyata gagal dalam mengatasi krisis, yang berarti juga gagal dalam mempertahankan kemakmuran rakyatnya.
Di dunia barat sendiri sebenarnya pendekatan Keynesian ini tidak sedikit yang menentangnya. Adalah Frederich August Von Hayek – pemenang hadiah Nobel ekonomi tahun 1974 – yang juga pendukung teori Austrian, yang antara lain menjadi penentang utamanya.
Dalam bukunya yang kondang “Denationalisation of Money : The Argument Refined” (The Institute of Economic Affairs, London – 1990) , Hayek bahkan menuduh bahwa kebijakan moneter bank sentral lebih merupakan penyebab terjadinya depresi di suatu negara ketimbang menyembuhkannya. Lebih jauh dalam teori Austrian ini, pemerintah atau bank sentral tidak seharusnya ‘mencetak uang’ atau setidaknya tidak menjadi satu-satunya pihak yang mencetak uang.
Uang bisa saja dikeluarkan oleh pihak manapun (termasuk swasta) – yang akan digunakan dan dipercayai masyarakat sejauh daya belinya bisa dijaga konstant terhadap sekumpulan barang-barang yang dibutuhkan di masyarakat tersebut. Sebaliknya juga demikian, uang yang dikeluarkan oleh bank sentral atau oleh pemerintah sekalipun – bila daya belinya tidak bisa dijaga – maka dengan sendirinya akan ditinggalkan masyarakat. Pendapat ini juga diamini oleh penulis kondang yang dianggap ‘dewa’-nya ekonom futuristis barat – yang konon prediksi ekonominya terbukti benar dalam dua dasawarsa terakhir – John Naisbitt dalam bukunya Mind Set ! (2006).
Masih segar diingatan kita peristiwa krisis moneter 1997/1998 di Indonesia, ketika warga negeri ini yang kaya rame-rame memindahkan uangnya dari Rupiah ke Dollar atau mata uang asing lainnya karena Rupiah yang daya belinya anjlog tinggal ¼-nya selama krisis kala itu. Hal yang sama terjadi di negeri-negeri ekonomi kuat dunia saat ini yang mulai meninggalkan Dollar atau setidaknya mengurangi ketergantungannya terhadap Dollar – karena meskipun Dollar adalah uang resmi yang dikeluarkan oleh otoritas yang berwenang dari negeri adi kuasa – kenyataan menunjukkan bahwa daya belinya terus merosot.
Ketika masyarakat kehilangan kepercayaan terhadap uang resmi yang dikeluarkan oleh pemerintah, apa yang mereka lakukan ?. Selain menukarnya dengan mata uang lain , masyarakat juga ‘mengaman’-kan uangnya dalam bentuk benda-benda riil seperri rumah, mobil, sawah, kebon dan lain sebagainya.
Tetapi rumah, mobil dan sejenisnya bukanlah komoditi yang mudah dipertukarkan, maka dia tidak menjadi uang yang sesungguhnya. Uang yang sesungguhnya adalah komoditi yang liquid – mudah dipertukarkan dan nilainya terbentuk oleh mekanisme pasar sempurna – tidak diintervensi oleh siapapun.
Maka dalam Islam, referensi yang sahih untuk uang adalah hadits riwayat Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, Nasa’i, dan Ibn Majah, dengan teks Muslim dari ‘Ubadah bin Shamit, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “(Juallah) emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, sya’ir dengan sya’ir, kurma dengan kurma, dan garam dengan garam (denga syarat harus) sama dan sejenis serta secara tunai. Jika jenisnya berbeda, juallah sekehendakmu jika dilakukan secara tunai”.
Pertanyaan berikutnya adalah dimana barang-barang tersebut dengan mudah dipertukarkan atau diperjual belikan ?. Ya tentunya di pasar !. Maka mungkin inilah pelajarannya, mengapa Rasulullah SAW mendirikan pasar sedari dini terbentuknya negara Madinah– karena melalui pasar-pasar inilah umat atau rakyat saling memenuhi kebutuhan hidupnya – saling memakmurkan.
Pelajaran berharga ini hendaknya yang perlu menjadi prioritas para pemimpin yang ingin memakmurkan rakyatnya, tidak perlu terlalu banyak meributkan ‘pencetakan’ uang – tetapi kerja keraslah untuk memutar barang di pasar-pasar ! – Insyaallah rakyat akan bisa lebih cepat makmur. Wa Allahu A’lam.

Kamis, Juni 09, 2011

Setelah Kelantan dan Utah, Bagaimana Dengan Kita...?



Entah siapa yang lebih pinter dan lebih berpikiran maju di era tidak berdayanya mata uang kertas dalam menghadapi krisis financial global yang masih segar di ingatan kita, tetapi ada tiga peristiwa penting yang bisa jadi pelajaran kita yang terjadi dalam setahun terakhir ini dalam hal mata uang dunia. Di Indonesia pekan lalu tanggal 24 Mei 2011, di Komisi XI DPR RI seluruh fraksi menyetujui RUU Mata Uang untuk selanjutnya dibawa ke rapat Paripurna untuk mendapatkan pengesahan. Di Amerika Serikat, salah satu negara bagiannya yaitu Utah dua bulan sebelumnya tepatnya tanggal 25 Maret 2011 – Gubernur negara bagian itu secara resmi menanda tangani apa yang disebut Utah Legal Tender Act, yang intinya mengakui koin emas dan perak sebagai salah satu uang resmi yang bisa di gunakan di negara bagian itu.
Utah sebenarnya bukan negara bagian yang pertama yang secara resmi mengakui koin emas dan perak sebagai uangnya, di negeri tetangga kita negara bagian Kelantan - Malaysia sudah mendahuluinya hampir satu tahun lalu untuk secara resmi menggunakan koin emas Dinar dan koin perak Dirham sebagai uang di negara bagiannya.
Yang bisa menjadi pelajaran menarik adalah alasan di belakang kerja keras melawan arus yang dilakukan oleh para legislator yang berhasil meng-goal-kan koin emas dan perak tersebut sebagai uang resminya. Mengapa mereka sampai mau bersusah payah ‘melawan’ negara federal yang hanya mengakui uang kertas-nya sebagai uang resmi dengan meng-goal-kan koin emas dan perak juga sebagai uang resmi ?.
Di Kelantan selain mereka tahu keperkasaan daya beli Dinar dan Dirham, upaya menggunakannya kini tidak terlepas dari upaya untuk menegakkan syariat – maka Dinar dan Dirham di negeri itu disebut sebagai Matawang Syariah. Mereka juga melakukan berbagai upaya untuk memasyarakatkan Matawang Syariah ini, selain untuk membayar sebagain gaji pegawai – mereka juga menjadikannya sebagai identitas tersendiri. Bahkan di bandara udara sebagai pintu masuk Kelantan orang akan disambut dengan tulisan “Negara Dinar dan dirham”.
Utah tentu saja tidak concern dengan syariat, tetapi juga membutuhkan uang dari emas dan perak ini karena mereka yakin bahwa Dollar-pun seharusnya di backed –up dengan emas atau perak. Krisis financial tiga tahun terakhir yang hingga kini belum sembuh benar, telah membuat masyarakat yang cerdas negeri bagian itu mengkawatirkan kebijakan-kebijakan Obama yang akan bisa membuat uang Dollar mereka collapse. Kekawatiran ini tentu saja amat sangat beralasan karena sebelum gejala krisis muncul awal 2007, untuk membeli 1 Oz emas hanya dibutuhkan uang kertas US$ 600-an dan kini hanya dalam waktu kurang lebih 4 tahun kemudian, untuk membeli 1 Oz emas yang sama dibutuhkan lebih kurang dua setengah kalinya yaitu US$ 1,500-an.
Di belahan dunia lain di negeri ini, para legislator kita yang saya yakin betul bahwa lebih banyaknya Muslim sehingga mereka tentunya paham bahwa nishab zakat ditimbang dengan Dinar atau Dirham dan bukan Rupiah, nishab pencuri dan uang diyat dlsb juga ditimbang dengan Dinar atau Dirham, tidakkah mereka ingin mengikuti legislator Kelantan yang menjadi facilitator bagi rakyat/umatnya untuk dapat melaksanakan syariat dengan lebih akurat ?.
Saya agak yakin pula bahwa mereka mestinya juga paham dengan apa yang terjadi dengan daya beli uang kertas dalam dua dasawarsa terakhir – lebih-lebih para legislator ini pastinya sudah memasuki usia dewasa ketika uang kertas kita nyaris lumpuh dan daya belinya anjlog tinggal seperempatnya pada krisis 1997/1998. Melalui kehancuran mata uang kertas ini pula, sejumlah besar asset terbaik negeri ini berpindah tangan – mulai dari BUMN Telekomunikasi, perbankan sampai sejumlah industri kini berada ditangan asing – karena murahnya mereka membeli setelah Rupiah hancur pasca krisis 1997/1998 tersebut. Tidak-kah mereka tergerak untuk membangun ketahanan ekonomi berdasarkan uang yang kuat, yang daya belinya tidak bisa dipermainkan oleh para spekulan, yang daya belinya terbukti stabil lebih dari 1,400 tahun ?.
Tetapi sekali lagi kita tidak bisa hanya berandai-andai dan berharap pada manusia, kita bisa berbuat dengan apa yang kita bisa, mulai dari yang kita tahu – insyaAllah Allah akan membimbing kita dengan apa yang kita belum tahu. Hanya kepada Allah-lah kita berharap dan memohon pertolonganNya...Amin.