Untuk yang gak mau pulang ada surat nih....
Surat dari Ibu
Anakku…
Ini surat dari ibu yang tersayat hatinya. Linangan air mata bertetesan deras menyertai tersusunnya tulisan ini. Aku lihat engkau lelaki yang gagah lagi matang. Bacalah surat ini. Dan kau boleh merobek-robeknya setelah itu, seperti saat engkau meremukkan kalbuku sebelumnya.
Sejak dokter mengabari tentang kehamilan, aku berbahagia. Ibu-ibu sangat memahami makna ini dengan baik. Awal kegembiraan dan sekaligus perubahan psikis dan fisik. Sembilan bulan aku mengandungmu. Seluruh aktivitas aku jalani dengan susah payah karena kandunganku. Meski begitu, tidak mengurangi kebahagiaanku. Kesengsaraan yang tiada hentinya, bahkan kematian kulihat didepan mataku saat aku melahirkanmu. Jeritan tangismu meneteskan air mata kegembiraan kami.
Berikutnya, aku layaknya pelayan yang tidak pernah istirahat. Kepenatanku demi kesehatanmu. Kegelisahanku demi kebaikanmu. Harapanku hanya ingin melihat senyum sehatmu dan permintaanmu kepada Ibu untuk membuatkan sesuatu.
Masa remaja pun engkau masuki. Kejantananmu semakin terlihat, Aku pun berikhtiar untuk mencarikan gadis yang akan mendampingi hidupmu. Kemudian tibalah saat engkau menikah. Hatiku sedih atas kepergianmu, namun aku tetap bahagia lantaran engkau menempuh hidup baru.
Seiring perjalanan waktu, aku merasa engkau bukan anakku yang dulu. Hak diriku telah terlupakan. Sudah sekian lama aku tidak bersua, meski melalui telepon. Ibu tidak menuntut macam-macam. Sebulan sekali, jadikanlah ibumu ini sebagai persinggahan, meski hanya beberapa menit saja untuk melihat anakku.
Ibu sekarang sudah sangat lemah. Punggung sudah membungkuk, gemetar sering melecut tubuh dan berbagai penyakit tak bosan-bosan singgah kepadaku. Ibu semakin susah melakukan gerakan.
Anakku…
Seandainya ada yang berbuat baik kepadamu, niscaya Ibu akan berterima kasih kepadanya. Sementara Ibu telah sekian lama berbuat baik kepada dirimu. Manakah balasan dan terima kasihmu pada Ibu ? Apakah engkau sudah kehabisan rasa kasihmu pada Ibu? Ibu bertanya-tanya, dosa apa yang menyebabkan dirimu enggan melihat dan mengunjungi Ibu ? Baiklah, anggap Ibu sebagai pembantu, mana upah Ibu selama ini ?
Anakku...
Ibu hanya ingin melihatmu saja. Lain tidak. Kapan hatimu memelas dan luluh untuk wanita tua yang sudah lemah ini dan dirundung kerinduan, sekaligus duka dan kesedihan ? Ibu tidak tega untuk mengadukan kondisi ini kepada Dzat yang di atas sana. Ibu juga tidak akan menularkan kepedihan ini kepada orang lain. Sebab, ini akan menyeretmu kepada kedurhakaan. Musibah dan hukuman pun akan menimpamu di dunia ini sebelum di akhirat. Ibu tidak akan sampai hati melakukannya,
Anakku…
Walaupun bagaimanapun engkau masih buah hatiku, bunga kehidupan dan cahaya diriku…
Anakku…
Perjalanan tahun akan menumbuhkan uban di kepalamu. Dan balasan berasal dari jenis amalan yang dikerjakan. Ibu harapkan nantinya, engkau akan menulis surat kepada keturunanmu tidak dengan linangan air mata seperti yang Ibu alami.
Rabu, Oktober 29, 2008
Selasa, Oktober 28, 2008
“Agama dapat menjadi petunjuk yang berhasil untuk pencarian ilmu pengetahuan. Dan agama Islam dapat mencapai sukses dalam hal ini. Tidak ada pertentangan antara ilmu genetika dan agama. Kenyataan di dalam al-Quran yang ditunjukkan oleh ilmu pengetahuan menjadi valid. AI-Quran yang berasal dari Allah mendukung ilmu pengetahuan.
- Prof. Dr. Joe Leigh Simpson
Ketua Jurusan Ilmu Kebidanan dan Ginekologi dan
Prof. Molecular dan Genetika Manusia,
Baylor College Medicine, Houston,
Amerika Serikat.
"Nabi Muhammad SAW sebagai buku ilmu pengetahuan dari Allah. "
- Prof. Marshall Johnson
Guru Besar ilmu Anatomi dan Perkembangan Biologi,
Universitas Thomas Jefferson,
Philadelphia, Pennsylvania,
Amerika Serikat.
“AI-Quran adalah sebuah kitab, petunjuk, kebenaran, bukti,” dan kebenaran yang abadi bagi kita sampai akhir zaman. "
- Prof. TVN Persaud
Ahli anatomi, ahli kesehatan anak-anak,
dan ahli ginekologi kebidanan dan ilmu reproduksi
di Universitas Manitoba, Winnipeg, Menitoba,
Kanada.
"Semua yang tertulis di dalam al-Quran pasti sebuah kebenaran, yang dapat dibuktikan dengan peralatan ilmiah. "
- Prof. Tejatat Tejasen
Ketua Jurusan Anatomi Universitas Thailand,
Chiang Mai
"...metode ilmiah modern sekarang membuktikan apa yang telah dikatakan Muhammad 1400 tahun yang lalu. AI-Quran adalah buku teks ilmu pengetahuan yang simpel dan sederhana untuk orang yang sederhana. "
- Prof. Alfred Kroner
Ketua Jurusan Geologi Institut Geosciences,
Universitas Johannnes Gutterburg, Maintz,
Jerman.
“AI-Quran adalah kitab yang menakjubkan yang menggambarkan masa lalu, sekarang, dan masa depan. "
- Prof. Palmer
Ahli Geologi ternama
Amerika Serikat.
"llmuwan itu sebenarnya hanya menegaskan apa yang telah tertulis di dalam al-Quran beberapa tahun yang lalu. Para ilmuwan sekarang hanya menemukan apa yang telah tersebut di dalam al-Quran sejak 1400 tahun yang lalu."
- Prof. Shroeder
Ilmuwan kelautan dari
Jerman
"Dengan membaca al-Quran, saya dapat menemukan jalan masa depan saya untuk investigasi alam semesta,"
- Prof. Yoshihide Kozai
Guru Besar Universitas Tokyo dan
Direktur The National Astronomical Observatory, Mikata, Tokyo,
Jepang
“Agama dapat menjadi petunjuk yang berhasil untuk pencarian ilmu pengetahuan. Dan agama Islam dapat mencapai sukses dalam hal ini. Tidak ada pertentangan antara ilmu genetika dan agama. Kenyataan di dalam al-Quran yang ditunjukkan oleh ilmu pengetahuan menjadi valid. AI-Quran yang berasal dari Allah mendukung ilmu pengetahuan.
- Prof. Dr. Joe Leigh Simpson
Ketua Jurusan Ilmu Kebidanan dan Ginekologi dan
Prof. Molecular dan Genetika Manusia,
Baylor College Medicine, Houston,
Amerika Serikat.
"Nabi Muhammad SAW sebagai buku ilmu pengetahuan dari Allah. "
- Prof. Marshall Johnson
Guru Besar ilmu Anatomi dan Perkembangan Biologi,
Universitas Thomas Jefferson,
Philadelphia, Pennsylvania,
Amerika Serikat.
“AI-Quran adalah sebuah kitab, petunjuk, kebenaran, bukti,” dan kebenaran yang abadi bagi kita sampai akhir zaman. "
- Prof. TVN Persaud
Ahli anatomi, ahli kesehatan anak-anak,
dan ahli ginekologi kebidanan dan ilmu reproduksi
di Universitas Manitoba, Winnipeg, Menitoba,
Kanada.
"Semua yang tertulis di dalam al-Quran pasti sebuah kebenaran, yang dapat dibuktikan dengan peralatan ilmiah. "
- Prof. Tejatat Tejasen
Ketua Jurusan Anatomi Universitas Thailand,
Chiang Mai
"...metode ilmiah modern sekarang membuktikan apa yang telah dikatakan Muhammad 1400 tahun yang lalu. AI-Quran adalah buku teks ilmu pengetahuan yang simpel dan sederhana untuk orang yang sederhana. "
- Prof. Alfred Kroner
Ketua Jurusan Geologi Institut Geosciences,
Universitas Johannnes Gutterburg, Maintz,
Jerman.
“AI-Quran adalah kitab yang menakjubkan yang menggambarkan masa lalu, sekarang, dan masa depan. "
- Prof. Palmer
Ahli Geologi ternama
Amerika Serikat.
"llmuwan itu sebenarnya hanya menegaskan apa yang telah tertulis di dalam al-Quran beberapa tahun yang lalu. Para ilmuwan sekarang hanya menemukan apa yang telah tersebut di dalam al-Quran sejak 1400 tahun yang lalu."
- Prof. Shroeder
Ilmuwan kelautan dari
Jerman
"Dengan membaca al-Quran, saya dapat menemukan jalan masa depan saya untuk investigasi alam semesta,"
- Prof. Yoshihide Kozai
Guru Besar Universitas Tokyo dan
Direktur The National Astronomical Observatory, Mikata, Tokyo,
Jepang
- Prof. Dr. Joe Leigh Simpson
Ketua Jurusan Ilmu Kebidanan dan Ginekologi dan
Prof. Molecular dan Genetika Manusia,
Baylor College Medicine, Houston,
Amerika Serikat.
"Nabi Muhammad SAW sebagai buku ilmu pengetahuan dari Allah. "
- Prof. Marshall Johnson
Guru Besar ilmu Anatomi dan Perkembangan Biologi,
Universitas Thomas Jefferson,
Philadelphia, Pennsylvania,
Amerika Serikat.
“AI-Quran adalah sebuah kitab, petunjuk, kebenaran, bukti,” dan kebenaran yang abadi bagi kita sampai akhir zaman. "
- Prof. TVN Persaud
Ahli anatomi, ahli kesehatan anak-anak,
dan ahli ginekologi kebidanan dan ilmu reproduksi
di Universitas Manitoba, Winnipeg, Menitoba,
Kanada.
"Semua yang tertulis di dalam al-Quran pasti sebuah kebenaran, yang dapat dibuktikan dengan peralatan ilmiah. "
- Prof. Tejatat Tejasen
Ketua Jurusan Anatomi Universitas Thailand,
Chiang Mai
"...metode ilmiah modern sekarang membuktikan apa yang telah dikatakan Muhammad 1400 tahun yang lalu. AI-Quran adalah buku teks ilmu pengetahuan yang simpel dan sederhana untuk orang yang sederhana. "
- Prof. Alfred Kroner
Ketua Jurusan Geologi Institut Geosciences,
Universitas Johannnes Gutterburg, Maintz,
Jerman.
“AI-Quran adalah kitab yang menakjubkan yang menggambarkan masa lalu, sekarang, dan masa depan. "
- Prof. Palmer
Ahli Geologi ternama
Amerika Serikat.
"llmuwan itu sebenarnya hanya menegaskan apa yang telah tertulis di dalam al-Quran beberapa tahun yang lalu. Para ilmuwan sekarang hanya menemukan apa yang telah tersebut di dalam al-Quran sejak 1400 tahun yang lalu."
- Prof. Shroeder
Ilmuwan kelautan dari
Jerman
"Dengan membaca al-Quran, saya dapat menemukan jalan masa depan saya untuk investigasi alam semesta,"
- Prof. Yoshihide Kozai
Guru Besar Universitas Tokyo dan
Direktur The National Astronomical Observatory, Mikata, Tokyo,
Jepang
“Agama dapat menjadi petunjuk yang berhasil untuk pencarian ilmu pengetahuan. Dan agama Islam dapat mencapai sukses dalam hal ini. Tidak ada pertentangan antara ilmu genetika dan agama. Kenyataan di dalam al-Quran yang ditunjukkan oleh ilmu pengetahuan menjadi valid. AI-Quran yang berasal dari Allah mendukung ilmu pengetahuan.
- Prof. Dr. Joe Leigh Simpson
Ketua Jurusan Ilmu Kebidanan dan Ginekologi dan
Prof. Molecular dan Genetika Manusia,
Baylor College Medicine, Houston,
Amerika Serikat.
"Nabi Muhammad SAW sebagai buku ilmu pengetahuan dari Allah. "
- Prof. Marshall Johnson
Guru Besar ilmu Anatomi dan Perkembangan Biologi,
Universitas Thomas Jefferson,
Philadelphia, Pennsylvania,
Amerika Serikat.
“AI-Quran adalah sebuah kitab, petunjuk, kebenaran, bukti,” dan kebenaran yang abadi bagi kita sampai akhir zaman. "
- Prof. TVN Persaud
Ahli anatomi, ahli kesehatan anak-anak,
dan ahli ginekologi kebidanan dan ilmu reproduksi
di Universitas Manitoba, Winnipeg, Menitoba,
Kanada.
"Semua yang tertulis di dalam al-Quran pasti sebuah kebenaran, yang dapat dibuktikan dengan peralatan ilmiah. "
- Prof. Tejatat Tejasen
Ketua Jurusan Anatomi Universitas Thailand,
Chiang Mai
"...metode ilmiah modern sekarang membuktikan apa yang telah dikatakan Muhammad 1400 tahun yang lalu. AI-Quran adalah buku teks ilmu pengetahuan yang simpel dan sederhana untuk orang yang sederhana. "
- Prof. Alfred Kroner
Ketua Jurusan Geologi Institut Geosciences,
Universitas Johannnes Gutterburg, Maintz,
Jerman.
“AI-Quran adalah kitab yang menakjubkan yang menggambarkan masa lalu, sekarang, dan masa depan. "
- Prof. Palmer
Ahli Geologi ternama
Amerika Serikat.
"llmuwan itu sebenarnya hanya menegaskan apa yang telah tertulis di dalam al-Quran beberapa tahun yang lalu. Para ilmuwan sekarang hanya menemukan apa yang telah tersebut di dalam al-Quran sejak 1400 tahun yang lalu."
- Prof. Shroeder
Ilmuwan kelautan dari
Jerman
"Dengan membaca al-Quran, saya dapat menemukan jalan masa depan saya untuk investigasi alam semesta,"
- Prof. Yoshihide Kozai
Guru Besar Universitas Tokyo dan
Direktur The National Astronomical Observatory, Mikata, Tokyo,
Jepang
Islam Peradaban Malik Bennabi
Kajian Siyasah/Khilafah Oleh : Redaksi 29 Jan 2004 - 6:00 pm
Malik Bennabi (1905-1973) dikenal sebagai sarjana Muslim kontemporer yang menekuni bidang filsafat sosial. Dia lahir di Tebessa, AlJazair. Menghabiskan masa hidupnya di antara Prancis, Kairo, dan Aljazair. Karya-karya Malik Bennabi mencapai 18 buku, ditulis dalam bahasa Prancis dan Arab dan semua karya beliau dalam bahasa Prancis telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab.
Di antara karya-karya terpenting beliau adalah al-Zahirah al-Qur'aniyyah (Fenomena al-Quran), 1961, Wijhah al-Alam al-Islami (Masa Depan Dunia Islam), 1959, Fikrah al-Ifriqiyyah al-Asiawiyyah (Pemikiran Asia Afrika), 1956, Musykilah al-Thaqafah (Problem Budaya), 1959, Syurut al-Nahdah (Syarat-syarat Kebangkitan), 1960, Milad Mujtama' (Kelahiran Masyarakat), 1962, Mudhakkirat Syahid li al-Qarn (Catatan Harian Seorang Saksi Sebuah Zaman), 1966, Musykilat al-Afkar (Problem Pemikiran), 1970, Fikrah Komonweth al-Islami (Pemikiran Persemakmuran Islam), 1971, dan al-Muslim fi Alam al-Iqtisad (Muslim dalam Dunia Ekonomi), 1972.
Manusia sebagai homo religiosus
Menurut Malik Bennabi fenomena beragama adalah fenomena universal yang selalu wujud, ia sudah wujud lama, sebagai karakteristik kehidupan manusia, dari manusia yang sangat primitif hingga manusia yang sudah memiliki peradaban yang tinggi.
Menurutnya, "setiap kali seseorang menyusup jauh ke dalam sejarah purbakala dan sejarah manusia, baik pada zaman kejayaan kebudayaannya, maupun pada tingkat-tingkat yang masih primitif evolusi sosialnya, dia akan mendapati peninggalan di dalamnya yang menunjuk kepada adanya ide mengenai keagamaan."
"Bagaimana pun bentuk upacara-upacara keagamaan itu, namun ternyata bahwa struktur bangunan, dari gua-gua tempat peribadatan pada zaman batu hingga pada zaman bangunan tempat-tempat peribadatan yang mega-megah, berjalan berdampingan dengan ide keagamaan yang menciptakan peraturan hidup dan yang melahirkan kebudayaan-kebudayaan manusia.
" "Di bawah naungan rumah-rumah peribadatan seperti rumah peribadatan Sulaiman atau Ka'bah munculah kebudayaan-kebudayaan itu untuk penyinaran alam kita ini." Kesimpulan Malik Bennabi senada dengan apa yang pernah diungkapkan oleh Plutarch (46-120 AD), seorang ahli filsafat dan etika Yunani, ketika mengatakan: "Kita dapat menjumpai kota-kota tanpa dinding, tanpa raja, tanpa peradaban, tanpa literatur, atau tanpa gedung theatre, tapi seseorang tidak pernah menjumpai sebuah kota tanpa tempat-tempat peribadatan atau penganut-penganut agama.
" Atau seperti juga apa yang dikatakan ahli filsafat Henri Bergson (1859-1941) bahwa: "kita jumpai di masa lampau dan sekarang masyarakat tanpa sains, tanpa seni, dan tanpa filsafat. Tapi kita tidak pernah menjumpai sebuah masyarakat tanpa agama." Menurut Malik Bennabi, totemisme, mitos, dan kepercayaan pada dewa-dewa tidak lain hanya merupakan pemecahan yang diilhami oleh problem, yang selalu sama, yang menghinggapi hati nurani manusia; setiap kali dia mendapati dirinya ditarik oleh teka-teki tentang segala sesuatu, serta tujuan terakhirnya.
Dengan mengakui ekspresi-ekspresi keagamaan yang berbeda-beda tersebut (seperti totemisme, politheisme, dan monotheisme), Malik Bennabi ingin membangun fenomena agama yang bersifat perenial sebagai karakteristik alami manusia, yang oleh karenanya manusia digambarkan sebagai homo religiosus (hewan beragama). Yang oleh karena itu, agama tidak hanya sebagai aktivitas spiritual dan mental psikik manusia.
Tetapi merupakan sebagai satu kecenderungan fundamental manusia dan fakta kosmik yang jauh berakar pada struktur alam. Ia tidak dapat direduksi kepada hanya sebagai satu kategori budaya yang didapati manusia sepanjang sejarah atau hanya sebagai keperluan manusia dalam fase primitif perkembangan sosiobudaya manusia seperti yang dikonsepsikan oleh Auguste Comte.
Tetapi sebagai fitrah universal yang tidak pernah luput dalam sejarah suatu bangsa baik dahulu maupun hari ini dan yang akan datang sekaligus merupakan "katalisator" setiap peradaban manusia.
Agama sebagai katalisator peradaban
Malik Bennabi merumuskan tiga faktor utama yang menentukan pembentukan sesuatu peradaban, yaitu; manusia, tanah, dan masa. Manusia adalah faktor yang paling penting; sebagai pencipta dan penggerak sejarah. Manusia memiliki dua jenis identitas; pertama, identitas yang tetap dan tidak dapat dipengaruhi oleh sejarah, yaitu kriteria-kriteria anatomi dan fisiologi yang membentuk wujud luaran manusia, dan; kedua, yang dapat berubah dan dapat dipengaruhi oleh sejarah, yaitu kewujudan manusia secara sosial yang merupakan keadaan mental dan psikologi manusia yang ditangkap oleh struktur sejarah dan warisan sosial.
Manusia sepanjang perjalanan sejarah berinteraksi dengan masa dan ruang tidak dalam kedudukannya sebagai ciptaan alami, melainkan sebagai kepribadian-kepribadian sosial. Tanah (turab), sebagai faktor kedua, adalah sumber alam yang lebih berkaitan dengan konsep-konsep sosial. Istilah tanah (turab) digunakan untuk menjauhi istilah materi (madah), karena perkataan 'materi' dalam akhlak berarti suatu konsep yang berlawanan dengan perkataan 'roh', dalam sains ia bermaksud lawan dari perkataan 'energi' dan dalam filsafat perkataan 'materi' memberi maksud yang berlainan dengan 'ide'.
Masa adalah faktor ketiga dalam proses pembentukan peradaban. Yang dimaksudkan dengan masa adalah nilainya dalam kehidupan manusia dan hubungannya dengan sejarah, kebangkitan ilmu, produktivitas, dan pencapaian peradaban. Akan tetapi menurut Malik Bennabi, wujudnya ketiga-tiga faktor tersebut tidak dapat secara pasti dan secara otomatis dapat melahirkan suatu peradaban. Sebuah teka-teki yang dapat dijawab oleh ilmu kimia.
Air pada dasarnya adalah hasil dari hidrogen dan oksigen. Meskipun demikian kewujudan kedua-dua unsur ini tidak menjamin secara langsung terciptanya air. Menurut para ahli kimia, proses pembentukan air turut dipengaruhi oleh faktor lain yang berupa katalisator yang dapat mempercepat proses penyusunan dua unsur hidrogen dan oksigen yang seterusnya menyebabkan terciptanya air.
Demikian juga, menurut Malik Bennabi, dengan proses pembentukan peradaban, walaupun sudah tersedia tiga faktor utama; manusia, tanah, dan masa, masih diperlukan faktor lain sebagai katalisator yang dapat mengolah dan menyusun ketiga-tiga unsur tersebut dan menjadikannya suatu peradaban. Katalisator yang dimaksud dalam konteks ini menurut Malik Bennabi adalah agama. Agama atau "pemikiran agama inilah yang selalu wujud di balik kelahiran suatu peradaban dalam sejarah.
" Agama menurut Malik Bennabi adalah katalisator (catalyseur) yang menjadikan manusia, tanah, dan masa sebagai suatu kekuatan dalam sejarah dan yang menyebabkan kelahiran suatu peradaban. Dalam pandangan Malik Bennabi tidak hanya peradaban-peradaban besar dunia seperti peradaban Islam, peradaban Kristen Eropa dan peradaban Buddha Cina, tetapi bahkan "peradaban komunis" yang anti-agama adalah juga lahir dari pemikiran agama.
Malik Bennabi memandang komunisme dari dua aspek; aspek sejarah dan aspek psikologi yang berhubung-kait dengan keyakinan. Dilihat dari aspek sejarah, komunisme atau marxisme adalah 'krisis' internal peradaban Kristen, yaitu ketika agama itu tidak lagi memiliki nilai-nilai gaib, seperti kata Gonzague de Reynol bahwa peradaban Rusia adalah peradaban Kristen Ortodok yang 'tersalah tembak', atau seperti ungkapan Toynbee bahwa komunisme adalah satu halaman buku Kristen yang terkoyak dan tersalah baca.
Dari aspek psikologi, komunisme atau marxisme adalah sebagai pemikiran keagamaan yang berhubungan dengan keyakinan para penyokong dan pengikutnya terahadap ide-ide dan doktrin-doktrin yang dicipta oleh Karl Marx, sebagai ajaran yang memiliki tulisan-tulisan yang disucikan, memiliki surga dan neraka, keselamatan dan kecelakaan, dan sebagai sebuah agama tanpa Tuhan.
Masyarakat pasca-peradaban Malik Bennabi menamakan masyarakat Islam setelah keruntuhan dinasti Muwahhidun (1121-1269 M) sebagai masyarakat "pasca-peradaban", yang berbeda dengan mayarakat "pra-peradaban". Masyarakat pra-peradaban, adalah masyarakat yang di luar peradaban, tapi mereka adalah manusia yang masih fitrah dan alam (L'homonatuna) yang selalu bersedia untuk memasuki peradaban, seperti masyarakat badui jahiliah sebelum kedatangan risalah Islam.
Sementara masyarakat pasca-peradaban merupakan masyarakat yang telah melepasi fase peradaban yang bukan hanya sebagai masyarakat yang tidak bergerak dari tempatnya, tetapi sebagai masyarakat yang mundur atau berjalan ke belakang, setelah menyeleweng jauh dan putus dari peradabanya. Mereka tidak hanya sebagai manusia yang di luar peradaban, tetapi juga sebagai masyarakat yang terkeluar dari peradaban yang tidak mampu lagi menghasilkan karya-karya peradaban (oeuvre civilisatrice).
Masyarakat yang "alam figurnya" tidak lagi seperti modelnya yang asal, "alam idenya" bisu dan mati, sementara "alam bendanya" berkuasa atas akal dan kesadaran. Masyarakat yang sudah kronis dan memiliki semua syarat yang menjadikan mereka layak untuk dijajah (al-qabiliyah li isti'mar).
Reformasi dan modernisme
Menurut Malik Bennabi, masyarakat Islam yang berada dalam "pasca-peradaban" sejak kejatuhan Muwahhidun, telah menyaksikan gerakan-gerakan ke arah kebangkitan sejak sekitar tahun 1858 bersamaan dengan kemunculan gerakan reformasi oleh tokoh-tokoh seperti Jamaluddin al-Afghani (1849-1897) dan Muhammad Abduh (1849-1905) dan gerakan modernisme yang dibawa oleh para sarjana yang berpendidikan Barat.
Hanya saja dalam pandangan Malik Bennabi, baik gerakan reformasi maupun gerakan modernisme belum dapat memberikan jawaban dan penyelesaian terhadap persoalan-persoalan sesungguhnya dunia Islam. Dalam pengamatan Malik Bennabi, kelemahan al-Afghani adalah karena beliau hanya memfokuskan pada pembaruan politik dunia Islam; dalam bentuk pan-Islam dan pembaruan sistem undang-undang, dan bukan pada pembaruan diri manusia yang telah dibentuk oleh fase pasca-Muwahhidun.
Sementara itu kelemahan Muhammad Abduh adalah karena beliau lebih banyak memfokuskan pada pembaruan ilmu kalam (teologi), yang menurut Malik Bennabi bukan sebagai permasalahan sebenarnya masyarakat Islam. Orang Islam termasuk orang Islam pasca-Muwahhidun tidak memiliki permasalahan dalam akidah, mereka tetap sebagai orang yang beriman dan beragama, akan tetapi yang menjadi permasalahan adalah bahwa akidah mereka tidak berpotensi dan tidak memberikan fungsi sosial.
Demikian juga dengan gerakan modernisme, menurut Malik Bennabi gerakan ini tidak memiliki tujuan dan metode yang jelas dan yang akhirnya hanya membawa masyarakat Islam kepada sikap suka mengumpul karya-karya peradaban Barat, dan menjadikan mereka sebagai pelanggan setia perabadaban yang asing bagi diri mereka sendiri.
Apapun kelemahan-kelemahan gerakan reformasi dan modernisme, Malik Bennabi tetap mengakui bahwa yang pasti gerakan-gerakan tersebut telah berhasil memberikan kesadaran umum tentang kelemahan diri masyarakat Islam. Ia menilainya sebagai kecenderungan sejarah yang positif yang diakibatkan oleh kekuatan internal yang wujud sebagai tindak balasan terhadap penjajahan dan fenomena "kelayakan dijajah.
" Islam peradaban
Ketika merumuskan konsepnya bahwa semua agama dapat berperanan sebagai katalisator unsur-unsur penting peradaban; manusia, tanah dan masa, pada dasarnya Malik Bennabi bertujuan untuk membuktikan bahwa Islam sebagai agama pada asasnya mampu dan dapat memainkan peranan yang lebih baik sebagai katalisator pembentukan dan pembangunan peradaban, dibandingkan dengan agama-agama ataupun ideologi-ideologi yang lain, baik di dalam sejarah masa lalu, masa sekarang, ataupun di masa yang akan datang.
Melihat peranan Islam sebagai katalisator, menurut Malik Bennabi, adalah berarti melihat peranannya dalam perspektif sosial. Yaitu sebagai katalisator yang dapat membentuk nilai-nilai yang bertindak mengubah 'manusia individu' ke dalam satu kesatuan dalam masyarakat, menjadikan 'masa' yang pada asalnya hanya merupakan jumlah jam yang bergerak sebagai masa yang berdimensi sosial yang dihitung dengan kualitas kerja, dan yang menjadikan 'tanah' yang hanya tampak sebagai keperluan yang sederhana sebagai medan yang luas yang dapat dikuasai dan digunakan sepenuhnya untuk memenuhi keperluan-keperluan kehidupan masyarakat banyak.
Peranan Islam sebagai katalisator nilai-nilai sosial hanya dapat terjadi apabila agama menjadi fenomena masyarakat banyak dan bukan sebagai fenomena individu. Ketika Islam menciptakan jaringan roh yang menghubungkan antara individu dengan keimanan terhadap Allah SWT, pada masa yang sama ia juga mengharuskan terciptanya jaringan perhubungan di antara individu-individu dalam masyarakat tersebut. Hal ini membuka peluang bagi mereka untuk memainkan peranan dunia dan melaksanakan aktivitas-aktivitas bersama. Islam mengikat cita-cita langit dengan tuntutan-tuntutan bumi.
Oleh karena itu ketika "perhubungan keagamaan" lemah jumlah "perhubungan kemasyarakatan" menjadi berkurang, dan karenanya kevakuman sosial (social vacuum) di antara individu-individu dalam masyarakat tersebut bertambah luas. Sebaliknya ketika perhubungan keagamaan kuat maka perhubungan kemasyarakatannya juga menjadi meningkat, dan karenanya kevakuman sosial berkurang. Islam peradaban adalah perspektif Islam yang memandang bahwa keefektifan suatu pemikiran dan ajaran agama adalah dalam kerangka sosial, perubahan, pembentukan peribadi-peribadi, dan apa yang dapat dihasilkannya dalam sejarah.
Yaitu Islam yang tidak memperpanjang perdebatan khilafiah dalam fikih. Yaitu Islam yang tidak pula menghabiskan energi dan masa hanya untuk membuktikan kebenaran dirinya. Yaitu Islam yang praktikal dan yang lebih menekankan pengamalan dimensi-dimensi sosialnya. Landasan filsafat Islam peradaban adalah bahwa; (i) ajaran Islam adalah ajaran yang otentik dan benar yang tidak perlu banyak untuk dibuktikan kebenarannya secara teoretis tetapi dengan mengamalkannya dalam kehidupan dan memperlihatkan kedinamikannya dalam kehidupan praktis; dan (ii) bahwa keimanan harus berdimensi sosial, karena ketika ia hanya sebagai fenomena peribadi risalahnya akan putus ditelan bumi dan menjadi keimanan para rahib, yang memutuskan hubungan dengan masyarakat dan melepaskan diri dari kewajiban-kewajiban sosial.
Bagi Malik Bennabi, mengapa kita tidak profesional, tidak produktif, tidak progresif, tidak aktif, dan tidak berdisiplin dalam menaati kebersihan dan peraturan, tidak seperti orang Barat? Teka-teki yang pernah dirasakan oleh Muhammad Abduh ketika mengatakan bahwa Islam wujud di Barat dan tidak hadir dalam masyarakat Islam sendiri. Jawabannya adalah karena kita melupakan dimensi-dimensi sosial agama kita yang dapat menciptakan kedinamisan kebudayaan kita. Kebudayaan merupakan inti dari peradaban, maju dan mundurnya peradaban adalah terletak pada dinamik dan tidaknya suatu kebudayaan.
Menurut Malik Bennabi, agama Islam, dapat menciptakan kedinamisan kebudayaan ketika berperanan sebagai prinsip moral dan sebagai katalisator unsur-unsur penting kebudayaan. Sebagai prinsip moral, Islam menggariskan baik dan buruk, apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan, ia membantu menciptakan sistem-sistem nilai sosial yang padu dan utuh. Ganjaran-ganjaran dan sanksi-sanksi sosial yang terdapat dalam kerangka acuan yang bersifat suci mempunyai kekuatan memaksa yang istimewa, kerana ia tidak hanya menyangkut ganjaran-ganjaran dan hukuman-hukuman yang bersifat duniawi dan manusiawi, tetapi juga ganjaran-ganjaran dan hukuman-hukuman yang bersifat supra-manusiawi dan ukhrawi.
Selain sebagai prinsip moral, Islam juga berperanan sebagai katalisator unsur-unsur kebudayaan; estetika, logika kerja, dan teknologi. Estetika atau cita rasa keindahan memainkan peranan penting di dalam kebudayaan dengan segala isinya, bahkan ia adalah kerangka di mana suatu peradaban terbentuk. Ia memberikan ciri-ciri khas terhadap jaringan-jaringan dalam masyarakat dan yang menambahkan gambaran yang sesuai dengan perasaan dan cita rasa umum daripada aspek warna dan bentuk.
Semua agama terutama Islam mengajarkan pentingnya aspek estetika dalam kehidupan manusia baik sebagai individu maupun masyarakat. Standar kebudayaan Barat adalah lebih kepada standar estetika sementara dalam masyarakat Islam adalah standar moral. Ini tidak berarti kebudayaan Islam tidak memiliki unsur estetika akan tetapi ia meletakkan unsur estetika di bawah prinsip moral dalam susunan nilai. Kebudayaan dalam peradaban Barat yang lebih mengutamakan aspek estetika daripada moral dalam susunan nilai, telah mengakibatkan kebudayaan tersebut terpisah dari kebudayaan kemanusiaan, merusakkan metode dalam sistem nilai, dan membawa kepada penghalalan segala cara, memutuskan jaringan sosial dan bahkan telah melahirkan 'kebudayaan penjajahan'.
Logika kerja adalah usaha untuk menghasilkan sebanyak mungkin faidah daripada kemudahan, fasilitas dan segala kemampuan yang dimiliki. Agama Islam menekankan pentingnya prinsip logika kerja dan mengajarkan para penganutnya untuk giat bekerja. Orang Islam memerlukan prinsip ini kerana mereka banyak memiliki akal yang abstrak tetapi mempunyai akal praktikal yang sedikit, mereka banyak berbicara sedikit kerja, pandai berdebat tetapi tidak mengamalkan. Teknologi atau al-sina'ah dalam bahasa Ibnu Khaldun adalah juga unsur penting dalam kebudayaan. Ia merangkumi seni, teknik, karya, kemahiran, dan hasil-hasil terapan dari ilmu pengatahuan.
Perkembangan ilmu dan teknologi dalam suatu masyarakat menurut Malik Bennabi, tergantung kepada lingkungan dan budaya yang dapat mendorong semangat keilmuan dan yang dapat menggerakkan terjadinya proses menerima atau menyampaikan ilmu. Al-Quran tidak mendatangkan secara langsung ilmu matematika atau aljabar atau sistim desimal, yang merupakan asas-asas penting dalam perkembangan teknologi, tapi ia mendatangkan lingkungan rasional (aqliyah) dan budaya ilmiah yang baru yang mendorong perkembangan ilmu pengetahuan yang pesat.
Agama Islam membuka jalan ke arah lingkungan ilmiah melalui perkataan "iqra" (bacalah), kemudian meletakkan beberapa langkah fundamental yang dapat menciptakan ruang dan psikologi sosial bagi mewujudkan budaya intelektual dan perkembangan ilmu pengetahuan. Demikian juga yang terjadi di Eropa, perkembangan dan kemajuan teknologinya telah dimulai dengan wujudnya miliu intelektual dan budaya ilmiah yang telah tumbuh sejak dua abad sebelumnya. Islam peradaban menekankan peranan dirinya sebagai katalisator kebudayaan dengan menanamkan "moral" yang menggariskan baik dan buruk atau yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan dan yang mengaitkan nilai amanah dalam segala perilaku praktikal individu dan masyarakat.
Juga mengajarkan "logika kerja" yaitu profesionalisme dalam melakukan pekerjaan dengan usaha untuk menghasilkan sebanyak mungkin faidah dari fasilitas-fasilitas dan segala kemampuan yang dimiliki, menentukan "nilai estetika" yang mengaharuskan individu-individu dalam masyarakat memiliki ide-ide yang kreatif dan inovatif. Ide-ide yang kreatif dan inovatif sangat diperlukan untuk membentuk dan membangunkan suatu peradaban yang merdeka dan tidak tergantung pada peradaban lain. Islam peradaban juga berupaya secara praktikal mendorong, dengan segala metode, ke arah terciptanya lingkungan intelektual dan budaya ilmiah yang seterusnya diharapkan dapat berpengaruh pada lahirnya sains dan "teknologi.
" Malik Bennabi pernah meramalkan bahwa Asia khususnya Indonesia akan menjadi pusat peradaban Islam masa depan. Menurutnya, "dunia Islam [akan] beralih dan tunduk pada tarikan gravitasi Jakarta, sebagaimana ia pernah tunduk pada tarikan gravitasi Kairo dan Damascus." Ramalan ini memberikan tanggung jawab yang besar terhadap umat Islam di negeri ini. Keadaan Indonesia yang memiliki penduduk Islam terbesar masih terlalu jauh dari apa yang pernah diramalkan oleh Malik Bennabi lima puluh tahun yang lalu. Malaysia yang tidak pernah disebut oleh Malik Bennabi justru dapat melangkah lebih maju dalam banyak bidang dibandingkan dengan Indonesia.
Dari perspektif pemikiran Malik Bennabi, dalam aspek "moral", terutamanya korupsi, Malaysia mampu menduduki posisi yang menyenangkan di antara negara-negara membangun lainnya, sementara Indonesia menjadi negara paling kotor dan menduduki peringkat nomor tiga sebagai negara terkorup di dunia. Dalam aspek "logika kerja," Malaysia memiliki etos kerja dan profesionalisme yang baik. Peningkatan etos kerja dan profesionalisme dilakukan melalui berbagai cara, di antaranya adalah dengan ISO (International Standardisation Organization).
Semua instansi baik pemerintah maupun swasta berlomba-lomba untuk mendapatkan pengakuan standar efisiensi dan profesionalisme internasional tersebut. Sementara itu di Indonesia pelayanan umum tidak efisiens, tidak profesional dan sarat dengan birokrasi yang tidak penting. Birokrasi yang semestinya untuk mempermudah urusan justru untuk mempersulit, karena di dalam kesulitan terdapat duit.
Jawaban "bapak sedang rapat" atau "datang esok" atau kata-kata "mau cepat atau lambat" merupakan budaya yang umum, banyak pegawai atau petugas yang sibuk membaca koran atau ngobrol waktu tugas kantor, mereka juga banyak yang bersikap cuek dan tidak menghormati pelanggan, bahkan kadang mereka hanya memprioritaskan orang tertentu yang dianggap menjanjikan sesuatu. Di Malaysia Anda hanya memerlukan satu jam dan tanpa biaya untuk mengurus dan mendapatkan akta kelahiran anak
Anda dari JPN (Jabatan Pendaftaran Negara), tapi, hal itu agak sulit untuk kita temukan dalam tradisi birokrasi kita. Dalam "estetika", orang Malaysia memiliki kesadaran yang lebih baik, mereka mudah menaati kebersihan lingkungan dan menaati segala bentuk peraturan lalulintas dan peraturan-peraturan kota yang lain. Nilai estetika pada orang Indonesia yang pernah dibanggakan oleh Malik Bennnabi tentu saja masih ada, tapi ia lebih berbentuk "potensi" dan belum berbentuk "amalan". Kekuatan masyarakat Islam terletak pada Islam itu sendiri. Yaitu Islam yang bergerak dalam akal dan tingkah laku dan yang dibangkitkan dalam kehidupan sosial dan dalam bentuk Islam peradaban. (RioL)
Oleh : Usman S Husnan Direktur Forum Kajian Islam Peradaban (FKIP) Cempakah Putih, Ciputat
Malik Bennabi
Malik Bennabi (1905-73) merupakan seorang pemikir dan cendekiawan Islam yang terulung abad ke-20. Sumbangan beliau yang terbesar ialah teori peradaban yang dikemukakannya.
Lahir di Costantine, Algeria kepada seorang keluarga sederhana, persekitaran kekeluargaan Malik Bennabi sendiri telah menekankan akan kepentingan pendidikan kepada beliau. Waktu itu Algeria merupakan sebahagian daripada jajahan Perancis yang berhasrat mejadikan Algeria sebagai sebahagian daripada wilayah Perancis.
Beliau sendiri menerima pendidikan tradisional Arab dan pendidikan Barat (Perancis) yang menjadikannya antara tokoh unik di kalangan pemikir Islam di Afrika Utara ketika itu. Pendidikan awalnya mengaji Al-Quran di Kuttab dan sekolah Perancis. Beliau pernah mendapat markah tertinggi di dalam kelas, namun gred terbaik di dalam kelasnya diberikan kepada seorang pelajar Perancis. Malik melihatkan ini sebagai gambaran diskriminasi kolonialis dan menurut Dr. Fauzia Bariun, beliau "merasakan keperluan untuk mencabar diskriminasi Barat secara intelektual dan berazam untuk meneruskan pendidikannya dan membuktikan kemampuannya."
Di Lycee Franco-Musulman Malik mula meminati sastera Perancis dan membaca novel-novel Jules Verne, Pierre Loti dan Claude Farrere. Namun buku yang lebih berpengaruh di dalam kehidupannya ialah L’Histoire sociale de l’humanite (Sejarah Social Kemanusiaan) karangan Courtellemont, Umm al Qura karangan Al-Kawakibi, Risalah Tauhid karangan Muhammad Abduh dan L’Ambre Chaude de l’Islam. Pada waktu yang sama, disamping meminati syair-syair Arab klasik, beliau turut menuntut ilmu dari Sheikh Maulud Bin Mawhub, seorang bekas mufti Costantine yang progresif dan terbuka.
Kemudian Malik mula terpengaruh dengan gerakan Islah yang sedang berkembang pesat di dunia Islam waktu itu, sebagaimana Kaum Muda di Tanah Melayu sedang giat mencabar doktrin-doktrin konservatif Kaum Tua. Selepas tamat persekolahan, beliau merantau ke Perancis untuk bekerja, tetapi pulang tidak lama selepas itu, kecewa dengan penindasan yang dilakukan oleh kapitalis-kapitalis Perancis terhadap pekerja-pekerja Algeria. Beliau melihatkan dakwaan kolonialisasi Perancis untuk la mission civilsatrice sebagai topeng untuk hegemoni Barat semata-mata.
Namun selepas bekerja di Algeria tidak lama, beliau ke Perancis semula pada tahun 1930. Keluarganya membiayai sebahagian dari pembelajarannya di sana. Beliau menyertai L’Ecole des Langues Orientales namun menghadapi halangan yang beliau sifatkan sebagai halangan politik. Setelah itu beliau menyertai institut kejuruteraan yang meyakinkannya tentang sumbangan besar sains di dalam kejayaan ketamadunan Barat. Di dalam semi-autobiografinya Mudhakkirat Shahidin lil Qarn beliau menjelaskan tentang komitmennya waktu itu untuk "menjadi peyelamat yang ditugaskan" kepada dunia Islam yang mundur. Gaya analisanya di dalam mengutarakan ide-idenya juga kelihatan pendekatan saintifik, kesan pendidikannya.
Kehidupannya di Paris banyak berkaitrapat dengan Latin Quarter yang terkenal itu. Beliau juga aktif bersama Persatuan Pelajar Maghrib yang menyebabkan beliau menghadapi pelbagai masalah di dalam kehidupannya di Perancis. Meskipun beliau bertemu dengan pengasas parti North African Star yang bernaung di bawah payung Parti Komunis Perancis, Massali Haj, namun permainan politik Massali menyebabkan Malik tidak terlibat dengan parti tersebut. Waktu itu juga beliau mula mengenali ide-ide Pan Arab Shakeeb Arslan yang disebarkan menerusi akhbarnya yang berasas di Geneva, La Nation Arabe.
Tidak lama selepas berakhirnya Perang Dunia Kedua barulah Malik Bennabi menulis buku. Fenomena Al Quran (Le Phenomene Coranique) diterbitkan pada 1946; setahun kemudian terbitnya Labbaik, satu-satunya novel karya beliau; Les Conditions de la Renaissance pada 1948 dan pada 1954 beliau menerbitkan La Vocation de l’Islam. Buku-bukunya, antara lain, bertujuan membincangkan aspek-aspek teoretikal untuk menghidupkan kembali gerakan Islah.
Malik mengiktiraf bahawa gerakan kebangkitan Islam dipelopori Jamaluddin al-Afghani meskipun beliau tidak bersetuju bulat-bulat dengan pandangan al-Afghani. Beliau melihat al-Afghani sebagai rajul fitrah atau insan semulajadi yang dapat memberi sumbangan besar terhadap kemajuan peradaban berbanding apa yang menurut Malik, mereka yang berada di luar peradaban. Disamping itu, ketika cubaan-cubaan untuk meniupkan semangat nahdah di kalangan umat Islam dilakukan sebelum ini, semuanya berpunca lebih kepada sentimen puak atau kabilah; al-Afghani tokoh pertama yang memulakan perjuangannya pada Islam, bukan etnik.
Api-api kebangkitan Islam yang disemai ini memainkan peranan besar untuk mengejutkan umat Islam yang sedang tidur di dalam apa yang digelarkan Malik Bennabi sebagai dunia pasca kerajaan Almohads (yakni zaman kemunduran Islam).
Namun al-Afghani menurut kacamata Malik bukanlah pembaharu, tetapi mujahid. Pembaharu, menurutnya, lebih wajar diberikan gelaran tersebut kepada Muhammad Abduh. Muhammad Abduh yang menyedari bahawa untuk menjayakan reformasi di dalam dunia umat Islam, harus ditumpukan pada perkara pokok-pangkalnya dahulu – isu kerohanian. Namun Malik mengkritik pendapat bahawa pendekatan untuk mengubah akidah yang perlu ditekankan, kerana insan pasca Almohads sekalipun, masih setia kepada akidahnya walaupun mundur di dalam aspek lain. Beliau tidak bersetuju dengan pendekatan yang dogmatik dan kaku, beliau mahukan pendekatan yang lebih mengambilkira cara pengamalan Islam di dalam bidang-bidang kehidupan.
Malik Bennabi turut mengkritik pengikut-pengikut kedua-dua tokoh kebangkitan Islam tersebut kerana, menurutnya, di dalam La Vocation de l’Islam (Wijhat al Alam al Islami atau Islam di dalam Sejarah dan Sosiologi), "mereka bukannya mencari fakta, tetapi untuk bukti-bukti" terhadap pihak lawan, yang menyebabkan "mereka tidak cuba mendengar antara satu sama lain, dan setiap daripada mereka akan cuba mengalahkan yang satu lagi di dalam kata-kata yang tidak berhenti-henti."
Sebenarnya beliau turut mengkritik kedua-dua pendukung gerakan modernisasi dan Islah. Baginya di dalam berinteraksi dengan golongan evolues di Algeria, gerakan modenisasi terlalu ghairah di dalam mengambil peradaban Barat dari aspek superficial dan mahu menirunya bulat-bulat untuk menyelesaikan masalah umat Islam. Ini sesuai dengan idenya mengenai ‘dunia benda’ dan ‘dunia ide’. Beliau menilai bahawa ‘dunia ide’ lebih bermakna dari ‘dunia benda’ – maka meskipun negara Jerman menerima kemusnahan yang dasyat dari segi fizikal ketika Perang Dunia Kedua, negara tersebut pantas mendapat tempat semula antara ekonomi paling dinamik dunia kerana ‘dunia ide’nya tidak dimusnahkan oleh Pihak Bersekutu. Turut dikritiknya ialah negara-negara dunia ketiga yang baru merdeka waktu itu, yang berlumba-lumba mendirikan tugu-tugu fizikal kemajuan sedangkan pengisian peradaban itu sendiri tidak wujud; sebagaimana mungkin apa yang sedang terjadi di negara kita hari ini!
Malik Bennabi juga mempunyai perbezaan pendapat dengan pemimpin Ikhwanul Muslimun, Syed Qutb yang dibunuh oleh Gamal Abdul Nasser. Pertelingkahan intelektual ini berakar umbi apabila Syed Qutb menukar tajuk bukunya dari "Ke Arah Sebuah Masyarakat Islam yang Bertamadun" kepada "Ke Arah Sebuah Masyarakat Islam" yang menurut Bennabi, mengandaikan bahawa masyarakat Islam sudah bertamadun sedangkan realiti adalah sebaliknya. Syed Qutb membalas bahawa tindakannya adalah untuk memendekkan tajuk tersebut dan beliau tidak menilai peradaban menurut kaca mata Barat.
Sumbangan pemikiran yang paling besar dibuat oleh Malik Bennabi, sebagaimana yang telah saya nyatakan ialah Teori Peradabannya. Ketika tokoh-tokoh kebangkitan Islam sezaman dengannya lebih meminati istilah ‘nahdah’ (renaissance) atau ‘al-taqaddum’ (pembangunan) beliau menekankan istilah ‘hadara’ (peradaban). Di sini kita dapat melihat dinamik pemikiran di antara Ibnu Khaldun, antara pelopor awal ilmu sosiologi ketika akhir zaman keagungan peradaban Islam yang mengarang Mukaddimah dan Arnold Toynbee, seorang sarjana moden British yang mengkaji peradaban dan telah menghasilkan A Study of History.
Persamaan peradaban yang dikemukan olehnya ialah,
Insan + Tanah + Masa = Peradaban.
Namun, dengan menggunakan analisa saintifik, beliau menegaskan bahawa pemangkin atau catalyseur terhadap elemen-elemen tersebut ialah agama. Meskipun ada yang mencabar pendapatnya dengan memberikan contoh negara Soviet yang baru muncul sebagai kuasa dunia waktu itu, sebagaimana Toynbee, Malik melihat perkembangan tersebut sebagai satu yang berpokok pangkal dari tamadun Barat-Kristian.
Dengan pengaruh Ibnu Khaldun di dalam kitaran peradaban, Malik Bennabi mengemukakan pendapatnya mengenai tiga peringkat peradaban. Bermula dengan Peringkat Kerohanian – jika dilihat umat Islam melalui zaman ini bermula dengan turunnya wahyu kepada Nabi Muhammad s.a.w. dan berakhir dengan jatuhnya Khulafa ar-Rasyidin ketika Perang Siffin. Ini sesuai dengan teori beliau dan Ibnu Khaldun bahawa agama memainkan peranan yang besar di dalam menggerakkan sesebuah tamadun.
Kemudian Peringkat Rasional di mana prinsip-prinsip agama masih kukuh dan berkembang, ketika ilmu sains dan kesenian mula mendapat tempat dan ketamadunan pada waktu ini menuju ke zaman kegemilangannya, tetapi masyarakat tidak lagi dapat dikawal sebagaimana Peringkat Kerohanian. Jika di Islam peringkat ini ditandai oleh kegemilangan pemerintahan Umayyah dan Abasiah, dunia Barat melaluinya ketika Renaissance berkembang di Eropah selepas kejatuhan Islam.
Akhir sekali, Peringkat Naluri di mana masyarakat sesebuah peradaban menghadapi zaman kegelapan. Ikatan keimanan yang menjadi penghubung anggota masyarakat sudah lemah dan kitaran peradaban berakhir. Jika melihat dari segi sejarah, zaman ini dilalui oleh umat Islam ketika jatuhnya Baghdad kepada bangsa Mongol, tidak lama selepas hidupnya Ibnu Khaldun.
Toynbee juga seorang yang banyak terpengaruh dengan Ibnu Khaldun. Toynbee, sebagaimana Spengler, melihat krisis dunia Barat kontemporari akan dapat diatasi dengan satu tempoh di masa hadapan apabila mereka akan memeluk sebuah agama dari Timur. Meskipun begitu, wujud perbezaan di antara Malik Bennabi dengan Toynbee. Toynbee juga seorang sarjana sejarah yang banyak mempengaruhi tasawwur peradabannya, sedangkan Malik Bennabi cuma meminati sejarah lebih sebagai alat untuk menjelaskan teori-teorinya mengenai peradaban.
Sumbangan Malik Bennabi terhadap dunia intelektual Islam terlalu besar untuk diperkatakan. Menurut Dato’ Seri Anwar Ibrahim, "Jika Iqbal menyalakan api dengan imaginasi puisinya, Bennabi melakukan sedemikan dengan prosanya yang sempurna. Tetapi, ulasan Bennabi mengenai pengalaman realiti peradaban mengatasi Iqbal."
NIK NAZMI NIK AHMAD, 20, ialah seorang exco Unit Pendidikan Politik-Institut Kajian Dasar (UPP-IKD) dan Editor SuaraAnum.com.
Kajian Siyasah/Khilafah Oleh : Redaksi 29 Jan 2004 - 6:00 pm
Malik Bennabi (1905-1973) dikenal sebagai sarjana Muslim kontemporer yang menekuni bidang filsafat sosial. Dia lahir di Tebessa, AlJazair. Menghabiskan masa hidupnya di antara Prancis, Kairo, dan Aljazair. Karya-karya Malik Bennabi mencapai 18 buku, ditulis dalam bahasa Prancis dan Arab dan semua karya beliau dalam bahasa Prancis telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab.
Di antara karya-karya terpenting beliau adalah al-Zahirah al-Qur'aniyyah (Fenomena al-Quran), 1961, Wijhah al-Alam al-Islami (Masa Depan Dunia Islam), 1959, Fikrah al-Ifriqiyyah al-Asiawiyyah (Pemikiran Asia Afrika), 1956, Musykilah al-Thaqafah (Problem Budaya), 1959, Syurut al-Nahdah (Syarat-syarat Kebangkitan), 1960, Milad Mujtama' (Kelahiran Masyarakat), 1962, Mudhakkirat Syahid li al-Qarn (Catatan Harian Seorang Saksi Sebuah Zaman), 1966, Musykilat al-Afkar (Problem Pemikiran), 1970, Fikrah Komonweth al-Islami (Pemikiran Persemakmuran Islam), 1971, dan al-Muslim fi Alam al-Iqtisad (Muslim dalam Dunia Ekonomi), 1972.
Manusia sebagai homo religiosus
Menurut Malik Bennabi fenomena beragama adalah fenomena universal yang selalu wujud, ia sudah wujud lama, sebagai karakteristik kehidupan manusia, dari manusia yang sangat primitif hingga manusia yang sudah memiliki peradaban yang tinggi.
Menurutnya, "setiap kali seseorang menyusup jauh ke dalam sejarah purbakala dan sejarah manusia, baik pada zaman kejayaan kebudayaannya, maupun pada tingkat-tingkat yang masih primitif evolusi sosialnya, dia akan mendapati peninggalan di dalamnya yang menunjuk kepada adanya ide mengenai keagamaan."
"Bagaimana pun bentuk upacara-upacara keagamaan itu, namun ternyata bahwa struktur bangunan, dari gua-gua tempat peribadatan pada zaman batu hingga pada zaman bangunan tempat-tempat peribadatan yang mega-megah, berjalan berdampingan dengan ide keagamaan yang menciptakan peraturan hidup dan yang melahirkan kebudayaan-kebudayaan manusia.
" "Di bawah naungan rumah-rumah peribadatan seperti rumah peribadatan Sulaiman atau Ka'bah munculah kebudayaan-kebudayaan itu untuk penyinaran alam kita ini." Kesimpulan Malik Bennabi senada dengan apa yang pernah diungkapkan oleh Plutarch (46-120 AD), seorang ahli filsafat dan etika Yunani, ketika mengatakan: "Kita dapat menjumpai kota-kota tanpa dinding, tanpa raja, tanpa peradaban, tanpa literatur, atau tanpa gedung theatre, tapi seseorang tidak pernah menjumpai sebuah kota tanpa tempat-tempat peribadatan atau penganut-penganut agama.
" Atau seperti juga apa yang dikatakan ahli filsafat Henri Bergson (1859-1941) bahwa: "kita jumpai di masa lampau dan sekarang masyarakat tanpa sains, tanpa seni, dan tanpa filsafat. Tapi kita tidak pernah menjumpai sebuah masyarakat tanpa agama." Menurut Malik Bennabi, totemisme, mitos, dan kepercayaan pada dewa-dewa tidak lain hanya merupakan pemecahan yang diilhami oleh problem, yang selalu sama, yang menghinggapi hati nurani manusia; setiap kali dia mendapati dirinya ditarik oleh teka-teki tentang segala sesuatu, serta tujuan terakhirnya.
Dengan mengakui ekspresi-ekspresi keagamaan yang berbeda-beda tersebut (seperti totemisme, politheisme, dan monotheisme), Malik Bennabi ingin membangun fenomena agama yang bersifat perenial sebagai karakteristik alami manusia, yang oleh karenanya manusia digambarkan sebagai homo religiosus (hewan beragama). Yang oleh karena itu, agama tidak hanya sebagai aktivitas spiritual dan mental psikik manusia.
Tetapi merupakan sebagai satu kecenderungan fundamental manusia dan fakta kosmik yang jauh berakar pada struktur alam. Ia tidak dapat direduksi kepada hanya sebagai satu kategori budaya yang didapati manusia sepanjang sejarah atau hanya sebagai keperluan manusia dalam fase primitif perkembangan sosiobudaya manusia seperti yang dikonsepsikan oleh Auguste Comte.
Tetapi sebagai fitrah universal yang tidak pernah luput dalam sejarah suatu bangsa baik dahulu maupun hari ini dan yang akan datang sekaligus merupakan "katalisator" setiap peradaban manusia.
Agama sebagai katalisator peradaban
Malik Bennabi merumuskan tiga faktor utama yang menentukan pembentukan sesuatu peradaban, yaitu; manusia, tanah, dan masa. Manusia adalah faktor yang paling penting; sebagai pencipta dan penggerak sejarah. Manusia memiliki dua jenis identitas; pertama, identitas yang tetap dan tidak dapat dipengaruhi oleh sejarah, yaitu kriteria-kriteria anatomi dan fisiologi yang membentuk wujud luaran manusia, dan; kedua, yang dapat berubah dan dapat dipengaruhi oleh sejarah, yaitu kewujudan manusia secara sosial yang merupakan keadaan mental dan psikologi manusia yang ditangkap oleh struktur sejarah dan warisan sosial.
Manusia sepanjang perjalanan sejarah berinteraksi dengan masa dan ruang tidak dalam kedudukannya sebagai ciptaan alami, melainkan sebagai kepribadian-kepribadian sosial. Tanah (turab), sebagai faktor kedua, adalah sumber alam yang lebih berkaitan dengan konsep-konsep sosial. Istilah tanah (turab) digunakan untuk menjauhi istilah materi (madah), karena perkataan 'materi' dalam akhlak berarti suatu konsep yang berlawanan dengan perkataan 'roh', dalam sains ia bermaksud lawan dari perkataan 'energi' dan dalam filsafat perkataan 'materi' memberi maksud yang berlainan dengan 'ide'.
Masa adalah faktor ketiga dalam proses pembentukan peradaban. Yang dimaksudkan dengan masa adalah nilainya dalam kehidupan manusia dan hubungannya dengan sejarah, kebangkitan ilmu, produktivitas, dan pencapaian peradaban. Akan tetapi menurut Malik Bennabi, wujudnya ketiga-tiga faktor tersebut tidak dapat secara pasti dan secara otomatis dapat melahirkan suatu peradaban. Sebuah teka-teki yang dapat dijawab oleh ilmu kimia.
Air pada dasarnya adalah hasil dari hidrogen dan oksigen. Meskipun demikian kewujudan kedua-dua unsur ini tidak menjamin secara langsung terciptanya air. Menurut para ahli kimia, proses pembentukan air turut dipengaruhi oleh faktor lain yang berupa katalisator yang dapat mempercepat proses penyusunan dua unsur hidrogen dan oksigen yang seterusnya menyebabkan terciptanya air.
Demikian juga, menurut Malik Bennabi, dengan proses pembentukan peradaban, walaupun sudah tersedia tiga faktor utama; manusia, tanah, dan masa, masih diperlukan faktor lain sebagai katalisator yang dapat mengolah dan menyusun ketiga-tiga unsur tersebut dan menjadikannya suatu peradaban. Katalisator yang dimaksud dalam konteks ini menurut Malik Bennabi adalah agama. Agama atau "pemikiran agama inilah yang selalu wujud di balik kelahiran suatu peradaban dalam sejarah.
" Agama menurut Malik Bennabi adalah katalisator (catalyseur) yang menjadikan manusia, tanah, dan masa sebagai suatu kekuatan dalam sejarah dan yang menyebabkan kelahiran suatu peradaban. Dalam pandangan Malik Bennabi tidak hanya peradaban-peradaban besar dunia seperti peradaban Islam, peradaban Kristen Eropa dan peradaban Buddha Cina, tetapi bahkan "peradaban komunis" yang anti-agama adalah juga lahir dari pemikiran agama.
Malik Bennabi memandang komunisme dari dua aspek; aspek sejarah dan aspek psikologi yang berhubung-kait dengan keyakinan. Dilihat dari aspek sejarah, komunisme atau marxisme adalah 'krisis' internal peradaban Kristen, yaitu ketika agama itu tidak lagi memiliki nilai-nilai gaib, seperti kata Gonzague de Reynol bahwa peradaban Rusia adalah peradaban Kristen Ortodok yang 'tersalah tembak', atau seperti ungkapan Toynbee bahwa komunisme adalah satu halaman buku Kristen yang terkoyak dan tersalah baca.
Dari aspek psikologi, komunisme atau marxisme adalah sebagai pemikiran keagamaan yang berhubungan dengan keyakinan para penyokong dan pengikutnya terahadap ide-ide dan doktrin-doktrin yang dicipta oleh Karl Marx, sebagai ajaran yang memiliki tulisan-tulisan yang disucikan, memiliki surga dan neraka, keselamatan dan kecelakaan, dan sebagai sebuah agama tanpa Tuhan.
Masyarakat pasca-peradaban Malik Bennabi menamakan masyarakat Islam setelah keruntuhan dinasti Muwahhidun (1121-1269 M) sebagai masyarakat "pasca-peradaban", yang berbeda dengan mayarakat "pra-peradaban". Masyarakat pra-peradaban, adalah masyarakat yang di luar peradaban, tapi mereka adalah manusia yang masih fitrah dan alam (L'homonatuna) yang selalu bersedia untuk memasuki peradaban, seperti masyarakat badui jahiliah sebelum kedatangan risalah Islam.
Sementara masyarakat pasca-peradaban merupakan masyarakat yang telah melepasi fase peradaban yang bukan hanya sebagai masyarakat yang tidak bergerak dari tempatnya, tetapi sebagai masyarakat yang mundur atau berjalan ke belakang, setelah menyeleweng jauh dan putus dari peradabanya. Mereka tidak hanya sebagai manusia yang di luar peradaban, tetapi juga sebagai masyarakat yang terkeluar dari peradaban yang tidak mampu lagi menghasilkan karya-karya peradaban (oeuvre civilisatrice).
Masyarakat yang "alam figurnya" tidak lagi seperti modelnya yang asal, "alam idenya" bisu dan mati, sementara "alam bendanya" berkuasa atas akal dan kesadaran. Masyarakat yang sudah kronis dan memiliki semua syarat yang menjadikan mereka layak untuk dijajah (al-qabiliyah li isti'mar).
Reformasi dan modernisme
Menurut Malik Bennabi, masyarakat Islam yang berada dalam "pasca-peradaban" sejak kejatuhan Muwahhidun, telah menyaksikan gerakan-gerakan ke arah kebangkitan sejak sekitar tahun 1858 bersamaan dengan kemunculan gerakan reformasi oleh tokoh-tokoh seperti Jamaluddin al-Afghani (1849-1897) dan Muhammad Abduh (1849-1905) dan gerakan modernisme yang dibawa oleh para sarjana yang berpendidikan Barat.
Hanya saja dalam pandangan Malik Bennabi, baik gerakan reformasi maupun gerakan modernisme belum dapat memberikan jawaban dan penyelesaian terhadap persoalan-persoalan sesungguhnya dunia Islam. Dalam pengamatan Malik Bennabi, kelemahan al-Afghani adalah karena beliau hanya memfokuskan pada pembaruan politik dunia Islam; dalam bentuk pan-Islam dan pembaruan sistem undang-undang, dan bukan pada pembaruan diri manusia yang telah dibentuk oleh fase pasca-Muwahhidun.
Sementara itu kelemahan Muhammad Abduh adalah karena beliau lebih banyak memfokuskan pada pembaruan ilmu kalam (teologi), yang menurut Malik Bennabi bukan sebagai permasalahan sebenarnya masyarakat Islam. Orang Islam termasuk orang Islam pasca-Muwahhidun tidak memiliki permasalahan dalam akidah, mereka tetap sebagai orang yang beriman dan beragama, akan tetapi yang menjadi permasalahan adalah bahwa akidah mereka tidak berpotensi dan tidak memberikan fungsi sosial.
Demikian juga dengan gerakan modernisme, menurut Malik Bennabi gerakan ini tidak memiliki tujuan dan metode yang jelas dan yang akhirnya hanya membawa masyarakat Islam kepada sikap suka mengumpul karya-karya peradaban Barat, dan menjadikan mereka sebagai pelanggan setia perabadaban yang asing bagi diri mereka sendiri.
Apapun kelemahan-kelemahan gerakan reformasi dan modernisme, Malik Bennabi tetap mengakui bahwa yang pasti gerakan-gerakan tersebut telah berhasil memberikan kesadaran umum tentang kelemahan diri masyarakat Islam. Ia menilainya sebagai kecenderungan sejarah yang positif yang diakibatkan oleh kekuatan internal yang wujud sebagai tindak balasan terhadap penjajahan dan fenomena "kelayakan dijajah.
" Islam peradaban
Ketika merumuskan konsepnya bahwa semua agama dapat berperanan sebagai katalisator unsur-unsur penting peradaban; manusia, tanah dan masa, pada dasarnya Malik Bennabi bertujuan untuk membuktikan bahwa Islam sebagai agama pada asasnya mampu dan dapat memainkan peranan yang lebih baik sebagai katalisator pembentukan dan pembangunan peradaban, dibandingkan dengan agama-agama ataupun ideologi-ideologi yang lain, baik di dalam sejarah masa lalu, masa sekarang, ataupun di masa yang akan datang.
Melihat peranan Islam sebagai katalisator, menurut Malik Bennabi, adalah berarti melihat peranannya dalam perspektif sosial. Yaitu sebagai katalisator yang dapat membentuk nilai-nilai yang bertindak mengubah 'manusia individu' ke dalam satu kesatuan dalam masyarakat, menjadikan 'masa' yang pada asalnya hanya merupakan jumlah jam yang bergerak sebagai masa yang berdimensi sosial yang dihitung dengan kualitas kerja, dan yang menjadikan 'tanah' yang hanya tampak sebagai keperluan yang sederhana sebagai medan yang luas yang dapat dikuasai dan digunakan sepenuhnya untuk memenuhi keperluan-keperluan kehidupan masyarakat banyak.
Peranan Islam sebagai katalisator nilai-nilai sosial hanya dapat terjadi apabila agama menjadi fenomena masyarakat banyak dan bukan sebagai fenomena individu. Ketika Islam menciptakan jaringan roh yang menghubungkan antara individu dengan keimanan terhadap Allah SWT, pada masa yang sama ia juga mengharuskan terciptanya jaringan perhubungan di antara individu-individu dalam masyarakat tersebut. Hal ini membuka peluang bagi mereka untuk memainkan peranan dunia dan melaksanakan aktivitas-aktivitas bersama. Islam mengikat cita-cita langit dengan tuntutan-tuntutan bumi.
Oleh karena itu ketika "perhubungan keagamaan" lemah jumlah "perhubungan kemasyarakatan" menjadi berkurang, dan karenanya kevakuman sosial (social vacuum) di antara individu-individu dalam masyarakat tersebut bertambah luas. Sebaliknya ketika perhubungan keagamaan kuat maka perhubungan kemasyarakatannya juga menjadi meningkat, dan karenanya kevakuman sosial berkurang. Islam peradaban adalah perspektif Islam yang memandang bahwa keefektifan suatu pemikiran dan ajaran agama adalah dalam kerangka sosial, perubahan, pembentukan peribadi-peribadi, dan apa yang dapat dihasilkannya dalam sejarah.
Yaitu Islam yang tidak memperpanjang perdebatan khilafiah dalam fikih. Yaitu Islam yang tidak pula menghabiskan energi dan masa hanya untuk membuktikan kebenaran dirinya. Yaitu Islam yang praktikal dan yang lebih menekankan pengamalan dimensi-dimensi sosialnya. Landasan filsafat Islam peradaban adalah bahwa; (i) ajaran Islam adalah ajaran yang otentik dan benar yang tidak perlu banyak untuk dibuktikan kebenarannya secara teoretis tetapi dengan mengamalkannya dalam kehidupan dan memperlihatkan kedinamikannya dalam kehidupan praktis; dan (ii) bahwa keimanan harus berdimensi sosial, karena ketika ia hanya sebagai fenomena peribadi risalahnya akan putus ditelan bumi dan menjadi keimanan para rahib, yang memutuskan hubungan dengan masyarakat dan melepaskan diri dari kewajiban-kewajiban sosial.
Bagi Malik Bennabi, mengapa kita tidak profesional, tidak produktif, tidak progresif, tidak aktif, dan tidak berdisiplin dalam menaati kebersihan dan peraturan, tidak seperti orang Barat? Teka-teki yang pernah dirasakan oleh Muhammad Abduh ketika mengatakan bahwa Islam wujud di Barat dan tidak hadir dalam masyarakat Islam sendiri. Jawabannya adalah karena kita melupakan dimensi-dimensi sosial agama kita yang dapat menciptakan kedinamisan kebudayaan kita. Kebudayaan merupakan inti dari peradaban, maju dan mundurnya peradaban adalah terletak pada dinamik dan tidaknya suatu kebudayaan.
Menurut Malik Bennabi, agama Islam, dapat menciptakan kedinamisan kebudayaan ketika berperanan sebagai prinsip moral dan sebagai katalisator unsur-unsur penting kebudayaan. Sebagai prinsip moral, Islam menggariskan baik dan buruk, apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan, ia membantu menciptakan sistem-sistem nilai sosial yang padu dan utuh. Ganjaran-ganjaran dan sanksi-sanksi sosial yang terdapat dalam kerangka acuan yang bersifat suci mempunyai kekuatan memaksa yang istimewa, kerana ia tidak hanya menyangkut ganjaran-ganjaran dan hukuman-hukuman yang bersifat duniawi dan manusiawi, tetapi juga ganjaran-ganjaran dan hukuman-hukuman yang bersifat supra-manusiawi dan ukhrawi.
Selain sebagai prinsip moral, Islam juga berperanan sebagai katalisator unsur-unsur kebudayaan; estetika, logika kerja, dan teknologi. Estetika atau cita rasa keindahan memainkan peranan penting di dalam kebudayaan dengan segala isinya, bahkan ia adalah kerangka di mana suatu peradaban terbentuk. Ia memberikan ciri-ciri khas terhadap jaringan-jaringan dalam masyarakat dan yang menambahkan gambaran yang sesuai dengan perasaan dan cita rasa umum daripada aspek warna dan bentuk.
Semua agama terutama Islam mengajarkan pentingnya aspek estetika dalam kehidupan manusia baik sebagai individu maupun masyarakat. Standar kebudayaan Barat adalah lebih kepada standar estetika sementara dalam masyarakat Islam adalah standar moral. Ini tidak berarti kebudayaan Islam tidak memiliki unsur estetika akan tetapi ia meletakkan unsur estetika di bawah prinsip moral dalam susunan nilai. Kebudayaan dalam peradaban Barat yang lebih mengutamakan aspek estetika daripada moral dalam susunan nilai, telah mengakibatkan kebudayaan tersebut terpisah dari kebudayaan kemanusiaan, merusakkan metode dalam sistem nilai, dan membawa kepada penghalalan segala cara, memutuskan jaringan sosial dan bahkan telah melahirkan 'kebudayaan penjajahan'.
Logika kerja adalah usaha untuk menghasilkan sebanyak mungkin faidah daripada kemudahan, fasilitas dan segala kemampuan yang dimiliki. Agama Islam menekankan pentingnya prinsip logika kerja dan mengajarkan para penganutnya untuk giat bekerja. Orang Islam memerlukan prinsip ini kerana mereka banyak memiliki akal yang abstrak tetapi mempunyai akal praktikal yang sedikit, mereka banyak berbicara sedikit kerja, pandai berdebat tetapi tidak mengamalkan. Teknologi atau al-sina'ah dalam bahasa Ibnu Khaldun adalah juga unsur penting dalam kebudayaan. Ia merangkumi seni, teknik, karya, kemahiran, dan hasil-hasil terapan dari ilmu pengatahuan.
Perkembangan ilmu dan teknologi dalam suatu masyarakat menurut Malik Bennabi, tergantung kepada lingkungan dan budaya yang dapat mendorong semangat keilmuan dan yang dapat menggerakkan terjadinya proses menerima atau menyampaikan ilmu. Al-Quran tidak mendatangkan secara langsung ilmu matematika atau aljabar atau sistim desimal, yang merupakan asas-asas penting dalam perkembangan teknologi, tapi ia mendatangkan lingkungan rasional (aqliyah) dan budaya ilmiah yang baru yang mendorong perkembangan ilmu pengetahuan yang pesat.
Agama Islam membuka jalan ke arah lingkungan ilmiah melalui perkataan "iqra" (bacalah), kemudian meletakkan beberapa langkah fundamental yang dapat menciptakan ruang dan psikologi sosial bagi mewujudkan budaya intelektual dan perkembangan ilmu pengetahuan. Demikian juga yang terjadi di Eropa, perkembangan dan kemajuan teknologinya telah dimulai dengan wujudnya miliu intelektual dan budaya ilmiah yang telah tumbuh sejak dua abad sebelumnya. Islam peradaban menekankan peranan dirinya sebagai katalisator kebudayaan dengan menanamkan "moral" yang menggariskan baik dan buruk atau yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan dan yang mengaitkan nilai amanah dalam segala perilaku praktikal individu dan masyarakat.
Juga mengajarkan "logika kerja" yaitu profesionalisme dalam melakukan pekerjaan dengan usaha untuk menghasilkan sebanyak mungkin faidah dari fasilitas-fasilitas dan segala kemampuan yang dimiliki, menentukan "nilai estetika" yang mengaharuskan individu-individu dalam masyarakat memiliki ide-ide yang kreatif dan inovatif. Ide-ide yang kreatif dan inovatif sangat diperlukan untuk membentuk dan membangunkan suatu peradaban yang merdeka dan tidak tergantung pada peradaban lain. Islam peradaban juga berupaya secara praktikal mendorong, dengan segala metode, ke arah terciptanya lingkungan intelektual dan budaya ilmiah yang seterusnya diharapkan dapat berpengaruh pada lahirnya sains dan "teknologi.
" Malik Bennabi pernah meramalkan bahwa Asia khususnya Indonesia akan menjadi pusat peradaban Islam masa depan. Menurutnya, "dunia Islam [akan] beralih dan tunduk pada tarikan gravitasi Jakarta, sebagaimana ia pernah tunduk pada tarikan gravitasi Kairo dan Damascus." Ramalan ini memberikan tanggung jawab yang besar terhadap umat Islam di negeri ini. Keadaan Indonesia yang memiliki penduduk Islam terbesar masih terlalu jauh dari apa yang pernah diramalkan oleh Malik Bennabi lima puluh tahun yang lalu. Malaysia yang tidak pernah disebut oleh Malik Bennabi justru dapat melangkah lebih maju dalam banyak bidang dibandingkan dengan Indonesia.
Dari perspektif pemikiran Malik Bennabi, dalam aspek "moral", terutamanya korupsi, Malaysia mampu menduduki posisi yang menyenangkan di antara negara-negara membangun lainnya, sementara Indonesia menjadi negara paling kotor dan menduduki peringkat nomor tiga sebagai negara terkorup di dunia. Dalam aspek "logika kerja," Malaysia memiliki etos kerja dan profesionalisme yang baik. Peningkatan etos kerja dan profesionalisme dilakukan melalui berbagai cara, di antaranya adalah dengan ISO (International Standardisation Organization).
Semua instansi baik pemerintah maupun swasta berlomba-lomba untuk mendapatkan pengakuan standar efisiensi dan profesionalisme internasional tersebut. Sementara itu di Indonesia pelayanan umum tidak efisiens, tidak profesional dan sarat dengan birokrasi yang tidak penting. Birokrasi yang semestinya untuk mempermudah urusan justru untuk mempersulit, karena di dalam kesulitan terdapat duit.
Jawaban "bapak sedang rapat" atau "datang esok" atau kata-kata "mau cepat atau lambat" merupakan budaya yang umum, banyak pegawai atau petugas yang sibuk membaca koran atau ngobrol waktu tugas kantor, mereka juga banyak yang bersikap cuek dan tidak menghormati pelanggan, bahkan kadang mereka hanya memprioritaskan orang tertentu yang dianggap menjanjikan sesuatu. Di Malaysia Anda hanya memerlukan satu jam dan tanpa biaya untuk mengurus dan mendapatkan akta kelahiran anak
Anda dari JPN (Jabatan Pendaftaran Negara), tapi, hal itu agak sulit untuk kita temukan dalam tradisi birokrasi kita. Dalam "estetika", orang Malaysia memiliki kesadaran yang lebih baik, mereka mudah menaati kebersihan lingkungan dan menaati segala bentuk peraturan lalulintas dan peraturan-peraturan kota yang lain. Nilai estetika pada orang Indonesia yang pernah dibanggakan oleh Malik Bennnabi tentu saja masih ada, tapi ia lebih berbentuk "potensi" dan belum berbentuk "amalan". Kekuatan masyarakat Islam terletak pada Islam itu sendiri. Yaitu Islam yang bergerak dalam akal dan tingkah laku dan yang dibangkitkan dalam kehidupan sosial dan dalam bentuk Islam peradaban. (RioL)
Oleh : Usman S Husnan Direktur Forum Kajian Islam Peradaban (FKIP) Cempakah Putih, Ciputat
Malik Bennabi
Malik Bennabi (1905-73) merupakan seorang pemikir dan cendekiawan Islam yang terulung abad ke-20. Sumbangan beliau yang terbesar ialah teori peradaban yang dikemukakannya.
Lahir di Costantine, Algeria kepada seorang keluarga sederhana, persekitaran kekeluargaan Malik Bennabi sendiri telah menekankan akan kepentingan pendidikan kepada beliau. Waktu itu Algeria merupakan sebahagian daripada jajahan Perancis yang berhasrat mejadikan Algeria sebagai sebahagian daripada wilayah Perancis.
Beliau sendiri menerima pendidikan tradisional Arab dan pendidikan Barat (Perancis) yang menjadikannya antara tokoh unik di kalangan pemikir Islam di Afrika Utara ketika itu. Pendidikan awalnya mengaji Al-Quran di Kuttab dan sekolah Perancis. Beliau pernah mendapat markah tertinggi di dalam kelas, namun gred terbaik di dalam kelasnya diberikan kepada seorang pelajar Perancis. Malik melihatkan ini sebagai gambaran diskriminasi kolonialis dan menurut Dr. Fauzia Bariun, beliau "merasakan keperluan untuk mencabar diskriminasi Barat secara intelektual dan berazam untuk meneruskan pendidikannya dan membuktikan kemampuannya."
Di Lycee Franco-Musulman Malik mula meminati sastera Perancis dan membaca novel-novel Jules Verne, Pierre Loti dan Claude Farrere. Namun buku yang lebih berpengaruh di dalam kehidupannya ialah L’Histoire sociale de l’humanite (Sejarah Social Kemanusiaan) karangan Courtellemont, Umm al Qura karangan Al-Kawakibi, Risalah Tauhid karangan Muhammad Abduh dan L’Ambre Chaude de l’Islam. Pada waktu yang sama, disamping meminati syair-syair Arab klasik, beliau turut menuntut ilmu dari Sheikh Maulud Bin Mawhub, seorang bekas mufti Costantine yang progresif dan terbuka.
Kemudian Malik mula terpengaruh dengan gerakan Islah yang sedang berkembang pesat di dunia Islam waktu itu, sebagaimana Kaum Muda di Tanah Melayu sedang giat mencabar doktrin-doktrin konservatif Kaum Tua. Selepas tamat persekolahan, beliau merantau ke Perancis untuk bekerja, tetapi pulang tidak lama selepas itu, kecewa dengan penindasan yang dilakukan oleh kapitalis-kapitalis Perancis terhadap pekerja-pekerja Algeria. Beliau melihatkan dakwaan kolonialisasi Perancis untuk la mission civilsatrice sebagai topeng untuk hegemoni Barat semata-mata.
Namun selepas bekerja di Algeria tidak lama, beliau ke Perancis semula pada tahun 1930. Keluarganya membiayai sebahagian dari pembelajarannya di sana. Beliau menyertai L’Ecole des Langues Orientales namun menghadapi halangan yang beliau sifatkan sebagai halangan politik. Setelah itu beliau menyertai institut kejuruteraan yang meyakinkannya tentang sumbangan besar sains di dalam kejayaan ketamadunan Barat. Di dalam semi-autobiografinya Mudhakkirat Shahidin lil Qarn beliau menjelaskan tentang komitmennya waktu itu untuk "menjadi peyelamat yang ditugaskan" kepada dunia Islam yang mundur. Gaya analisanya di dalam mengutarakan ide-idenya juga kelihatan pendekatan saintifik, kesan pendidikannya.
Kehidupannya di Paris banyak berkaitrapat dengan Latin Quarter yang terkenal itu. Beliau juga aktif bersama Persatuan Pelajar Maghrib yang menyebabkan beliau menghadapi pelbagai masalah di dalam kehidupannya di Perancis. Meskipun beliau bertemu dengan pengasas parti North African Star yang bernaung di bawah payung Parti Komunis Perancis, Massali Haj, namun permainan politik Massali menyebabkan Malik tidak terlibat dengan parti tersebut. Waktu itu juga beliau mula mengenali ide-ide Pan Arab Shakeeb Arslan yang disebarkan menerusi akhbarnya yang berasas di Geneva, La Nation Arabe.
Tidak lama selepas berakhirnya Perang Dunia Kedua barulah Malik Bennabi menulis buku. Fenomena Al Quran (Le Phenomene Coranique) diterbitkan pada 1946; setahun kemudian terbitnya Labbaik, satu-satunya novel karya beliau; Les Conditions de la Renaissance pada 1948 dan pada 1954 beliau menerbitkan La Vocation de l’Islam. Buku-bukunya, antara lain, bertujuan membincangkan aspek-aspek teoretikal untuk menghidupkan kembali gerakan Islah.
Malik mengiktiraf bahawa gerakan kebangkitan Islam dipelopori Jamaluddin al-Afghani meskipun beliau tidak bersetuju bulat-bulat dengan pandangan al-Afghani. Beliau melihat al-Afghani sebagai rajul fitrah atau insan semulajadi yang dapat memberi sumbangan besar terhadap kemajuan peradaban berbanding apa yang menurut Malik, mereka yang berada di luar peradaban. Disamping itu, ketika cubaan-cubaan untuk meniupkan semangat nahdah di kalangan umat Islam dilakukan sebelum ini, semuanya berpunca lebih kepada sentimen puak atau kabilah; al-Afghani tokoh pertama yang memulakan perjuangannya pada Islam, bukan etnik.
Api-api kebangkitan Islam yang disemai ini memainkan peranan besar untuk mengejutkan umat Islam yang sedang tidur di dalam apa yang digelarkan Malik Bennabi sebagai dunia pasca kerajaan Almohads (yakni zaman kemunduran Islam).
Namun al-Afghani menurut kacamata Malik bukanlah pembaharu, tetapi mujahid. Pembaharu, menurutnya, lebih wajar diberikan gelaran tersebut kepada Muhammad Abduh. Muhammad Abduh yang menyedari bahawa untuk menjayakan reformasi di dalam dunia umat Islam, harus ditumpukan pada perkara pokok-pangkalnya dahulu – isu kerohanian. Namun Malik mengkritik pendapat bahawa pendekatan untuk mengubah akidah yang perlu ditekankan, kerana insan pasca Almohads sekalipun, masih setia kepada akidahnya walaupun mundur di dalam aspek lain. Beliau tidak bersetuju dengan pendekatan yang dogmatik dan kaku, beliau mahukan pendekatan yang lebih mengambilkira cara pengamalan Islam di dalam bidang-bidang kehidupan.
Malik Bennabi turut mengkritik pengikut-pengikut kedua-dua tokoh kebangkitan Islam tersebut kerana, menurutnya, di dalam La Vocation de l’Islam (Wijhat al Alam al Islami atau Islam di dalam Sejarah dan Sosiologi), "mereka bukannya mencari fakta, tetapi untuk bukti-bukti" terhadap pihak lawan, yang menyebabkan "mereka tidak cuba mendengar antara satu sama lain, dan setiap daripada mereka akan cuba mengalahkan yang satu lagi di dalam kata-kata yang tidak berhenti-henti."
Sebenarnya beliau turut mengkritik kedua-dua pendukung gerakan modernisasi dan Islah. Baginya di dalam berinteraksi dengan golongan evolues di Algeria, gerakan modenisasi terlalu ghairah di dalam mengambil peradaban Barat dari aspek superficial dan mahu menirunya bulat-bulat untuk menyelesaikan masalah umat Islam. Ini sesuai dengan idenya mengenai ‘dunia benda’ dan ‘dunia ide’. Beliau menilai bahawa ‘dunia ide’ lebih bermakna dari ‘dunia benda’ – maka meskipun negara Jerman menerima kemusnahan yang dasyat dari segi fizikal ketika Perang Dunia Kedua, negara tersebut pantas mendapat tempat semula antara ekonomi paling dinamik dunia kerana ‘dunia ide’nya tidak dimusnahkan oleh Pihak Bersekutu. Turut dikritiknya ialah negara-negara dunia ketiga yang baru merdeka waktu itu, yang berlumba-lumba mendirikan tugu-tugu fizikal kemajuan sedangkan pengisian peradaban itu sendiri tidak wujud; sebagaimana mungkin apa yang sedang terjadi di negara kita hari ini!
Malik Bennabi juga mempunyai perbezaan pendapat dengan pemimpin Ikhwanul Muslimun, Syed Qutb yang dibunuh oleh Gamal Abdul Nasser. Pertelingkahan intelektual ini berakar umbi apabila Syed Qutb menukar tajuk bukunya dari "Ke Arah Sebuah Masyarakat Islam yang Bertamadun" kepada "Ke Arah Sebuah Masyarakat Islam" yang menurut Bennabi, mengandaikan bahawa masyarakat Islam sudah bertamadun sedangkan realiti adalah sebaliknya. Syed Qutb membalas bahawa tindakannya adalah untuk memendekkan tajuk tersebut dan beliau tidak menilai peradaban menurut kaca mata Barat.
Sumbangan pemikiran yang paling besar dibuat oleh Malik Bennabi, sebagaimana yang telah saya nyatakan ialah Teori Peradabannya. Ketika tokoh-tokoh kebangkitan Islam sezaman dengannya lebih meminati istilah ‘nahdah’ (renaissance) atau ‘al-taqaddum’ (pembangunan) beliau menekankan istilah ‘hadara’ (peradaban). Di sini kita dapat melihat dinamik pemikiran di antara Ibnu Khaldun, antara pelopor awal ilmu sosiologi ketika akhir zaman keagungan peradaban Islam yang mengarang Mukaddimah dan Arnold Toynbee, seorang sarjana moden British yang mengkaji peradaban dan telah menghasilkan A Study of History.
Persamaan peradaban yang dikemukan olehnya ialah,
Insan + Tanah + Masa = Peradaban.
Namun, dengan menggunakan analisa saintifik, beliau menegaskan bahawa pemangkin atau catalyseur terhadap elemen-elemen tersebut ialah agama. Meskipun ada yang mencabar pendapatnya dengan memberikan contoh negara Soviet yang baru muncul sebagai kuasa dunia waktu itu, sebagaimana Toynbee, Malik melihat perkembangan tersebut sebagai satu yang berpokok pangkal dari tamadun Barat-Kristian.
Dengan pengaruh Ibnu Khaldun di dalam kitaran peradaban, Malik Bennabi mengemukakan pendapatnya mengenai tiga peringkat peradaban. Bermula dengan Peringkat Kerohanian – jika dilihat umat Islam melalui zaman ini bermula dengan turunnya wahyu kepada Nabi Muhammad s.a.w. dan berakhir dengan jatuhnya Khulafa ar-Rasyidin ketika Perang Siffin. Ini sesuai dengan teori beliau dan Ibnu Khaldun bahawa agama memainkan peranan yang besar di dalam menggerakkan sesebuah tamadun.
Kemudian Peringkat Rasional di mana prinsip-prinsip agama masih kukuh dan berkembang, ketika ilmu sains dan kesenian mula mendapat tempat dan ketamadunan pada waktu ini menuju ke zaman kegemilangannya, tetapi masyarakat tidak lagi dapat dikawal sebagaimana Peringkat Kerohanian. Jika di Islam peringkat ini ditandai oleh kegemilangan pemerintahan Umayyah dan Abasiah, dunia Barat melaluinya ketika Renaissance berkembang di Eropah selepas kejatuhan Islam.
Akhir sekali, Peringkat Naluri di mana masyarakat sesebuah peradaban menghadapi zaman kegelapan. Ikatan keimanan yang menjadi penghubung anggota masyarakat sudah lemah dan kitaran peradaban berakhir. Jika melihat dari segi sejarah, zaman ini dilalui oleh umat Islam ketika jatuhnya Baghdad kepada bangsa Mongol, tidak lama selepas hidupnya Ibnu Khaldun.
Toynbee juga seorang yang banyak terpengaruh dengan Ibnu Khaldun. Toynbee, sebagaimana Spengler, melihat krisis dunia Barat kontemporari akan dapat diatasi dengan satu tempoh di masa hadapan apabila mereka akan memeluk sebuah agama dari Timur. Meskipun begitu, wujud perbezaan di antara Malik Bennabi dengan Toynbee. Toynbee juga seorang sarjana sejarah yang banyak mempengaruhi tasawwur peradabannya, sedangkan Malik Bennabi cuma meminati sejarah lebih sebagai alat untuk menjelaskan teori-teorinya mengenai peradaban.
Sumbangan Malik Bennabi terhadap dunia intelektual Islam terlalu besar untuk diperkatakan. Menurut Dato’ Seri Anwar Ibrahim, "Jika Iqbal menyalakan api dengan imaginasi puisinya, Bennabi melakukan sedemikan dengan prosanya yang sempurna. Tetapi, ulasan Bennabi mengenai pengalaman realiti peradaban mengatasi Iqbal."
NIK NAZMI NIK AHMAD, 20, ialah seorang exco Unit Pendidikan Politik-Institut Kajian Dasar (UPP-IKD) dan Editor SuaraAnum.com.
TEBAK2AN
Apa persamaan dan bedanya Megi Z dan Tukang Sayur ?
Persamaanya : sama-sama teriak Bedanya : Megi Z Teriak 'Teganya-teganya', Tukang sayur teriak 'Togenya-togenya'
Kenapa dipapan Keyboard Komputer tertulis 'ENTER' ?
Karena kalau tulisannya 'ENTAR' programnya ngga jalan-jalan dong
Apa bahasa Indianya Bumbu Dapur ?
Tumbar Miri Jahe
Ikan apa yang lahir, langsung sakit ?
Ikan Loahan (liat aja kepalanya yg benjol)
Persamaanya : sama-sama teriak Bedanya : Megi Z Teriak 'Teganya-teganya', Tukang sayur teriak 'Togenya-togenya'
Kenapa dipapan Keyboard Komputer tertulis 'ENTER' ?
Karena kalau tulisannya 'ENTAR' programnya ngga jalan-jalan dong
Apa bahasa Indianya Bumbu Dapur ?
Tumbar Miri Jahe
Ikan apa yang lahir, langsung sakit ?
Ikan Loahan (liat aja kepalanya yg benjol)
Kamis, September 18, 2008
Ma'ruf Nahi Mungkar
CARA MENASEHATI ORANG YANG TERANG-TERANGAN MELAKUKAN KEMAKSIATAN
Oleh
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz
Pertanyaan
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Sepucuk surat berasal dari Kuwait, dikirim oleh seseorang yang mengeluhkan saudaranya, ia menyebutkan bahwa saudaranya itu melakukan kemaksiatan dan telah sering dinasehati, tapi malah semakin terang-terangan. Pengirim surat mengharap bimbingan mengenai masalah ini.
Jawaban
Kewajiban sesama muslim adalah saling menasehati, saling tolong menolong dalam kebaikan dan ketakwaan, dan saling berwasiat dengan kebenaran dan kesabaran, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala
"Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertaqwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksaNya." [Al-Ma'idah : 2]
Dan ayat,
“Demi masa, Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran." [Al-'Ashr : l-3]
Serta sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia,
“Agama adalah nasehat." Ditanyakan kepada beliau, "Kepada siapa ya Rasulullah?" beliau jawab, "Kepada Allah, kitabNya, RasulNya, pemimpin kaum muslimin dan kaum muslimin lainnya."[1]
Kedua ayat dan hadits mulia ini menunjukkan wajibnya saling menasehati dan saling tolong menolong dalan kebaikan serta saling berwasiat dengan kebenaran. Jika seorang muslim melihat saudaranya tengah malas melaksanakan apa yang telah diwajibkan Allah atasnya, maka ia wajib menasehatinya dan mengajaknya kepada kebaikan serta mencegahnya dari kemungkaran sehingga masyarakatnya menjadi baik semua, lalu kebaikan akan tampak sementara keburukan akan sirna, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala
"Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang mungkar." [At-Taubah : 71]
Nabi Shallallahu alaihi wa sallam pun telah bersabda
"Barangsiapa di antara kalian melihat suatu kemungkaran, maka hendaklah ia merubahnya dengan tangannya, jika tidak bisa maka dengan lisannya, dan jika tidak bisa juga maka dengan hatinya, itulah selemah-lemahnya iman."[2]
Maka anda, penanya, selama anda menasehatinya dan mengarahkannya kepada kebaikan, namun ia malah semakin menampakkan kemaksiatan, maka hendaknya anda menjauhinya dan tidak lagi bergaul dengannya. Di samping itu, hendaknya anda mendorong orang lain yang lebih berpengaruh dan lebih dihormati oleh orang tersebut, untuk turut menasehatinya dan mengajaknya ke jalan Allah. Mudah-mudahan dengan begitu Allah memberikan manfaat. Jika anda mendapati bahwa penjauhan anda itu malah semakin memperburuk dan anda memandang bahwa tetap menjalin hubungan dengannya itu lebih bermanfaat baginya untuk perkara agamanya, atau lebih sedikit keburukannya, maka jangan anda jauhi, karena penjauhan ini dimaksudkan sebagai terapi, yaitu sebagai obatnya. Tapi jika itu tidak berguna dan malah semakin memperparah penyakitnya, maka hendaknya anda melakukan yang lebih maslahat, yaitu tetap berhubungan dengannya dan terus menerus menasehatinya, mengajaknya kepada kebaikan dan mencegahnya dari keburukan, tapi tidak menjadikannya sebagai kawan atau teman dekat. Mudah-mudahan Allah memberikan manfaat dengan itu. Inilah cara yang paling baik dalam kasus semacam ini yang berasal dari ucapan para ahli ilmu.
[Majmu' Fatawa wa Maqalat Mutanawwi'ah, juz 5, hal. 343-344, Syaikh ibnu Baz]
APA YANG DIMAKSUD DENGAN HIKMAH?
Pertanyaan
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Apa yang dimaksud dengan hikmah? Dan bagaimana seorang muslim bisa menyandangnya?
Jawaban
Hikmah adalah keselarasan dalam bersikap dan menetapkan. Kesalahan bersikap berarti bertolak belakang dengan hikmah. Karena itu, sebagian dai yang berdakwah tanpa hikmah, ketika melihat seseorang yang dinilainya mungkar, ia akan menjelekkannya dan meneriakinya. Contohnya: Ketika melihat seseorang masuk masjid lalu langsung duduk tanpa shalat tahiyyatul masjid lebih dulu, ia akan meneriakinya. Demikian yang tanpa hikmah. Tapi yang dengan hikmah, tidak akan begitu. la akan menjelaskannya kepada orang tersebut dan menguraikan haditsnya. Demikian juga yang dilakukan dalam perkara-perkara yang wajib dan yang haram serta lainnya.
Dan begitu pula dalam sikap-sikap khusus yang berhubungan dengan manusia, seperti dalam bidang keuangan, harus pula dengan hikmah. Berapa banyak orang yang boros dan berhutang hanya untuk hal-hal yang tidak penting dan tidak mendesak.
PENJELASAN AYAT (TIADALAH ORANG YANG SESAT ITU AKAN MEMBERI MUDHARAT KEPADAMU APABILA KAMU TELAH MENDAPAT PETUNJUK)
Oleh
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin
Pertanyaan
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Ketika dikatakan kepada seseorang, "Kenapa anda tidak merubah kemungkaran ini?" atau "Kenapa anda tidak menasehati keluarga anda untuk meninggalkan kemungkaran ini?" lalu orang tersebut menyebutkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala
"Tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk." [Al-Ma'idah : 105]
Bagaimana jawaban Syaikh?
Jawaban
Ayat ini adalah ayat muhkamah, ayat ini tidak dihapus hukumnya, namun orang yang berdalih dengan ayat ini telah salah faham. Dalam ini Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan
"Tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk." [Al-Ma'idah: 105]
Di antara petunjuk itu adalah menyuruh manusia berbuat baik dan mencegah kemungkaran sesuai kesanggupan. Jika meninggalkan amar ma'ruf nahi mungkar tidak disebut telah berpetunjuk, karena jika telah tampak kemungkaran pada suatu kaum lalu ia tidak berusaha merubahnya, maka dikhawatirkan Allah akan menimpakan siksaan secara umum yang menimpa semua orang (yang baik dan yang buruk).
[Alfazh wa Mafahim fi Mizanisy Syari'ah, hal. 33 Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin]
[Disalin dari buku Al-Fatawa Asy-Syar'iyyah Fi Al-Masa'il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini, Penerjemah Musthofa Aini, Penerbit Darul Haq]
_________
Oleh
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz
Pertanyaan
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Sepucuk surat berasal dari Kuwait, dikirim oleh seseorang yang mengeluhkan saudaranya, ia menyebutkan bahwa saudaranya itu melakukan kemaksiatan dan telah sering dinasehati, tapi malah semakin terang-terangan. Pengirim surat mengharap bimbingan mengenai masalah ini.
Jawaban
Kewajiban sesama muslim adalah saling menasehati, saling tolong menolong dalam kebaikan dan ketakwaan, dan saling berwasiat dengan kebenaran dan kesabaran, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala
"Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertaqwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksaNya." [Al-Ma'idah : 2]
Dan ayat,
“Demi masa, Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran." [Al-'Ashr : l-3]
Serta sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia,
“Agama adalah nasehat." Ditanyakan kepada beliau, "Kepada siapa ya Rasulullah?" beliau jawab, "Kepada Allah, kitabNya, RasulNya, pemimpin kaum muslimin dan kaum muslimin lainnya."[1]
Kedua ayat dan hadits mulia ini menunjukkan wajibnya saling menasehati dan saling tolong menolong dalan kebaikan serta saling berwasiat dengan kebenaran. Jika seorang muslim melihat saudaranya tengah malas melaksanakan apa yang telah diwajibkan Allah atasnya, maka ia wajib menasehatinya dan mengajaknya kepada kebaikan serta mencegahnya dari kemungkaran sehingga masyarakatnya menjadi baik semua, lalu kebaikan akan tampak sementara keburukan akan sirna, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala
"Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang mungkar." [At-Taubah : 71]
Nabi Shallallahu alaihi wa sallam pun telah bersabda
"Barangsiapa di antara kalian melihat suatu kemungkaran, maka hendaklah ia merubahnya dengan tangannya, jika tidak bisa maka dengan lisannya, dan jika tidak bisa juga maka dengan hatinya, itulah selemah-lemahnya iman."[2]
Maka anda, penanya, selama anda menasehatinya dan mengarahkannya kepada kebaikan, namun ia malah semakin menampakkan kemaksiatan, maka hendaknya anda menjauhinya dan tidak lagi bergaul dengannya. Di samping itu, hendaknya anda mendorong orang lain yang lebih berpengaruh dan lebih dihormati oleh orang tersebut, untuk turut menasehatinya dan mengajaknya ke jalan Allah. Mudah-mudahan dengan begitu Allah memberikan manfaat. Jika anda mendapati bahwa penjauhan anda itu malah semakin memperburuk dan anda memandang bahwa tetap menjalin hubungan dengannya itu lebih bermanfaat baginya untuk perkara agamanya, atau lebih sedikit keburukannya, maka jangan anda jauhi, karena penjauhan ini dimaksudkan sebagai terapi, yaitu sebagai obatnya. Tapi jika itu tidak berguna dan malah semakin memperparah penyakitnya, maka hendaknya anda melakukan yang lebih maslahat, yaitu tetap berhubungan dengannya dan terus menerus menasehatinya, mengajaknya kepada kebaikan dan mencegahnya dari keburukan, tapi tidak menjadikannya sebagai kawan atau teman dekat. Mudah-mudahan Allah memberikan manfaat dengan itu. Inilah cara yang paling baik dalam kasus semacam ini yang berasal dari ucapan para ahli ilmu.
[Majmu' Fatawa wa Maqalat Mutanawwi'ah, juz 5, hal. 343-344, Syaikh ibnu Baz]
APA YANG DIMAKSUD DENGAN HIKMAH?
Pertanyaan
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Apa yang dimaksud dengan hikmah? Dan bagaimana seorang muslim bisa menyandangnya?
Jawaban
Hikmah adalah keselarasan dalam bersikap dan menetapkan. Kesalahan bersikap berarti bertolak belakang dengan hikmah. Karena itu, sebagian dai yang berdakwah tanpa hikmah, ketika melihat seseorang yang dinilainya mungkar, ia akan menjelekkannya dan meneriakinya. Contohnya: Ketika melihat seseorang masuk masjid lalu langsung duduk tanpa shalat tahiyyatul masjid lebih dulu, ia akan meneriakinya. Demikian yang tanpa hikmah. Tapi yang dengan hikmah, tidak akan begitu. la akan menjelaskannya kepada orang tersebut dan menguraikan haditsnya. Demikian juga yang dilakukan dalam perkara-perkara yang wajib dan yang haram serta lainnya.
Dan begitu pula dalam sikap-sikap khusus yang berhubungan dengan manusia, seperti dalam bidang keuangan, harus pula dengan hikmah. Berapa banyak orang yang boros dan berhutang hanya untuk hal-hal yang tidak penting dan tidak mendesak.
PENJELASAN AYAT (TIADALAH ORANG YANG SESAT ITU AKAN MEMBERI MUDHARAT KEPADAMU APABILA KAMU TELAH MENDAPAT PETUNJUK)
Oleh
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin
Pertanyaan
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Ketika dikatakan kepada seseorang, "Kenapa anda tidak merubah kemungkaran ini?" atau "Kenapa anda tidak menasehati keluarga anda untuk meninggalkan kemungkaran ini?" lalu orang tersebut menyebutkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala
"Tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk." [Al-Ma'idah : 105]
Bagaimana jawaban Syaikh?
Jawaban
Ayat ini adalah ayat muhkamah, ayat ini tidak dihapus hukumnya, namun orang yang berdalih dengan ayat ini telah salah faham. Dalam ini Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan
"Tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk." [Al-Ma'idah: 105]
Di antara petunjuk itu adalah menyuruh manusia berbuat baik dan mencegah kemungkaran sesuai kesanggupan. Jika meninggalkan amar ma'ruf nahi mungkar tidak disebut telah berpetunjuk, karena jika telah tampak kemungkaran pada suatu kaum lalu ia tidak berusaha merubahnya, maka dikhawatirkan Allah akan menimpakan siksaan secara umum yang menimpa semua orang (yang baik dan yang buruk).
[Alfazh wa Mafahim fi Mizanisy Syari'ah, hal. 33 Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin]
[Disalin dari buku Al-Fatawa Asy-Syar'iyyah Fi Al-Masa'il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini, Penerjemah Musthofa Aini, Penerbit Darul Haq]
_________
Tazkiyatun Nufus
W
WASPADALAH TERHADAP PERANGKAP RIYA..!
Oleh
Syaikh Husain bin Audah Al-Awayisyah
IKHLAS UNTUK ALLAH TA’ALA [1]
Apa syarat diterimanya amal?
Sebelum anda melangkah satu langkah –wahai saudaraku muslim- hendaklah anda mengetahui jalan untuk merengkuh keselamatanmu. Janganlah anda memberati diri dengan amalan-amalan yang banyak,. Karena, alangkah banyak orang yang memperbanyak amalan, namun hal itu tidak memberikan manfaat kepadanya kecuali rasa capai dan keletihan semata di dunia dan siksaan di akhirat. [2]
Maka, sebelum memulai semua amalan, hendaklah anda mengetahui syarat diterimanya amal. Yaitu harus terpenuhi dua perkara penting pada setiap amalan. Jika salah satu tidak tercapai, akibatnya amalan seseorang tidak ada harapan untuk diterima. Pertama : Ikhlas karena Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kedua : Amalan itu telah diperintahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Al-Qur’an, atau dijelaskan oleh Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sunnahnya, dan mengikuti Rasulullah dalam pelaksanaannya.
Jika salah satu dari dua syarat ini rusak, perbuatan yang baik tidak masuk kategori amal shalih dan tidak akan diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Pernyataan ini ditunjukkan oleh firman Allah Ta’ala.
“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabb-nya” [Al-Kahfi : 110]
Dalam ayat ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan agar amal yang dikerjakan ialah amalan shalih, yaitu amal perbuatan yang sesuai dengan aturan syari’at. Selanjutnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan orang yang menjalankannya supaya mengikhlaskan amalan itu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semata, tidak mencari pahala atau pamrih dari selain-Nya dengan amalan itu.
Al-Hafiz Ibnu Katsir berkata dalam tafsirnya ; “Dua perkara ini merupakan rukun diterimanya suatu amalan. Yaitu, amalan itu harus murni untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala dan benar sesuai dengan petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Keterangan serupa juga diriwayatkan Al-Qadhi Iyadh rahimahullah dan lainnya” [Tafsir surah Al-Kahfi].
PERINTAH IKHLAS, LARANGAN BERBUAT RIYA DAN SYIRIK [3]
Ketahuilah, wahai saudaraku muslim, bahwa semua amalan pasti terjadi dengan niat. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Sesungguhnya semua amalan ini terjadi dengan niat, dan setiap orang mendapatkan apa yang dia niatkan” [4]
Dan dalam amal itu harus mengikhlaskan niat untuk Allah Ta’ala berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.
“Padahal mereka tidak disuruh, kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat ; dan yang demikian itulah agama yang lurus” [Al-Bayyinah : 5]
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman.
“Katakanlah : ‘Jika kamu menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu atas kamu melahirkannya, pasti Allah mengetahui” [Ali-Imran : 29]
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga telah memperingatkan bahaya dari berbuat riya’, dalam firman-Nya.
“Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapus amalmu” [Az-Zumar : 65]
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Allah Ta’ala berfirman ; “Aku sangat tidak membutuhkan sekutu. Barangsiapa beramal dengan suatu amalan, dia mneyekutukan selain Aku bersama-Ku pada amalan itu, Aku tinggalkan dia dan sekutunya” [HR Muslim, no. 2985]
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Barangsiapa mempelajari ilmu yang dengannya dicari wajah Allah Azza wa Jalla, namun ia tidak mempelajarinya kecuali untuk meraih kesenangan dunia dengan ilmu itu, ia tidak akan mendapat aroma surga pada hari kiamat” [5]
RIYA DAN JENIS-JENISNYA [6]
Di antara jenis riya’ ialah sebagi berikut.
1). Riya Yang Berkaitan Dengan Badan
Misalnya dengan menampakkan kekurusan dan wajah pucat, agar penampakan ini, orang-orang yang melihatnya menilainya memiliki kesungguhan dan dominannya rasa takut terhadap akhirat. Dan yang mendekati penampilan seperti ini ialah dengan merendahkan suara, menjadikan dua matanya menjadi cekung, menampakkan keloyoan badan, untuk menampakkan bahwa ia rajin berpuasa.
2). Riya Dari Sisi Pakaian
Misalnya, membiarkan bekas sujud pada wajah, mengenakan pakaian jenis tertentu yang biasa dikenakan oleh sekelompok orang yang masyarakat menilai mereka sebagai ulama, maka dia mengenakan pakaian itu agar dikatakan sebagai orang alim.
3). Riya Dengan Perkataan
Umumnya, riya’ seperti ini dilakukan oleh orang-orang yang menjalankan agama. Yaitu dengan memberi nasihat, memberi peringatan, menghafalkan hadits-hadits dan riwayat-riwayat, dengan tujuan untuk berdiskusi dan melakukan perdebatan, menampakkan kelebihan ilmu, berdzikir dengan menggerakkan dua bibir di hadapan orang banyak, menampakkan kemarahan terhadap kemungkaran di hadapan manusia, membaca Al-Qur’an dengan merendahkan dan melembutkan suara. Semua itu untuk menunjukkan rasa takut, sedih, dan khusyu’ (kepada Allah, pent).
4). Riya’ Dengan Perbuatan
Seperti riya’nya seseorang yang shalat dengan berdiri sedemikian lama, memanjangkan ruku, sujud dan menampakkan kekhusyu’an, riya’ dengan memperlihatkan puasa, perang (jihad), haji, shadaqah dan semacamnya.
5). Riya’ Dengan Kawan-Kawan Dan Tamu-Tamu
Seperti orang yang memberatkan dirinya meminta kunjungan seorang alim (ahli ilmu) atau ‘abid (ahli ibadah), agar dikatakan “sesungguhnya si Fulan telah mengunjungi si Fulan”. Atau juga mengundang orang banyak untuk mengunjunginya, agar dikatakan “sesungguhnya orang-orang baragama sering mendatanginya”.
PERKARA YANG DISANGKA RIYA DAN SYIRIK, PADAHAL BUKAN !
1). Pujian Manusia Untuk Seseorang Terhadap Perbuatan Baiknya
Dari Abu Dzar, dia berkata : Ditanyakan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Beritakan kepadaku tentang seseorang yang melakukan amalan kebaikan dan orang-orang memujinya padanya!” Beliau bersabda : “itu adalah kabar gembira yang segera bagi seorang mukmin” [HR Muslim, no. 2642, Pent)
2). Giatnya Seorang Hamba Melakukan Ibadah Pada Saat Dilihat Oleh Orang-Orang Yang Beribadah
Al-Maqdisi rahimahullah berkata : Terkadang seseorang bermalam bersama orang-orang yang melaksanakan shalat tahajjud, lalu mereka semua melakukan shalat di sebahagian besar waktu malamnya, sedangkan kebiasaan orang itu melakukan shalat malam satu jam, sehingga ia pun menyesuaikan dengan mereka. Atau mereka berpuasa, lalu ia pun berpuasa. Seandainya bukan karena orang-orang itu, semangat tersebut tidak muncul.
Mungkin ada seseorang yang menyangka bahwa (perbuatan) itu merupakan riya’, padahal tidak mutlak demikian. Bahkan padanya terdapat perincian, bahwasanya setiap mukmin menyukai beribadah kepada Allah Ta’ala, tetapi terkadang banyak kendala yang menghalanginya. Dan kelalaian telah menyeretnya, sehingga dengan menyaksikan orang lain itu, maka kemungkinan menjadi faktor yang menyebabkan hilangnya kelalaian tersebut, kemudian ia dapat menguji urusannya itu, dengan cara menggambarkan orang-orang lain itu berada di suatu tempat yang dia dapat melihat mereka, namun mereka tidak dapat melihatnya. Jika dia melihat jiwanya ringan melakukan ibadah, maka itu untuk Allah. Jika jiwanya merasa berat, maka keringanan jiwanya di hadapan orang banyak itu merupakan riya’. Bandingkan (perkara lainnya) dengan ini” [7]
Aku katakan :
Kemalasan seseorang ketika sendirian datang masuk dalam konteks sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
“(Sesungguhnya srigala itu hanyalah memakan kambing yang menyendiri), sedangkan semangatnya masuk ke dalam bab melaksanakan sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
“(Hendaklah kamu menetapi jama’ah) [8]
3). Membaguskan Dan Memperindah Pakaian, Sandal Dan Semacamnya
Di dalam Shahih Muslim, dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda.
“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada kesombongan seberat biji sawi”. Seorang laki-laki bertanya : “Ada seseorang suka bajunya bagus dan sandalnya bagus (apakah termasuk kesombongan?)”. Beliau menjawab : “Sesungguhnya Allah Maha Indah dan menyukai keindahan kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia” [HR Muslim no. 2749, Pent]
4). Tidak Menceritakan Dosa-Dosanya Dan Menyembunyikan
Ini merupakan kewajiban menurut syari’at atas setiap muslim, tidak boleh menceritakan kemaksiatan-kemaksiatan berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
“Semua umatku akan diampuni (atau : tidak boleh dighibah) kecuali orang yang melakukan kemaksiatan dengan terang-terangan. Dan sesungguhnya termasuk melakukan kemaksiatan dengan terang-terangan, yaitu seseorang yang melakukan perbuatan (kemaksiatan) pada waktu malam dan Allah telah menutupinya (yakni, tidak ada orang yang mengetahuinya, Pent), lalu ketika pagi dia mengatakan : “Hai Fulan, kemarin aku melakukan ini dan itu”, padahal pada waktu malam Allah telah menutupinya, namun ketika masuk waktu pagi dia membuka tirai Allah terhadapnya” [HR Al-Bukhari, no. 6069, Muslim no. 2990, Pent]
Menceritakan dosa-dosa memiliki banyak kerusakan, (dan) bukan di sini perinciannya. Di antaranya, mendorong seseorang untuk berbuat maksiat di tengah-tengah hamba dan menyepelekan perintah-perintah Allah Ta’ala. Barangsiapa menyangka bahwa menyembunyikan dosa-dosa merupakan riya’ dan menceritakan dosa-dosa merupakan keikhlasan, maka orang itu telah dirancukan oleh setan. Kita berlindung kepada Allah darinya.
5). Seorang Hamba Yang Meraih Ketenaran Dengan Tanpa Mencarinya
Al-Maqdisi berkata : “Yang tercela, ialah seseorang mencari ketenaran. Adapaun adanya ketenaran dari sisi Allah Ta’ala tanpa usaha menusia untuk mencarinya, maka demikian itu tidak tercela. Namun adanya ketenaran itu merupakan cobaan bagi orang-orang yang lemah (imannya, Pent)” [9]
Demikian, beberapa penjelasan berkaitan dengan riya’. Semoga Allah Azza wa Jalla menjauhkan kita semua dari sifat buruk ini, baik dalam perkataan maupun perbuatan, serta semoga menjadikan kita termasuk orang-orang yang ikhlas dalam beramal.
WASPADALAH TERHADAP PERANGKAP RIYA..!
Oleh
Syaikh Husain bin Audah Al-Awayisyah
IKHLAS UNTUK ALLAH TA’ALA [1]
Apa syarat diterimanya amal?
Sebelum anda melangkah satu langkah –wahai saudaraku muslim- hendaklah anda mengetahui jalan untuk merengkuh keselamatanmu. Janganlah anda memberati diri dengan amalan-amalan yang banyak,. Karena, alangkah banyak orang yang memperbanyak amalan, namun hal itu tidak memberikan manfaat kepadanya kecuali rasa capai dan keletihan semata di dunia dan siksaan di akhirat. [2]
Maka, sebelum memulai semua amalan, hendaklah anda mengetahui syarat diterimanya amal. Yaitu harus terpenuhi dua perkara penting pada setiap amalan. Jika salah satu tidak tercapai, akibatnya amalan seseorang tidak ada harapan untuk diterima. Pertama : Ikhlas karena Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kedua : Amalan itu telah diperintahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Al-Qur’an, atau dijelaskan oleh Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sunnahnya, dan mengikuti Rasulullah dalam pelaksanaannya.
Jika salah satu dari dua syarat ini rusak, perbuatan yang baik tidak masuk kategori amal shalih dan tidak akan diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Pernyataan ini ditunjukkan oleh firman Allah Ta’ala.
“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabb-nya” [Al-Kahfi : 110]
Dalam ayat ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan agar amal yang dikerjakan ialah amalan shalih, yaitu amal perbuatan yang sesuai dengan aturan syari’at. Selanjutnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan orang yang menjalankannya supaya mengikhlaskan amalan itu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semata, tidak mencari pahala atau pamrih dari selain-Nya dengan amalan itu.
Al-Hafiz Ibnu Katsir berkata dalam tafsirnya ; “Dua perkara ini merupakan rukun diterimanya suatu amalan. Yaitu, amalan itu harus murni untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala dan benar sesuai dengan petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Keterangan serupa juga diriwayatkan Al-Qadhi Iyadh rahimahullah dan lainnya” [Tafsir surah Al-Kahfi].
PERINTAH IKHLAS, LARANGAN BERBUAT RIYA DAN SYIRIK [3]
Ketahuilah, wahai saudaraku muslim, bahwa semua amalan pasti terjadi dengan niat. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Sesungguhnya semua amalan ini terjadi dengan niat, dan setiap orang mendapatkan apa yang dia niatkan” [4]
Dan dalam amal itu harus mengikhlaskan niat untuk Allah Ta’ala berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.
“Padahal mereka tidak disuruh, kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat ; dan yang demikian itulah agama yang lurus” [Al-Bayyinah : 5]
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman.
“Katakanlah : ‘Jika kamu menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu atas kamu melahirkannya, pasti Allah mengetahui” [Ali-Imran : 29]
Allah Subhanahu wa Ta’ala juga telah memperingatkan bahaya dari berbuat riya’, dalam firman-Nya.
“Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapus amalmu” [Az-Zumar : 65]
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Allah Ta’ala berfirman ; “Aku sangat tidak membutuhkan sekutu. Barangsiapa beramal dengan suatu amalan, dia mneyekutukan selain Aku bersama-Ku pada amalan itu, Aku tinggalkan dia dan sekutunya” [HR Muslim, no. 2985]
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
“Barangsiapa mempelajari ilmu yang dengannya dicari wajah Allah Azza wa Jalla, namun ia tidak mempelajarinya kecuali untuk meraih kesenangan dunia dengan ilmu itu, ia tidak akan mendapat aroma surga pada hari kiamat” [5]
RIYA DAN JENIS-JENISNYA [6]
Di antara jenis riya’ ialah sebagi berikut.
1). Riya Yang Berkaitan Dengan Badan
Misalnya dengan menampakkan kekurusan dan wajah pucat, agar penampakan ini, orang-orang yang melihatnya menilainya memiliki kesungguhan dan dominannya rasa takut terhadap akhirat. Dan yang mendekati penampilan seperti ini ialah dengan merendahkan suara, menjadikan dua matanya menjadi cekung, menampakkan keloyoan badan, untuk menampakkan bahwa ia rajin berpuasa.
2). Riya Dari Sisi Pakaian
Misalnya, membiarkan bekas sujud pada wajah, mengenakan pakaian jenis tertentu yang biasa dikenakan oleh sekelompok orang yang masyarakat menilai mereka sebagai ulama, maka dia mengenakan pakaian itu agar dikatakan sebagai orang alim.
3). Riya Dengan Perkataan
Umumnya, riya’ seperti ini dilakukan oleh orang-orang yang menjalankan agama. Yaitu dengan memberi nasihat, memberi peringatan, menghafalkan hadits-hadits dan riwayat-riwayat, dengan tujuan untuk berdiskusi dan melakukan perdebatan, menampakkan kelebihan ilmu, berdzikir dengan menggerakkan dua bibir di hadapan orang banyak, menampakkan kemarahan terhadap kemungkaran di hadapan manusia, membaca Al-Qur’an dengan merendahkan dan melembutkan suara. Semua itu untuk menunjukkan rasa takut, sedih, dan khusyu’ (kepada Allah, pent).
4). Riya’ Dengan Perbuatan
Seperti riya’nya seseorang yang shalat dengan berdiri sedemikian lama, memanjangkan ruku, sujud dan menampakkan kekhusyu’an, riya’ dengan memperlihatkan puasa, perang (jihad), haji, shadaqah dan semacamnya.
5). Riya’ Dengan Kawan-Kawan Dan Tamu-Tamu
Seperti orang yang memberatkan dirinya meminta kunjungan seorang alim (ahli ilmu) atau ‘abid (ahli ibadah), agar dikatakan “sesungguhnya si Fulan telah mengunjungi si Fulan”. Atau juga mengundang orang banyak untuk mengunjunginya, agar dikatakan “sesungguhnya orang-orang baragama sering mendatanginya”.
PERKARA YANG DISANGKA RIYA DAN SYIRIK, PADAHAL BUKAN !
1). Pujian Manusia Untuk Seseorang Terhadap Perbuatan Baiknya
Dari Abu Dzar, dia berkata : Ditanyakan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Beritakan kepadaku tentang seseorang yang melakukan amalan kebaikan dan orang-orang memujinya padanya!” Beliau bersabda : “itu adalah kabar gembira yang segera bagi seorang mukmin” [HR Muslim, no. 2642, Pent)
2). Giatnya Seorang Hamba Melakukan Ibadah Pada Saat Dilihat Oleh Orang-Orang Yang Beribadah
Al-Maqdisi rahimahullah berkata : Terkadang seseorang bermalam bersama orang-orang yang melaksanakan shalat tahajjud, lalu mereka semua melakukan shalat di sebahagian besar waktu malamnya, sedangkan kebiasaan orang itu melakukan shalat malam satu jam, sehingga ia pun menyesuaikan dengan mereka. Atau mereka berpuasa, lalu ia pun berpuasa. Seandainya bukan karena orang-orang itu, semangat tersebut tidak muncul.
Mungkin ada seseorang yang menyangka bahwa (perbuatan) itu merupakan riya’, padahal tidak mutlak demikian. Bahkan padanya terdapat perincian, bahwasanya setiap mukmin menyukai beribadah kepada Allah Ta’ala, tetapi terkadang banyak kendala yang menghalanginya. Dan kelalaian telah menyeretnya, sehingga dengan menyaksikan orang lain itu, maka kemungkinan menjadi faktor yang menyebabkan hilangnya kelalaian tersebut, kemudian ia dapat menguji urusannya itu, dengan cara menggambarkan orang-orang lain itu berada di suatu tempat yang dia dapat melihat mereka, namun mereka tidak dapat melihatnya. Jika dia melihat jiwanya ringan melakukan ibadah, maka itu untuk Allah. Jika jiwanya merasa berat, maka keringanan jiwanya di hadapan orang banyak itu merupakan riya’. Bandingkan (perkara lainnya) dengan ini” [7]
Aku katakan :
Kemalasan seseorang ketika sendirian datang masuk dalam konteks sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
“(Sesungguhnya srigala itu hanyalah memakan kambing yang menyendiri), sedangkan semangatnya masuk ke dalam bab melaksanakan sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
“(Hendaklah kamu menetapi jama’ah) [8]
3). Membaguskan Dan Memperindah Pakaian, Sandal Dan Semacamnya
Di dalam Shahih Muslim, dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda.
“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada kesombongan seberat biji sawi”. Seorang laki-laki bertanya : “Ada seseorang suka bajunya bagus dan sandalnya bagus (apakah termasuk kesombongan?)”. Beliau menjawab : “Sesungguhnya Allah Maha Indah dan menyukai keindahan kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia” [HR Muslim no. 2749, Pent]
4). Tidak Menceritakan Dosa-Dosanya Dan Menyembunyikan
Ini merupakan kewajiban menurut syari’at atas setiap muslim, tidak boleh menceritakan kemaksiatan-kemaksiatan berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
“Semua umatku akan diampuni (atau : tidak boleh dighibah) kecuali orang yang melakukan kemaksiatan dengan terang-terangan. Dan sesungguhnya termasuk melakukan kemaksiatan dengan terang-terangan, yaitu seseorang yang melakukan perbuatan (kemaksiatan) pada waktu malam dan Allah telah menutupinya (yakni, tidak ada orang yang mengetahuinya, Pent), lalu ketika pagi dia mengatakan : “Hai Fulan, kemarin aku melakukan ini dan itu”, padahal pada waktu malam Allah telah menutupinya, namun ketika masuk waktu pagi dia membuka tirai Allah terhadapnya” [HR Al-Bukhari, no. 6069, Muslim no. 2990, Pent]
Menceritakan dosa-dosa memiliki banyak kerusakan, (dan) bukan di sini perinciannya. Di antaranya, mendorong seseorang untuk berbuat maksiat di tengah-tengah hamba dan menyepelekan perintah-perintah Allah Ta’ala. Barangsiapa menyangka bahwa menyembunyikan dosa-dosa merupakan riya’ dan menceritakan dosa-dosa merupakan keikhlasan, maka orang itu telah dirancukan oleh setan. Kita berlindung kepada Allah darinya.
5). Seorang Hamba Yang Meraih Ketenaran Dengan Tanpa Mencarinya
Al-Maqdisi berkata : “Yang tercela, ialah seseorang mencari ketenaran. Adapaun adanya ketenaran dari sisi Allah Ta’ala tanpa usaha menusia untuk mencarinya, maka demikian itu tidak tercela. Namun adanya ketenaran itu merupakan cobaan bagi orang-orang yang lemah (imannya, Pent)” [9]
Demikian, beberapa penjelasan berkaitan dengan riya’. Semoga Allah Azza wa Jalla menjauhkan kita semua dari sifat buruk ini, baik dalam perkataan maupun perbuatan, serta semoga menjadikan kita termasuk orang-orang yang ikhlas dalam beramal.
Kerudung GAul vs Kerudung Panjang
Kerudung Gaul Versus Kerudung Panjang
Belakangan ini kita banyak sekali menyaksikan model atau ragam para perempuan muslim dalam memakai kerudung, namun dari sekian banyaknya model itu dapat kita kelompokkan kepada kerudung gaul dan panjang (memenuhi standar syari’at).
Salah satu keunikan Islam dibanding dengan agama-agama lain adalah terletak dari sisi komprehensif atau syamil ajaran yang dikandungnya. Islam tidak hanya mengurus masalah ketuhanan atau ibadah semata. Tetapi ia mengatur seluruh masalah dalam kehidupan ini mulai hal-hal yang besar sampai sekecil-kecilnya, mulai dari pembicaraan mengenai kenegaraan sampai masuk ke dalam kamar mandi. Dari sekian banyaknya persoalan yang diatur oleh Islam di antaranya adalah memakai jilbab atau kerudung. Yang mana dimaksudkan dari perintah ini untuk mencapai tujuan tertutupnya aurat perempuan yang wajib untuk ditutupi.
Adapun menjadi dasar keagamaan perintah ini, surat al-Ahzab ayat 59 yang artinya: “Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun Lagi Maha Penyayang”.
Ayat ini dipandang para ahli tafsir menjadi dasar kewajiban memakai kerudung, yang mana menjadi tunjukkan kewajibannya kepada seluruh kaum perempuan muslimat. Dengan indikasi kata “isteri-isteri orang mukmin”, maka sudah sangat jelas kewajibannya yang seharusnya tidak lagi diperdebatkan. Sekalipun dianggap sebagai pendapat umum dikalangan ulama namun ada juga yang menganggapnya hanya sebagai tradisi dan budaya ara. Dimana pendapat seperti ini sama artinya memandang memakai kerudung bukan suatu keharusan dan kewajiban dalam Islam.
Bagi perempuan muslimat kerudung harus dipahami tidak hanya sebatas sebagai kewajiban semata namun lebih jauh dari itu dengan menganggapnya sebagai kebutuhan. Sehingga kesannya tidak terpaksa dalam memakai karena pada hakikatnya kerudung itu adalah alat untuk melindungi kehormatan mereka dari laki-laki yang tidak benar bukan sebaliknya sebagaimana orang kebanyakan melihatnya menjadi beban dan kesulitan besar.
Dari ayat di atas dapat kita pahami bahwa model kerudung yang dikehendaki Al-Qur’an dengan syarat harus dapat menutupi seluruh tubuh mereka, jadi bukan hanya sebatas melekat pada bahagian kepala saja. Imam Qurtubi menjelaskan dalam tafsir Jami’nya mengenai ayat di atas, bahwa ukuran kerudung itu persis telekung dalam shalat atau dengan kata lain yang dapat menutupi dada mereka. Pada saat sekarang ini kita sudah banyak melihat para pemudi muslimat dan ibu-ibu memakai model kerudung yang dimaksud dalam ayat tersebut. Apakah itu di mall-mall, instansi pemerintah, pusat pasar dan lain sebagainya.
Tetapi belakangan muncul fenomena yang melanda pemakaian para muslimat khususnya di Indonesia yang tercinta ini. Dimana para perempuan muslimat banyak memang yang memakai kerudung tetapi tidak memenuhi syarat yang dimaksud oleh syari’at. Kerudung hanya menjadi model dan style dalam kehidupan sehari-hari. Bahasa populernya yang dengan kerudung gaul. Di antara bentuk dan tanda kerudung gaul yang sering kita lihat, di antaranya, kerudung hanya menutup kepala tetapi bahagian leher terbuka, kemudian tidak sampai menutupi dada.
Agaknya fenomena ini merupakan bahagian dari pengaruh globalisasi yang semakin cepat dan dinamis. Akhirnya kerudung yang pada awalnya dijadikan sebagai alat untuk melindungi kehormatan diri dan dalam rangka memenuhi tuntutan syari’at sebaliknya menjadi kebiasaan seremonial yang tidak lagi memenuhi kriteria syari’at itu sendiri.
Dari itu sangatlah layak perempuan muslimat kita untuk membudayakan kerudung yang betul-betul memenuhi standar syari’at yang bentuknya panjang dan menutupi dada. Dengan begitu lebih terlihat anggun dan terhormat dan otomatis para lelaki hidung belang akan merasa enggan untuk mengganggu mereka.
Paling tidak budaya berkerudung dengan memenuhi standar syari’at tidak sertamerta dapat langsung tersosialisasi di tengah-tengah masyarakat kita. Maka pembelajaran dari dini terhadap anak juga sangat berpengaruh ketika di sudah dewasa. Disamping itu pula keteladan yang diberikan ibu dalam kehidupan rumah tangga sangat menopang berbudayanya kerudung yang Islami tersebut. Kadang kita melihat ada juga hal yang tidak mengenakkan mata, manakala kita melihat para ibu yang mengantar anaknya ke sekolah yang notebenya memakai kerudung atau berbusana muslim.
Namun apabila kita adakan persentasi perbandingan perempuan muslimat kita antara yang memakai kerudung panjang dengan yang gaul ternyata bentuk kerudung gaul tersebut lebih banyak penggemar dan peminatnya. Dari itu perbandingannya masih jauh dari pada yang diharapkan khususnya pada tatapan remaja kita.
Penutup
Al-Qur’an sebagai pedoman hidup yang sempurna dan mulia sudah memberikan bimbingan kepada kita tentang tata cara hidup di dunia ini. Pemerintah memakai kerudung atau jilbab yang tertuang dalam surat al-Ahzab ayat 59 sudah sangat komprehensif mengatur tata cara dan batasan bagi perempuan muslimat dalam memakai kerudung. Sebagai seorang muslim sudah sepantasnya kita menundukkan nafsu kita mengikuti petunjuk Allah bukan sebaliknya.
* sumber:waspada online
Belakangan ini kita banyak sekali menyaksikan model atau ragam para perempuan muslim dalam memakai kerudung, namun dari sekian banyaknya model itu dapat kita kelompokkan kepada kerudung gaul dan panjang (memenuhi standar syari’at).
Salah satu keunikan Islam dibanding dengan agama-agama lain adalah terletak dari sisi komprehensif atau syamil ajaran yang dikandungnya. Islam tidak hanya mengurus masalah ketuhanan atau ibadah semata. Tetapi ia mengatur seluruh masalah dalam kehidupan ini mulai hal-hal yang besar sampai sekecil-kecilnya, mulai dari pembicaraan mengenai kenegaraan sampai masuk ke dalam kamar mandi. Dari sekian banyaknya persoalan yang diatur oleh Islam di antaranya adalah memakai jilbab atau kerudung. Yang mana dimaksudkan dari perintah ini untuk mencapai tujuan tertutupnya aurat perempuan yang wajib untuk ditutupi.
Adapun menjadi dasar keagamaan perintah ini, surat al-Ahzab ayat 59 yang artinya: “Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun Lagi Maha Penyayang”.
Ayat ini dipandang para ahli tafsir menjadi dasar kewajiban memakai kerudung, yang mana menjadi tunjukkan kewajibannya kepada seluruh kaum perempuan muslimat. Dengan indikasi kata “isteri-isteri orang mukmin”, maka sudah sangat jelas kewajibannya yang seharusnya tidak lagi diperdebatkan. Sekalipun dianggap sebagai pendapat umum dikalangan ulama namun ada juga yang menganggapnya hanya sebagai tradisi dan budaya ara. Dimana pendapat seperti ini sama artinya memandang memakai kerudung bukan suatu keharusan dan kewajiban dalam Islam.
Bagi perempuan muslimat kerudung harus dipahami tidak hanya sebatas sebagai kewajiban semata namun lebih jauh dari itu dengan menganggapnya sebagai kebutuhan. Sehingga kesannya tidak terpaksa dalam memakai karena pada hakikatnya kerudung itu adalah alat untuk melindungi kehormatan mereka dari laki-laki yang tidak benar bukan sebaliknya sebagaimana orang kebanyakan melihatnya menjadi beban dan kesulitan besar.
Dari ayat di atas dapat kita pahami bahwa model kerudung yang dikehendaki Al-Qur’an dengan syarat harus dapat menutupi seluruh tubuh mereka, jadi bukan hanya sebatas melekat pada bahagian kepala saja. Imam Qurtubi menjelaskan dalam tafsir Jami’nya mengenai ayat di atas, bahwa ukuran kerudung itu persis telekung dalam shalat atau dengan kata lain yang dapat menutupi dada mereka. Pada saat sekarang ini kita sudah banyak melihat para pemudi muslimat dan ibu-ibu memakai model kerudung yang dimaksud dalam ayat tersebut. Apakah itu di mall-mall, instansi pemerintah, pusat pasar dan lain sebagainya.
Tetapi belakangan muncul fenomena yang melanda pemakaian para muslimat khususnya di Indonesia yang tercinta ini. Dimana para perempuan muslimat banyak memang yang memakai kerudung tetapi tidak memenuhi syarat yang dimaksud oleh syari’at. Kerudung hanya menjadi model dan style dalam kehidupan sehari-hari. Bahasa populernya yang dengan kerudung gaul. Di antara bentuk dan tanda kerudung gaul yang sering kita lihat, di antaranya, kerudung hanya menutup kepala tetapi bahagian leher terbuka, kemudian tidak sampai menutupi dada.
Agaknya fenomena ini merupakan bahagian dari pengaruh globalisasi yang semakin cepat dan dinamis. Akhirnya kerudung yang pada awalnya dijadikan sebagai alat untuk melindungi kehormatan diri dan dalam rangka memenuhi tuntutan syari’at sebaliknya menjadi kebiasaan seremonial yang tidak lagi memenuhi kriteria syari’at itu sendiri.
Dari itu sangatlah layak perempuan muslimat kita untuk membudayakan kerudung yang betul-betul memenuhi standar syari’at yang bentuknya panjang dan menutupi dada. Dengan begitu lebih terlihat anggun dan terhormat dan otomatis para lelaki hidung belang akan merasa enggan untuk mengganggu mereka.
Paling tidak budaya berkerudung dengan memenuhi standar syari’at tidak sertamerta dapat langsung tersosialisasi di tengah-tengah masyarakat kita. Maka pembelajaran dari dini terhadap anak juga sangat berpengaruh ketika di sudah dewasa. Disamping itu pula keteladan yang diberikan ibu dalam kehidupan rumah tangga sangat menopang berbudayanya kerudung yang Islami tersebut. Kadang kita melihat ada juga hal yang tidak mengenakkan mata, manakala kita melihat para ibu yang mengantar anaknya ke sekolah yang notebenya memakai kerudung atau berbusana muslim.
Namun apabila kita adakan persentasi perbandingan perempuan muslimat kita antara yang memakai kerudung panjang dengan yang gaul ternyata bentuk kerudung gaul tersebut lebih banyak penggemar dan peminatnya. Dari itu perbandingannya masih jauh dari pada yang diharapkan khususnya pada tatapan remaja kita.
Penutup
Al-Qur’an sebagai pedoman hidup yang sempurna dan mulia sudah memberikan bimbingan kepada kita tentang tata cara hidup di dunia ini. Pemerintah memakai kerudung atau jilbab yang tertuang dalam surat al-Ahzab ayat 59 sudah sangat komprehensif mengatur tata cara dan batasan bagi perempuan muslimat dalam memakai kerudung. Sebagai seorang muslim sudah sepantasnya kita menundukkan nafsu kita mengikuti petunjuk Allah bukan sebaliknya.
* sumber:waspada online
ETos Kerja MUslim
Taqdim
Sudah menjadi sebuah sunnatullah dalam kehidupan ini bahwa tidak ada yang dapat berhasil dalam hidup ini kecuali orang yang bekerja (kerja dalam bahasa Arab disebut juga ‘amal). Jangankan orang-orang shaleh yang memiliki obsesi tinggi untuk meraih Surga Firdaus, para pengikut syahwat saja harus bekerja untuk memenuhi dorongan syahwatnya. Tidakkah kita menyaksikan dan mendengarkan begitu banyak manusia di bumi ini yang bekerja siang-malam, memeras keringat dan membanting tulang demi mendapatkan lembarang-lembaran uang yang selanjutnya ia habiskan dalam gelapnya dunia maksiat.
Anda juga tentu telah mengetahui dengan sangat jelas program murtadisasi (baca : kristenisasi dan yahudisasi) yang digiatkan di tengah kaum muslimin. Apakah Anda pikir program itu akan berhasil begitu saja tanpa harus bekerja keras ? Tentu saja tidak. Entah berapa banyak misionaris yang rela meninggalkan keluarga dan negri asalnya, lalu memasuki belantara Afrika, Kalimantan, Irian dan tempat-tempat lain, sebagian dari mereka bahkan ada yang menemui ajalnya di sana ; hanya untuk mencari orang yang bersedia hidup sebagai orang kafir !
Secuil fakta ini mengantarkan kita pada sebuah kesimpulan ; bahwa apapun yang ingin kita capai harus melalui sebuah proses kerja dan ‘amal. Dan bila para pengusung panji kedurhakaan pada Allah Azza wa Jalla juga bekerja dengan sangat keras untuk memperbanyak pengikutnya, lalu mengapa kita –para pengusung panji ketundukan pada Allah- tidak bekerja keras pula –setidaknya dengan ‘kekerasan’ yang sama dengan mereka bila kita tidak mampu (baca : mau) bekerja lebih keras memperbanyak kafilah orang-orang yang berserah diri kepada Allah ?
Hal ini tentu saja semakin diperkuat dengan kenyataan bahwa Islam sebagai satu-satunya agama yang haq adalah agama yang menjadikan kerja dan ‘amal sebagai salah satu bagian pentingnya. Anda bahkan tidak bisa disebut sebagai seorang mu’min bila iman Anda hanya sebatas hati dan ucapan, namun tidak dibuktikan dalam wujud ‘amal.
Berdasarkan itu semua, maka hajat setiap muslim –terutama para aktifis da’wah salafiyah- untuk meningkatkan kualitas kerja dan ‘amalnya tentu semakin besar dan mendesak. Dan untuk mewujudkan hal itu, seorang muslim tentu saja harus mempunyai etos kerja yang kokoh dan kuat yang kemudian mendorongnya untuk bekerja dan beramal sebaik mungkin hingga menghadap Allah Azza wa Jalla.
Etos Kerja, Apa Itu ?
Istilah Etos Kerja -seperti yang nampak di depan mata Anda- adalah istilah yang terdiri dari dua kata ; Etos dan Kerja. Etos sendiri berasal dari Bahasa Yunani yaitu Ethos yang berarti sikap, kepribadian, watak, karakter, cara berbuat, keyakinan atas sesuatu dan persepsi terhadap nilai bekerja . Dengan kata lain, Etos adalah norma serta cara diri mempersepsi, memandang dan meyakini sesuatu.
Adapun kerja adalah sesuatu yang setidaknya mencakup tiga hal ; (1) Dilakukan atas dorongan tanggung jawab, (2) Dilakukan karena kesengajaan dan perencanaan dan (3) Memiliki arah dan tujuan yang memberikan makna bagi pelakunya.
Nah, berdasarkan definisi tersebut, etos kerja setidaknya mencakupi beberapa unsur penting :
1. Etos kerja itu bersumber dan berkaitan langsung dengan nilai-nilai yang tertanam dalam jiwa seseorang. Itulah sebabnya menjadi sangat penting untuk menyeleksi setiap nilai yang akan kita tanamkan dalam jiwa kita. Maka seorang muslim harus bisa –dan tentu saja mau- mengisi jiwanya dengan nilai-nilai Islam, sehingga pada saat ia mengekspresikan dan mewujudkan kerja nyatanya ia selalu melandasinya pada semangat untuk melakukan perbaikan dan menghindarkan nilai-nilai fasad.
2. Etos kerja adalah bukti nyata yang menunjukkan pandangan hidup seseorang yang telah mendarah daging. Pandangan hidup yang benar tentu saja akan melahirkan etos kerja yang lurus. Begitu pula sebaliknya.
3. Etos kerja menunjukkan pula motivasi dan dorongan yang melandasi seseorang melakukan kerja dan amalnya. Semakin kuat dan kokoh etos kerja itu dalam diri seseorang, maka semakin kuat pula motivasinya untuk bekerja dan beramal.
4. Etos kerja yang kuat akan mendorong pemiliknya untuk menyiapkan rencana yang dipandangnya dapat menyukseskan kerja atau amalnya.
5. Etos kerja sesungguhnya lahir dari tujuan, harapan dan cita-cita pemiliknya. Harapan dan cita-cita yang kuatlah yang akan meneguhkan etos kerjanya. Cita-cita yang lemah –walaupun di jalan yang benar- hanya akan melahirkan etos kerja yang lemah pula.
Mengapa dan Untuk Apa Anda Hidup ?
Dari penjelasan di atas, menjadi jelas bahwa untuk menetapkan sebuah etos kerja, setiap kita harus mampu menyimpulkan dan menetapkan tujuan, harapan dan cita-citanya. Tentu saja penentuan tujuan dan cita-cita hidup ini –sekali lagi- sangat bergantung pada nilai dan keyakinan yang terpatri dalam jiwa seseorang. Bila ia tidak meyakini Allah dan hanya meyakini hal-hal yang bersifat materialis, maka tujuan dan cita-citanya pun hanya sebatas itu saja. Sehingga etos kerjanya pun akan dibangun di atas landasan materi belaka.
Setiap muslim seharusnya bersyukur karena telah mendapatkan tuntunan ilahiyah dalam menentukan mengapa dan untuk apa ia hidup ? Apa yang seharusnya ia tuju dan cita-citakan. Hanya saja, walaupun telah sangat jelas, namun masih banyak muslim –bahkan aktifis Islam- yang tidak terlalu meresapi dan kurang menghadirkan tujuan dan cita-cita ini dalam setiap langkahnya. Padahal penegasan dan penghadiran cita-cita dan tujuan itu sangat penting. Bukan hanya memberikan semangat baru saat loyo, namun juga menentukan langkah yang akan kita ambil untuk meraihnya. Tidak mengherankan, Stephen Covey meletakkan hal ini sebagai kebiasaan efektif kedua yang harus dibiasakan –dia menyebutnya dengan begin with end of the mind ; memulai dengan melihat tujuan akhir-. Jauh sebelum itu Rasulullah saw telah menegaskan bahwa Inama Al A’malu bin-niyyat ; sesungguhnya malan-amalan itu bergantung niatnya. Dan berbicara niat itu artinya berbicara tentang tujuan akhir ; untuk apa Anda melakukan dan mengamalkannya.
Bila ingin disimpulkan, maka tujuan hidup muslim itu adalah sebagai berikut :
1. Meraih sukses jangka panjang (Long Term Succes). Yaitu kesuksesan abadi di Akhirat. Sukses Akhirat itu digambarkan dalam beberapa Firman Allah Ta’ala berikut ini :
???????? ?????? ??????????? ?????????????? ???????? ??????? ???? ????????? ???????????? ??????????? ????????? ??? ???????? ?????? ?????? ????????? ??????????
“Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam surga `Adn. Itulah keberuntungan yang besar.” (Ash Shaff : 12)
????? ?????? ????????? ????????? ?????????? ??????????? ??????????? ?????? ???????????? ?????? ???????? ???? ???????? ?????????? ?????????? ?????? ????? ????? ?????????? ?????????? ?????? ??????? ??????????
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (Ali ‘Imran : 185)
???? ???????? ????? ?????? ?????????? ?????? ??????? ???????? ?????????? ?????? ??????? ?????? ????? ???????? ??????? ??????? ???????????? ??????? ???????? ????? ???????? ??????????? ??????? ???????(110)
“Katakanlah: “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa”. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”. (Al Kahfi : 110)
2. Meraih sukses jangka pendek (Short Term Succes). Yaitu kesuksesan-kesuksesan di dunia, baik yang berkaitan langsung dengan kesuksesan ukhrawi maupun duniawi. Allah Ta’ala mengatakan :
????????? ????????????? ?????? ???? ??????? ???????? ??????? ????????? ??????????????
“Dan (ada lagi) karunia yang lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman.” (Ash Shaff : 13)
3. Dan sebagai jalan untuk meraih itu semua, Allah menetapkan ibadah sebagai maksud dan tujuan sekaligus jalan hidup manusia muslim. Allah berfirman :
????? ???????? ???????? ??????????? ?????? ?????????????
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (Adz Dzariyyat : 56)
Ketiga hal inilah yang selanjutnya –dan seharusnya- menjadi titik tolak, landasan sekaligus tujuan hidup seorang muslim, yang selanjutnya menentukan etos kerja dan amalnya. Sehingga setiap kerja atau amal yang ia lakukan –seremeh apapun itu- harus memiliki dimensi ibadah, menjadi batu bata pembangun kesuksesan duniawi dan kelak menjadi sebab kebahagiaan ukhrawi.
Setelah menentukan dan memahami apa yang menjadi tujuan seorang muslim, maka secara sederhana kita dapat menyimpulkan bahwa etos kerja seorang manusia muslim itu adalah persepsi yang diyakini oleh seorang muslim bahwa bekerja itu –sesederhana apapun ia- adalah jalan untuk menunjukkan penghambaan (ibadah) kepada Allah Azza wa Jalla demi meraih kesuksesan di dunia dan kelak di akhirat.
Ciri-ciri Etos Kerja Manusia Muslim
1. Shahihul I’tiqad
2. Shahihul ‘Ibadah.
3. Fadhilul Khuluq.
4. Mujahidun Lin Nafs
5. Thalibun Lil ‘Ilm
6. Qadirun ‘Alal Kasb
7. Shahihul Jism
8. Munazhzham Fi Syu’unihi
9. Harishun ‘Alal Waqt
10. Mufid Li Ghairihi.
Faktor-faktor Pendorong Tumbuhnya Etos Kerja
1. Memohon kekuatan dari Allah yang Maha perkasa. Nabi saw bersabda : “Mohon pertolongan-lah kepada Allah dan jangan bersikap lemah.” (HR. Muslim)
2. Menanamkan keyakinan dan tekad pada diri sendiri untuk melakukan yang terbaik, walaupun menyebabkan kita ‘terasing’. Sebagai contoh, ketika orang lain datang terlambat, maka bahagiakanlah diri dengan selalu hadir tepat waktu. Ketika orang lain menghamburkan waktu, maka bahagiakanlah diri kita dengan memanfa’atkan waktu dengan cara yang terbaik.
3. Bangun kebiasaan-kebiasaan baik dari diri sendiri. Dan agar tidak ‘lelah sendiri’, niatkanlah selalu untuk beribadah. Sebaik-baik amalan adalah yang dilakukan dengan konsisten walau sedikit.
4. Bacalah biografi para salaf dan ulama besar lainnya yang berhasil dengan segala keterbatasan yang ada. Manusia itu ‘tukang tiru’. Karenanya kita membutuhkan teladan. Dan teladan kita adalah para salaf.
5. Senantiasa ihtisab dalam bekerja dan beramal.
6. Bayangkanlah Anda ingin meninggalkan dunia ini dalam keadaan apa ; husnul khatimah atau su’ul khatimah ?
Khatimah
Dunia ini terus berputar menuju titik akhirnya. Waktu pun terus bergulir tanpa henti. Hari kemarin telah menjadi masa lalu dan penyesalan, sementara hari esok tidak memberikan kepastian. Yang ada hanya hari ini. Bila kita memilih diam, maka waktu tidak pernah diam. Maka tidak ada pilihan kecuali berpacu dengan waktu. Bergeraklah, sebab yang diam akan tergilas di atas jalan ini. Selamat bekerja dan beramal di atas jalan ini ; jalan da’wah Islam ! Wallahu a’lam.
Sudah menjadi sebuah sunnatullah dalam kehidupan ini bahwa tidak ada yang dapat berhasil dalam hidup ini kecuali orang yang bekerja (kerja dalam bahasa Arab disebut juga ‘amal). Jangankan orang-orang shaleh yang memiliki obsesi tinggi untuk meraih Surga Firdaus, para pengikut syahwat saja harus bekerja untuk memenuhi dorongan syahwatnya. Tidakkah kita menyaksikan dan mendengarkan begitu banyak manusia di bumi ini yang bekerja siang-malam, memeras keringat dan membanting tulang demi mendapatkan lembarang-lembaran uang yang selanjutnya ia habiskan dalam gelapnya dunia maksiat.
Anda juga tentu telah mengetahui dengan sangat jelas program murtadisasi (baca : kristenisasi dan yahudisasi) yang digiatkan di tengah kaum muslimin. Apakah Anda pikir program itu akan berhasil begitu saja tanpa harus bekerja keras ? Tentu saja tidak. Entah berapa banyak misionaris yang rela meninggalkan keluarga dan negri asalnya, lalu memasuki belantara Afrika, Kalimantan, Irian dan tempat-tempat lain, sebagian dari mereka bahkan ada yang menemui ajalnya di sana ; hanya untuk mencari orang yang bersedia hidup sebagai orang kafir !
Secuil fakta ini mengantarkan kita pada sebuah kesimpulan ; bahwa apapun yang ingin kita capai harus melalui sebuah proses kerja dan ‘amal. Dan bila para pengusung panji kedurhakaan pada Allah Azza wa Jalla juga bekerja dengan sangat keras untuk memperbanyak pengikutnya, lalu mengapa kita –para pengusung panji ketundukan pada Allah- tidak bekerja keras pula –setidaknya dengan ‘kekerasan’ yang sama dengan mereka bila kita tidak mampu (baca : mau) bekerja lebih keras memperbanyak kafilah orang-orang yang berserah diri kepada Allah ?
Hal ini tentu saja semakin diperkuat dengan kenyataan bahwa Islam sebagai satu-satunya agama yang haq adalah agama yang menjadikan kerja dan ‘amal sebagai salah satu bagian pentingnya. Anda bahkan tidak bisa disebut sebagai seorang mu’min bila iman Anda hanya sebatas hati dan ucapan, namun tidak dibuktikan dalam wujud ‘amal.
Berdasarkan itu semua, maka hajat setiap muslim –terutama para aktifis da’wah salafiyah- untuk meningkatkan kualitas kerja dan ‘amalnya tentu semakin besar dan mendesak. Dan untuk mewujudkan hal itu, seorang muslim tentu saja harus mempunyai etos kerja yang kokoh dan kuat yang kemudian mendorongnya untuk bekerja dan beramal sebaik mungkin hingga menghadap Allah Azza wa Jalla.
Etos Kerja, Apa Itu ?
Istilah Etos Kerja -seperti yang nampak di depan mata Anda- adalah istilah yang terdiri dari dua kata ; Etos dan Kerja. Etos sendiri berasal dari Bahasa Yunani yaitu Ethos yang berarti sikap, kepribadian, watak, karakter, cara berbuat, keyakinan atas sesuatu dan persepsi terhadap nilai bekerja . Dengan kata lain, Etos adalah norma serta cara diri mempersepsi, memandang dan meyakini sesuatu.
Adapun kerja adalah sesuatu yang setidaknya mencakup tiga hal ; (1) Dilakukan atas dorongan tanggung jawab, (2) Dilakukan karena kesengajaan dan perencanaan dan (3) Memiliki arah dan tujuan yang memberikan makna bagi pelakunya.
Nah, berdasarkan definisi tersebut, etos kerja setidaknya mencakupi beberapa unsur penting :
1. Etos kerja itu bersumber dan berkaitan langsung dengan nilai-nilai yang tertanam dalam jiwa seseorang. Itulah sebabnya menjadi sangat penting untuk menyeleksi setiap nilai yang akan kita tanamkan dalam jiwa kita. Maka seorang muslim harus bisa –dan tentu saja mau- mengisi jiwanya dengan nilai-nilai Islam, sehingga pada saat ia mengekspresikan dan mewujudkan kerja nyatanya ia selalu melandasinya pada semangat untuk melakukan perbaikan dan menghindarkan nilai-nilai fasad.
2. Etos kerja adalah bukti nyata yang menunjukkan pandangan hidup seseorang yang telah mendarah daging. Pandangan hidup yang benar tentu saja akan melahirkan etos kerja yang lurus. Begitu pula sebaliknya.
3. Etos kerja menunjukkan pula motivasi dan dorongan yang melandasi seseorang melakukan kerja dan amalnya. Semakin kuat dan kokoh etos kerja itu dalam diri seseorang, maka semakin kuat pula motivasinya untuk bekerja dan beramal.
4. Etos kerja yang kuat akan mendorong pemiliknya untuk menyiapkan rencana yang dipandangnya dapat menyukseskan kerja atau amalnya.
5. Etos kerja sesungguhnya lahir dari tujuan, harapan dan cita-cita pemiliknya. Harapan dan cita-cita yang kuatlah yang akan meneguhkan etos kerjanya. Cita-cita yang lemah –walaupun di jalan yang benar- hanya akan melahirkan etos kerja yang lemah pula.
Mengapa dan Untuk Apa Anda Hidup ?
Dari penjelasan di atas, menjadi jelas bahwa untuk menetapkan sebuah etos kerja, setiap kita harus mampu menyimpulkan dan menetapkan tujuan, harapan dan cita-citanya. Tentu saja penentuan tujuan dan cita-cita hidup ini –sekali lagi- sangat bergantung pada nilai dan keyakinan yang terpatri dalam jiwa seseorang. Bila ia tidak meyakini Allah dan hanya meyakini hal-hal yang bersifat materialis, maka tujuan dan cita-citanya pun hanya sebatas itu saja. Sehingga etos kerjanya pun akan dibangun di atas landasan materi belaka.
Setiap muslim seharusnya bersyukur karena telah mendapatkan tuntunan ilahiyah dalam menentukan mengapa dan untuk apa ia hidup ? Apa yang seharusnya ia tuju dan cita-citakan. Hanya saja, walaupun telah sangat jelas, namun masih banyak muslim –bahkan aktifis Islam- yang tidak terlalu meresapi dan kurang menghadirkan tujuan dan cita-cita ini dalam setiap langkahnya. Padahal penegasan dan penghadiran cita-cita dan tujuan itu sangat penting. Bukan hanya memberikan semangat baru saat loyo, namun juga menentukan langkah yang akan kita ambil untuk meraihnya. Tidak mengherankan, Stephen Covey meletakkan hal ini sebagai kebiasaan efektif kedua yang harus dibiasakan –dia menyebutnya dengan begin with end of the mind ; memulai dengan melihat tujuan akhir-. Jauh sebelum itu Rasulullah saw telah menegaskan bahwa Inama Al A’malu bin-niyyat ; sesungguhnya malan-amalan itu bergantung niatnya. Dan berbicara niat itu artinya berbicara tentang tujuan akhir ; untuk apa Anda melakukan dan mengamalkannya.
Bila ingin disimpulkan, maka tujuan hidup muslim itu adalah sebagai berikut :
1. Meraih sukses jangka panjang (Long Term Succes). Yaitu kesuksesan abadi di Akhirat. Sukses Akhirat itu digambarkan dalam beberapa Firman Allah Ta’ala berikut ini :
???????? ?????? ??????????? ?????????????? ???????? ??????? ???? ????????? ???????????? ??????????? ????????? ??? ???????? ?????? ?????? ????????? ??????????
“Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam surga `Adn. Itulah keberuntungan yang besar.” (Ash Shaff : 12)
????? ?????? ????????? ????????? ?????????? ??????????? ??????????? ?????? ???????????? ?????? ???????? ???? ???????? ?????????? ?????????? ?????? ????? ????? ?????????? ?????????? ?????? ??????? ??????????
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (Ali ‘Imran : 185)
???? ???????? ????? ?????? ?????????? ?????? ??????? ???????? ?????????? ?????? ??????? ?????? ????? ???????? ??????? ??????? ???????????? ??????? ???????? ????? ???????? ??????????? ??????? ???????(110)
“Katakanlah: “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa”. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”. (Al Kahfi : 110)
2. Meraih sukses jangka pendek (Short Term Succes). Yaitu kesuksesan-kesuksesan di dunia, baik yang berkaitan langsung dengan kesuksesan ukhrawi maupun duniawi. Allah Ta’ala mengatakan :
????????? ????????????? ?????? ???? ??????? ???????? ??????? ????????? ??????????????
“Dan (ada lagi) karunia yang lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman.” (Ash Shaff : 13)
3. Dan sebagai jalan untuk meraih itu semua, Allah menetapkan ibadah sebagai maksud dan tujuan sekaligus jalan hidup manusia muslim. Allah berfirman :
????? ???????? ???????? ??????????? ?????? ?????????????
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (Adz Dzariyyat : 56)
Ketiga hal inilah yang selanjutnya –dan seharusnya- menjadi titik tolak, landasan sekaligus tujuan hidup seorang muslim, yang selanjutnya menentukan etos kerja dan amalnya. Sehingga setiap kerja atau amal yang ia lakukan –seremeh apapun itu- harus memiliki dimensi ibadah, menjadi batu bata pembangun kesuksesan duniawi dan kelak menjadi sebab kebahagiaan ukhrawi.
Setelah menentukan dan memahami apa yang menjadi tujuan seorang muslim, maka secara sederhana kita dapat menyimpulkan bahwa etos kerja seorang manusia muslim itu adalah persepsi yang diyakini oleh seorang muslim bahwa bekerja itu –sesederhana apapun ia- adalah jalan untuk menunjukkan penghambaan (ibadah) kepada Allah Azza wa Jalla demi meraih kesuksesan di dunia dan kelak di akhirat.
Ciri-ciri Etos Kerja Manusia Muslim
1. Shahihul I’tiqad
2. Shahihul ‘Ibadah.
3. Fadhilul Khuluq.
4. Mujahidun Lin Nafs
5. Thalibun Lil ‘Ilm
6. Qadirun ‘Alal Kasb
7. Shahihul Jism
8. Munazhzham Fi Syu’unihi
9. Harishun ‘Alal Waqt
10. Mufid Li Ghairihi.
Faktor-faktor Pendorong Tumbuhnya Etos Kerja
1. Memohon kekuatan dari Allah yang Maha perkasa. Nabi saw bersabda : “Mohon pertolongan-lah kepada Allah dan jangan bersikap lemah.” (HR. Muslim)
2. Menanamkan keyakinan dan tekad pada diri sendiri untuk melakukan yang terbaik, walaupun menyebabkan kita ‘terasing’. Sebagai contoh, ketika orang lain datang terlambat, maka bahagiakanlah diri dengan selalu hadir tepat waktu. Ketika orang lain menghamburkan waktu, maka bahagiakanlah diri kita dengan memanfa’atkan waktu dengan cara yang terbaik.
3. Bangun kebiasaan-kebiasaan baik dari diri sendiri. Dan agar tidak ‘lelah sendiri’, niatkanlah selalu untuk beribadah. Sebaik-baik amalan adalah yang dilakukan dengan konsisten walau sedikit.
4. Bacalah biografi para salaf dan ulama besar lainnya yang berhasil dengan segala keterbatasan yang ada. Manusia itu ‘tukang tiru’. Karenanya kita membutuhkan teladan. Dan teladan kita adalah para salaf.
5. Senantiasa ihtisab dalam bekerja dan beramal.
6. Bayangkanlah Anda ingin meninggalkan dunia ini dalam keadaan apa ; husnul khatimah atau su’ul khatimah ?
Khatimah
Dunia ini terus berputar menuju titik akhirnya. Waktu pun terus bergulir tanpa henti. Hari kemarin telah menjadi masa lalu dan penyesalan, sementara hari esok tidak memberikan kepastian. Yang ada hanya hari ini. Bila kita memilih diam, maka waktu tidak pernah diam. Maka tidak ada pilihan kecuali berpacu dengan waktu. Bergeraklah, sebab yang diam akan tergilas di atas jalan ini. Selamat bekerja dan beramal di atas jalan ini ; jalan da’wah Islam ! Wallahu a’lam.
Rabu, September 10, 2008
5 Prinsip Kerja Seorang Muslim (Etos Kerja dalam Islam)
1. Kerja, aktifitas, ‘amal dalam Islam adalah perwujudan rasa syukur kita kepada ni’mat Allah SWT. (QS. Saba’ [34] : 13)
اعْمَلُوا آلَ دَاوُودَ شُكْرًا وَقَلِيلٌ مِّنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ {سبأ/13}
2. Seorang Muslim hendaknya berorientasi pada pencapaian hasil: hasanah fi ad-dunyaa dan hasanah fi al-akhirah – QS. Al-Baqarah [002] : 201)
وِمِنْهُم مَّن يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ {البقرة/201}
3. Dua karakter utama yang hendaknya kita miliki: al-qawiyy dan al-amiin. QS. Al-Qashash [28] : 26
قَالَتْ إِحْدَاهُمَا يَا أَبَتِ اسْتَأْجِرْهُ إِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ الْأَمِينُ {القصص/26}
Al-qawiyy merujuk kepada : reliability, dapat diandalkan. Juga berarti, memiliki kekuatan fisik dan mental (emosional, intelektual, spiritual)
Sementara al-amiin, merujuk kepada integrity, satunya kata dengan perbuatan alias jujur, dapat memegang amanah.
4. Kerja keras. Ciri pekerja keras adalah sikap pantang menyerah; terus mencoba hingga berhasil. Kita dapat meneladani ibunda Ismail a.s. Sehingga seorang pekerja keras tidak mengenal kata “gagal” (atau memandang kegagalan sebagai sebuah kesuksesan yang tertunda)
5. Kerja dengan cerdas. Cirinya: memiliki pengetahuan dan keterampilan; terencana; memanfaatkan segenap sumberdaya yang ada. Seperti yang tergambar dalam kisah Nabi Sulaeman a.s.
Jika etos kerja dimaknai dengan semangat kerja, maka etos kerja seorang Muslim bersumber dari visinya: meraih hasanah fid dunya dan hasanah fi al-akhirah.
Jika etos kerja difahami sebagai etika kerja; sekumpulan karakter, sikap, mentalitas kerja, maka dalam bekerja, seorang Muslim senantiasa menunjukkan kesungguhan
Langganan:
Postingan (Atom)