Selasa, Juli 29, 2008

EVERYTHING

LIFEHOUSE - EVERYTHING

Intro
Pick through these chords
C#m G#m A2

Continue with the same chord pattern

find me here
speak to me
i want to feel you
i need to hear you
you are the light
that is leading me
to the place where
i find peace again
you are the strength
that keeps me walking
you are the hope
that keeps me trusting
you are the life to my soul
you are my purpose
you are everything

(Chorus)

E B A2
and how can i
C#m
stand here with you
B A2
and not be moved by you
E B A2
would you tell me
C#m
how could it be
B A2
any better than this

C#m G#m A2 pattern again

you calm the storms
you give me rest
you hold me in your hands
you won't let me fall
you still my heart
and you take my breath away
would you take me in
would you take me deeper now

(Chorus)

E B A2
and how can i
C#m
stand here with you
B A2
and not be moved by you
E B A2
would you tell me
C#m
how could it be
B A2
any better than this (x2)

(Bridge)

C#m
'cause you're all i want
A2
you are all i need
E
you are everything
B
everything (x4)


(Chorus)

E B A2
and how can i
C#m
stand here with you
B A2
and not be moved by you
E B A2
would you tell me
C#m
how could it be
B A2
any better than this (x3)

(outro)

E B A2 C#m B A2
Would you tell me how could it be any better than this?

Rabu, Juli 23, 2008

Eva Cassidy - Time After Time



Lying in my bed I hear the clock tick and think of you
Turning in circles, confusion is nothing new
Flash back to warm nights, almost left behind
Suitcase of memories
Time after sometimes you pictured me
I'm walking too far ahead
You're callin' to me
I can't hear what you've said

*And you say: "Go slow, I fallen behind "
The second hand unwinds

** If you're lost you can look and you will find me
Time after time
If you fall I will catch you, I'll be waiting
Time after time
If you fall I will catch you, I'll be waiting
Time after time
Time after time

After your your picture fades
And darkness has turned to grey
Watching through windows
I'm wondering if you're OK

And you said: "Go slow, I falling behind "
The drum beats out of time

If you're lost you can look and you will find me
Time after time
If you fall I will catch you, I'll be waiting
Time after time

If you fall I will catch you, I'll be waiting
Time after time
Time after time
Mummmm Time after time ooooooh
Time after time

Time afterrrr time ... till fade

Kamis, Juli 17, 2008

D I K

Artist : WALI

Title : DIK


Intro


Dik aku pinta kau kan s’lalu setia

Dik aku mohon kau slalu menemani

Saat ku tengah terluka

Kala ku tengah gundah


Ku akan menjagamu di bangun dan tidurmu

Di semua mimpi dan nyatamu

Ku akan menjagamu tuk hidup dan matiku

Tak ingin tak ingin kau rapuh


Dik jangan engkau pergi tinggalkan ku

Oooh dik ingin aku cinta dan cinta slalu

Saat ku tengah terluka

Kala ku tengah gundah


Ku akan menjagamu di bangun dan tidurmu

Di semua mimpi dan nyatamu

Ku akan menjagamu tuk hidup dan matiku

Tak ingin tak ingin kau rapuh


Kau akan menjagaku di bangun dan tidurku

Kau akan menjagaku tuk hidup dan matiku

Tak ingin tak ingin kau rapuh


Ku akan menjagamu di bangun dan tidurmu

Di semua mimpi dan nyatamu

Ooohh...

Ku akan menjagamu tuk hidup dan matiku

Tak ingin tak ingin kau rapuh

Kamis, Juni 12, 2008

Crysis

Isu tentang krisis ekonomi jilid 2 pasca krisis 10 tahun lalu menghantui masyarakat Indonesia akhir-akhir ini. Gejala-gejala yang mengarah kepada krisis tersebut sudah mulai bermunculan. Diawali dengan melambatnya pertumbuhan ekonomi negara adidaya, Amerika Serikat. Hal ini berdampak pada ekonomi global yang ikut-ikutan melemah juga. Tak terkecuali Indonesia yang merupakan bagian dari ekonomi global. Hal ini diperparah dengan ulah para spekulan yang mempermainkan harga minyak dunia yang berakibat semakin melambungnya harga minyak mentah dunia.


Di Indonesia, sebagai akibat harga minyak dunia yang semakin naik mengakibatkan beban subsidi BBM pemerintah yang tertuang dalam APBN menjadi semakin besar. Ditambah lagi produksi minyak mentah Indonesia yang tidak mencapai target sehingga kita tidak memperoleh windfall profit saat harga minyak naik. Akhirnya pemerintah menaikkan harga BBM bersubsidi sebesar 28 % sebagai cara agar APBN tidak mengalami defisit terlalu besar.


Menilik fakta dan realita di atas, saya berpendapat bahwa sebenarnya masih ada banyak cara untuk mengatasi tekanan terhadap APBN dan masyarakat Indonesia.yang pertama yaitu memasukkan komponen energi selain minyak ke dalam perhitungan APBN seperti gas alam dan batu bara. Kedua, mempercepat program konversi energi dari minyak bumi ke sumber energi alternatif. Energi alternatif di sini tidak hanya berupa gas elpiji saja, tetapi juga energi-energi lain yang sangat potensial seperti energi panas matahari( geothermal) yang sampai saat ini masih sangat sedikit implementasinya. Belum lagi kita punya ratusan gunung berapi yang masih aktif yang energinya bisa kita manfaatkan berupa energi panas bumi. Lalu yang ketiga adalah melakukan penghematan besar-besaran terhadap penggunaan energi yang pelaksanaannya tidak hanya di lingkup masyarakat pada umumnya tetapi juga harus diterapkan di lingkungan kantor pemerintahan.


Sehubungan dengan poin ketiga alenia di atas, kita sebagai aparatur pemerintah di lingkup Direktorat Jenderal Perbendaharaan Departemen Keuangan hendaknya menggunakan fasilitas negara secara bijak, efektif dan efisien. Tidak seharusnya kita mengunakan sarana dan prasarana kantor secara sembarangan dan melakukan pemborosan yang berakibat semakin banyak energi yang digunakan terutama untuk konsumsi listrik yang menyerap energi cukup banyak.


Melihat fakta bahwa sumber energi utama yaitu minyak bumi yang notabene adalah energi yang tidak dapat diperbaharui semakin mahal harganya dan yang berakibat beban APBN kita menjadi semakin berat, saya sebagai bagian dari aparat pemerintah di lingkup Direktorat Jenderal Perbendaharaan Departemen Keuangan sedikit banyak ingin memberikan sumbangsih bagi kepentingan negara. Di samping sebagai individu, saya akan lebih meningkatkan kinerja menjadi lebih efektif dan efisien yang berujung pada penghematan penggunaan fasilitas kantor, juga menghimbau kepada seluruh jajaran pegawai di Departemen Keuangan pada umumnya dan Direktorat Jenderal Perbendaharaan pada khususnya untuk mengedepankan pelayanan pada masyarakat secara optimal dan menggunakan sarana dan prasarana kantor secara efektif dan efisien dan tidak melakukan pemborosan sehingga penggunaan energi bisa dihemat sedemikian rupa agar secara tidak langsung dapat menyelamatkan APBN di masa mendatang.

Rabu, Mei 28, 2008

For U

Artist : Ungu Feat. Rossa
Tilte : Tercipta Untukku


Menatap indahnya senyuman di wajahmu

Membuatku terdiam dan terpaku

Mengerti akan hadirnya cinta terindah

Saat kau peluk mesra tubuhku



Banyak kata yang tak mampu

Kuungkapkan kepada dirimu




Reff : Aku ingin engkau s’lalu

Hadir dan temani aku

Di setiap langkah yang meyakiniku

tercipta untukkku



Meski waktu akan mampu

Memanggil s’luruh ragaku

Kuingin kau tahu ku s’lalu milikmu

Yang mencintaimu s’panjang hidupku



Sungguh hanyalah dirimu yang akau cintai

Dan sungguh ’ku kan disisimu hingga ’ku mati




Reff : Aku ingin engkau s’lalu

Hadir dan temani aku

Di setiap langkah yang meyakiniku

Kau tercipta untukkku



Meski waktu akan mampu

Memanggil s’luruh ragaku

Kuingin kau tahu ku s’lalu milikmu

Yang mencintaimu s’panjang hidupku

Senin, April 21, 2008

ETOS KERJA MUSLIM

ETOS KERJA MUSLIM
Mukaddimah
            “Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al-Qur’an, dan Dia tidak membuat sesuatu yang tidak lurus di dalamnya. Sebagai bimbingan yang lurus, untuk memperingatkan (manusia) akan siksa yang pedih dari Allah dan memberi kabar gembira kepada orang-orang beriman, yang mengerjakan  amal soleh, bahwa mereka akan mendapat balasan yang baik. Mereka (akan menikmati kehidupan sorga)  kekal di dalamnya untuk selamanya”(al-Kahfi:1-3)
            Al-Qur’an adalah pedoman begi manusia yang ingin memilih jalan kebenaran daripada jalan kesesatan (al-Baqarah :185), pembimbing (guidance) untuk membina ketakwaan (al-Baqarah: 2). Namun, hidup yang taqwa bukan semata harapan atau angan-angan untuk meraih kebahagiaan, tetapi merupakan medan dan cara kerja yang sebaik-baiknya untuk merealisasikan kehidupan yang berjaya di dunia dan memperoleh balasan yang lebih baik lagi di akhirat (an-Nahl: 97).

            Bekerja adalah kodrat hidup, baik kehidupan spiritual, intelektual, fisik biologis, maupun kehidupan individual dan sosial dalam berbagai bidang (al-Mulk: 2). Seseorang layak untuk mendapatkan predikat yang terpuji seperti potensial, aktif, dinamis, produktif atau profesional, semata-mata karena prestasi kerjanya. Karena itu, agar manusia benar-benar “hidup”, dalam kehidupan ini ia memerlukan ruh (spirit). Untuk ini, Al Qur’an diturunkan sebagai “ruhan min amrina”,  yakni spirit hidup ciptaan Allah, sekaligus sebagai “nur” (cahaya) yang tak kunjung padam, agar aktivitas hidup manusia tidak tersesat (asy-Syura: 52).

II.Pembahasan

A.   Posisi Kerja dalam Kitabullah

            Al-Qur’an menyebut kerja dengan berbagai terminologi. Al-Qur’an menyebutnya sebagai “amalun”, terdapat tidak kurang dari 260 musytaqqat (derivatnya), mencakup pekerjaan lahiriah dan batiniah. Disebut “fi’lun” dalam sekitar 99 derivatnya, dengan konotasi pada pekerjaan lahiriah. Disebut dengan kata “shun’un”, tidak kurang dari 17 derivat, dengan penekanan makna pada pekerjaan yang menghasilkan keluaran (output) yang bersifat fisik. Disebut juga dengan kata “taqdimun”,  dalam 16 derivatnya, yang mempunyai penekanan makna pada investasi untuk kebahagiaan hari esok.
            Pekerjaan yang dicintai Allah SWT adalah yang berkualitas. Untuk menjelaskannya, Al Qur’an mempergunakan empat istilah: “Amal Shalih”, tak kurang dari 77 kali; ‘amal yang “Ihsan”, lebih dari 20 kali; ‘amal yang “Itqan”, disebut 1 kali; dan ”al-Birr”, disebut 6 kali. Pengungkapannya kadang dengan bahasa perintah, kadang dengan bahasa anjuran. Pada sisi lain, dijelaskan juga pekerjaan yang buruk dengan akibatnya yang buruk pula dalam beberapa istilah yang bervariasi. Sebagai contoh, disebutnya sebagai perbuatan syaitan (al-Maidah: 90, al-Qashash:15), perbuatan yang sia-sia (Ali Imran: 22, al-Furqaan: 23), pekerjaan yang bercampur dengan keburukan (at-Taubah:102), pekerjaan kamuflase yang nampak baik, tetapi isinya buruk (an-Naml:4, Fusshilat: 25).
Al-Qur’an sebagai pedoman kerja kebaikan, kerja ibadah, kerja taqwa atau amal shalih, memandang kerja sebagai kodrat hidup. Al-Qur’an menegaskan bahwa hidup ini untuk ibadah (adz-Dzariat: 56). Maka, kerja dengan sendirinya adalah ibadah, dan ibadah hanya dapat direalisasikan dengan kerja dalam segala manifestasinya (al-Hajj: 77-78, al-Baqarah:177).
Jika kerja adalah ibadah dan status hukum ibadah pada dasarnya adalah wajib, maka status hukum bekerja pada dasarnya juga wajib. Kewajiban ini pada dasarnya bersifat individual, atau fardhu ‘ain, yang tidak bisa diwakilkan kepada orang lain. Hal ini berhubungan langsung dengan pertanggung jawaban amal yang juga bersifat individual, dimana individulah yang kelak akan mempertanggung jawabkan amal masing-masing. Untuk pekerjaan yang langsung memasuki wilayah kepentingan umum, kewajiban menunaikannya bersifat kolektif atau sosial, yang disebut dengan fardhu kifayah, sehingga lebih menjamin terealisasikannya kepentingan umum tersebut. Namun, posisi individu dalam konteks kewajiban sosial ini tetap sentral. Setiap orang wajib memberikan kontribusi dan partisipasinya sesuai kapasitas masing-masing, dan tidak ada toleransi hingga tercapai tingkat kecukupan (kifayah) dalam ukuran kepentingan umum.
Syarat pokok agar setiap aktivitas  kita bernilai ibadah ada dua, yaitu sebagai berikut.
Pertama, Ikhlas, yakni mempunyai motivasi yang benar, yaitu untuk berbuat hal yang baik yang berguna bagi kehidupan dan dibenarkan oleh agama. Dengan proyeksi atau tujuan akhir meraih mardhatillah (al-Baqarah:207 dan 265).
Kedua, shawab (benar), yaitu sepenuhnya sesuai dengan tuntunan yang diajarkan oleh agama melalui Rasulullah saw untuk pekerjaan ubudiyah (ibadah khusus), dan tidak bertentangan dengan suatu ketentuan agama dalam hal muamalat (ibadah umum). Ketentuan ini sesuai dengan pesan Al-Qur’an (Ali Imran: 31, al-Hasyr:10).
            Ketika kita memilih pekerjaan, maka haruslah didasarkan pada pertimbangan moral, apakah pekerjaan itu baik (amal shalih) atau tidak. Islam memuliakan setiap pekerjaan yang baik, tanpa mendiskriminasikannya, apakah itu pekerjaan otak atau otot, pekerjaan halus atau kasar, yang penting dapat dipertanggungjawabkan secara moral di hadapan Allah. Pekerjaan itu haruslah tidak bertentangan dengan agama, berguna secara fitrah kemanusiaan untuk dirinya, dan memberi dampak positif secara sosial dan kultural bagi masyarakatnya. Karena itu, tangga seleksi dan skala prioritas dimulai dengan pekerjaan yang manfaatnya bersifat primer, kemudian yang mempunyai manfaat pendukung, dan terakhir yang bernilai guna sebagai pelengkap.

B.     Kualitas Etik Kerja

            Al-Qur’an menanamkan kesadaran bahwa dengan bekerja berarti kita merealisasikan fungsi kehambaan kita kepada Allah, dan menempuh jalan menuju ridha-Nya, mengangkat harga diri, meningkatkan taraf hidup, dan memberi manfaat kepada sesama, bahkan kepada makhluk lain. Dengan tertanamnya kesadaran ini, seorang muslim atau muslimah akan berusaha mengisi setiap ruang dan waktunya hanya dengan aktivitas yang berguna. Semboyangnya adalah “tiada waktu tanpa kerja, tiada waktu tanpa amal.’  Adapun agar nilai ibadahnya tidak luntur, maka perangkat kualitas etik kerja yang Islami harus diperhatikan.
Berikut ini adalah kualitas etik kerja yang terpenting untuk dihayati.
       1.        Ash-Shalah (Baik dan Bermanfaat)
Islam hanya memerintahkan atau menganjurkan pekerjaan yang baik dan bermanfaat bagi kemanusiaan, agar setiap pekerjaan mampu memberi nilai tambah dan mengangkat derajat manusia baik secara individu maupun kelompok. “Dan masing-masing orang memperoleh derajat-derajat (seimbang) dengan apa yang dikerjakannya.” (al-An’am: 132)
Ini adalah pesan iman yang membawa manusia kepada orientasi nilai dan kualitas. Al Qur’an menggandengkan iman dengan amal soleh sebanyak 77 kali. Pekerjaan yang standar adalah pekerjaan yang bermanfaat bagi individu dan masyarakat, secara material dan moral-spiritual. Tolok ukurnya adalah pesan syariah yang semata-mata merupakan rahmat bagi manusia. Jika tidak diketahui adanya pesan khusus dari agama, maka seseorang harus memperhatikan pengakuan umum bahwa sesuatu itu bermanfaat, dan berkonsultasi kepada orang yang lebih tahu. Jika hal ini pun tidak dilakukan, minimal kembali kepada pertimbangan akal sehat yang didukung secara nurani yang sejuk, lebih-lebih jika dilakukan melalui media shalat meminta petunjuk (istikharah). Dengan prosedur ini, seorang muslim tidak perlu bingung atau ragu dalam memilih suatu pekerjaan.
       2.        Al-Itqan (Kemantapan atau perfectness)
Kualitas kerja yang itqan atau perfect merupakan sifat pekerjaan Tuhan (baca: Rabbani), kemudian menjadi kualitas pekerjaan yang islami (an-Naml: 88). Rahmat Allah telah dijanjikan bagi setiap orang yang bekerja secara itqan, yakni mencapai standar ideal secara teknis. Untuk itu, diperlukan dukungan pengetahuan dan skill yang optimal. Dalam konteks ini, Islam mewajibkan umatnya agar terus menambah atau mengembangkan ilmunya dan tetap berlatih. Suatu keterampilan yang sudah dimiliki dapat saja hilang, akibat meninggalkan latihan, padahal manfaatnya besar untuk masyarakat. Karena itu, melepas atau menterlantarkan ketrampilan tersebut termasuk perbuatan dosa. Konsep itqan memberikan penilaian lebih terhadap hasil pekerjaan yang sedikit atau terbatas, tetapi berkualitas, daripada output yang banyak, tetapi kurang bermutu (al-Baqarah: 263).
       3.         Al-Ihsan (Melakukan yang Terbaik atau Lebih Baik Lagi)
Kualitas ihsan mempunyai dua makna dan memberikan dua pesan, yaitu sebagai berikut.
Pertama, ihsan berarti ‘yang terbaik’ dari yang dapat dilakukan.
Dengan makna pertama ini, maka pengertian ihsan sama dengan ‘itqan’. Pesan yang dikandungnya ialah agar setiap muslim mempunyai komitmen terhadap dirinya untuk berbuat yang terbaik dalam segala hal yang ia kerjakan.
Kedua ihsan mempunyai makna ‘lebih baik’ dari prestasi atau kualitas pekerjaan sebelumnya. Makna ini memberi pesan peningkatan yang terus-menerus, seiring dengan bertambahnya pengetahuan, pengalaman, waktu, dan sumber daya  lainnya. Adalah suatu kerugian jika prestasi kerja hari ini menurun dari hari kemarin, sebagaimana dinyatakan dalam sebuah hadits Nabi saw. Keharusan berbuat yang lebih baik juga berlaku ketika seorang muslim membalas jasa atau kebaikan orang lain. Bahkan, idealnya ia tetap berbuat yang lebih baik, hatta ketika membalas keburukan orang lain (Fusshilat :34, dan an Naml: 125)
Semangat kerja yang ihsan ini akan dimiliki manakala seseorang bekerja dengan semangat ibadah, dan dengan kesadaran bahwa dirinya sedang dilihat oleh Allah SWT.
       4.         Al-Mujahadah (Kerja Keras dan Optimal)
Dalam banyak ayatnya, Al-Qur’an meletakkan kulaitas mujahadah dalam bekerja pada konteks manfaatnya, yaitu untuk kebaikan manusia sendiri, dan agar   nilai guna dari hasil kerjanya semakin bertambah. (Ali Imran: 142, al-Maidah: 35,              al-Hajj: 77, al-Furqan: 25,  dan al-Ankabut: 69).
Mujahadah dalam maknanya yang luas seperti yang didefinisikan oleh Ulama adalah ”istifragh ma fil wus’i”, yakni mengerahkan segenap daya dan kemampuan yang ada dalam merealisasikan setiap pekerjaan yang baik. Dapat juga diartikan sebagai mobilisasi serta optimalisasi sumber daya. Sebab, sesungguhnya Allah SWT telah menyediakan fasilitas segala sumber daya yang diperlukan melalui hukum ‘taskhir’, yakni menundukkan seluruh isi langit dan bumi untuk manusia (Ibrahim: 32-33). Tinggal peran manusia sendiri dalam memobilisasi serta mendaya gunakannya secara optimal, dalam rangka melaksanakan apa yang Allah ridhai.
Bermujahadah atau bekerja dengan semangat jihad (ruhul jihad) menjadi kewajiban setiap muslim dalam rangka tawakkal sebelum menyerahkan (tafwidh) hasil akhirnya pada keputusan Allah (Ali Imran: 159, Hud: 133).
       5.         Tanafus dan Ta’awun (Berkompetisi dan Tolong-menolong)
Al-Qur’an dalam beberapa ayatnya menyerukan persaingan dalam kualitas amal solih. Pesan persaingan ini kita dapati dalam beberapa ungkapan Qur’ani yang bersifat “amar” atau perintah. Ada perintah “fastabiqul khairat” (maka, berlomba-lombalah kamu sekalian dalam kebaikan) (al-Baqarah: 108). Begitu pula perintah “wasari’u ilaa magfirain min Rabbikum wajannah” `bersegeralah lamu sekalian menuju ampunan Rabbmu dan surga` Jalannya adalah melalui kekuatan infaq, pengendalian emosi, pemberian maaf, berbuat kebajikan, dan bersegera bertaubat kepada Allah (Ali Imran 133-135). Kita dapati pula dalam ungkapan “tanafus” untuk menjadi hamba yang gemar berbuat kebajikan, sehingga berhak mendapatkan surga, tempat segala kenikmatan (al-Muthaffifin: 22-26). Dinyatakan pula dalam konteks persaingan dan ketaqwaan, sebab yang paling mulia dalam pandangan Allah adalah insan yang paling taqwa (al Hujurat: 13). Semua ini menyuratkan dan menyiratkan etos persaingan dalam kualitas kerja.
Oleh karena dasar semangat dalam kompetisi islami adalah ketaatan kepada Allah dan ibadah serta amal shalih, maka wajah persaingan itu tidaklah seram; saling mengalahkan atau mengorbankan. Akan tetapi, untuk saling membantu (ta’awun). Dengan demikian, obyek kompetisi dan kooperasi tidak berbeda, yaitu kebaikan dalam garis horizontal dan ketaqwaan dalam garis vertikal (al-Maidah: 3), sehingga orang yang lebih banyak membantu dimungkinkan amalnya lebih banyak serta lebih baik, dan karenanya, ia mengungguli score kebajikan yang diraih saudaranya.
       6.         Mencermati Nilai Waktu
Keuntungan atau pun kerugian manusia banyak ditentukan oleh sikapnya terhadap waktu. Sikap imani adalah sikap yang menghargai waktu sebagai karunia Ilahi yang wajib disyukuri. Hal ini dilakukan dengan cara mengisinya dengan amal solih, sekaligus waktu itu pun merupakan amanat yang tidak boleh disia-siakan. Sebaliknya, sikap ingkar adalah cenderung mengutuk waktu dan menyia-nyiakannya. Waktu adalah sumpah Allah dalam beberapa ayat kitab suci-Nya yang mengaitkannya dengan nasib baik atau buruk yang akan menimpa manusia, akibat tingkah lakunya sendiri. Semua macam pekerjaan ubudiyah (ibadah vertikal) telah ditentukan waktunya dan disesuaikan dengan kesibukan dalam hidup ini. Kemudian, terpulang kepada manusia itu sendiri: apakah mau melaksanakannya atau tidak.
Mengutip al-Qardhawi dalam bukunya “Qimatul waqti fil Islam”: waktu adalah hidup itu sendiri, maka jangan sekali-kali engkau sia-siakan, sedetik pun dari waktumu untuk hal-hal yang tidak berfaidah. Setiap orang akan mempertanggung jawabkan usianya yang tidak lain adalah rangkaian dari waktu. Sikap negatif terhadap waktu niscaya membawa kerugian, seperti gemar menangguhkan atau mengukur waktu, yang berarti menghilangkan kesempatan. Namun, kemudian ia mengkambing hitamkan waktu saat ia merugi, sehingga tidak punya kesempatan untuk memperbaiki kekeliruan.
Jika kita melihat mengenai kaitan waktu dan prestasi kerja, maka ada baiknya dikutip petikan surat Khalifah Umar bin Khatthab kepada Gubernur Abu Musa           al-Asy’ari ra, sebagaimana dituturkan oleh Abu Ubaid, ”Amma ba’du. Ketahuilah, sesungguhnya kekuatan itu terletak pada prestasi kerja. Oleh karena itu, janganlah engkau tangguhkan pekerjaan hari ini hingga esok, karena pekerjaanmu akan menumpuk, sehingga kamu tidak tahu lagi mana yang harus dikerjakan, dan akhirnya semua terbengkalai.” (Kitab al-Amwal, 10)

III. Penutup

Jihad Sebagai Etos

Ruhul jihad dalam bekerja mempersyaratkan mobilisasi dan optimalisasi pemberdayaan segenap potensi di jalan Allah untuk kebaikan setiap orang. Ruhul mujahadah menuntut kesabaran dan kontinyuitas kerja, bahkan menuntut tingkat kesabaran ekstra yang mampu mengungguli kesabaran para pesaing. Semua itu  didukung dengan ketekunan untuk murabathah, yakni pantang meninggalkan pekerjaan sebelum selesai (Ali Imran: 200). Ruhul jihad menolak setiap bentuk ketidakcermatan dalam memanajemen waktu yang begitu berharga; ketidak rofesionalan dalam mengelola sumber daya yang demikian mahal. Dengan tegas pula, ia menolak setiap perasaan dan sikap lemah, malas dan kurang serius, mengandalkan pada kemampuan orang lain untuk menyelesaikan pekerjaan, lebih-lebih mencatut prestasi orang lain sebagai hasil karyanya. Sebab, cara ini analog dengan memakan harta orang lain secara batil (al Baqarah: 188 )
Secara teoritis, Kaum Muslimin mempunyai etos kerja yang demikian kuat dan mendasar, karena ia bermuara pada iman, berhubungan langsung dengan kekuatan Allah, dan merupakan persoalanm hidup dan mati. Akan tetapi, tidak diingkari kalau kenyataannya masih ‘jauh panggang dari pada api’. Sebaliknya, Kaum Muslimin belum tahu kalau mereka itu mempunyai kekuatan etos kerja yang sangat dahsyat, dan ketika mereka melihat prestasi suatu bangsa atau umat lain, sebagian orang Islam salut dan terpana dengan etos kerja mereka, dan kadang sambil bertanya dengan agak sinis: Adakah etos kerja dalam Islam?
Maka, di sinilah Kaum Muslimin harus kembali kepada Islam secara benar dan mengambil semangat atau ‘apinya’. Karena, sebagaimana sabda Rasulullah saw, “Islam adalah pangkal segala urusan hidup, tiang pancangnya shalat, dan ujung tombaknya adalah jihad.” (H.R.Thabrani)
Dengan ruhul jihad, setiap muslim akan mampu mengukir prestasi dengan penuh kegairahan, kemudian secara pasti akan mengembalikan ‘izzah atau harga dirinya, sehingga disegani oleh umat lain. Sebab, kemuliaan dan gensi itu adalah milik Allah, rasul-Nya, serta orang-orang beriman (al-Munafiqun: 8 ). Tanpa semangat jihad, mereka takkan lebih dari sekedar umat ritual yang nampak soleh, tetapi tanpa gengsi, bahkan boleh jadi inferior terhadap umat atau bangsa lain.
Semangat inilah yang hendak dirusak dan dilumpuhkan oleh pemikiran dan budaya asing, demi lestarinya pengaruh mereka terhadap negeri-negeri muslim. Kaum Muslimin dijadikan target invasi pemikiran dan budaya (al-gazwul fikri). Mereka dicuri waktunya dengan berbagai sarana dan acara hiburan yang menyuguhkan budaya santai, lembek, dan pornografis. Maka, bersemailah di bumi Kaum Muslimin hiburan-hiburan yang berselera rendah, sikap basa-basi, asal bapak senang (ABS) serta budaya minta petunjuk, memudarnya kejantanan kaum pria yang bergaya wanita, dan akhirnya membentuk sikap al wahn, yakni cinta dunia dan takut mati.
Profil seorang muslim adalah insan yang ramah, tetapi bukan lemah; serius, tetapi familiar dan tidak kaku; perhitungan, tetapi bukan pelit; penyantun, tetapi mengajak bertanggung jawab; disipilin, tetapi pengertian, mendidik, dan mengayomi; kreatif dan enerjik, tetapi hanya untuk kebaikan; selalu memikirkan prestasi, tetapi bukan untuk dirinya sendiri. Kesenangannya adalah meminta maaf dan memberi bantuan dan kepandaiannya adalah dalam rangka mengakui karunia Allah dan menghargai jasa  atau prestasi orang lain.
Shalawat serta salam semoga tercurah kepada junjungan alam, Nabi Muhammad saw., keluarga, sahabat, serta para mujahidin di segala bidang sepanjang zaman. Berkat prestasi kerja mereka itulah, peta kejayaan ummat dapat diukurkan. Semoga kita mampu bergabung dalam barisan mereka. Aamin.

Jumat, Maret 28, 2008

Don't Forget Me

Nidji - Jangan Lupakan

ku berjalan terus tanpa henti
dan dia pun kini telah pergi
ku berdoa di tengah indahnya dunia
ku berdoa untuk dia yang ku rindukan

memohon untuk tetap tinggal
dan jangan engkau pergi lagi
berselimut di tengah dingin dunia
berselimut dengan dia yang ku rindukan

would it be nice to hold you
would it be nice to take you home
would it be nice to kiss you

memohon untuk tetap tinggal
dan jangan engkau pergi lagi
bernyanyilah na na na na na
bernyanyilah untuk dia yang ku rindukan

would it be nice to hold you
would it be nice to take you home
would it be nice to kiss you

[2x]

jangan pernah lupakan aku
jangan hilangkan diriku
jangan pernah lupakan aku
jangan hilangkan diriku
jangan pernah lupakan aku
jangan pergi dari aku

Minggu, Februari 17, 2008

In a few minutes

Letto - Sejenak

sebelum waktumu terasa terburu
sebelum lelahmu menutup mata
adakah langkahmu terisi ambisi
apakah kalbumu terasa sunyi

reff:
luangkanlah sejenak detik dalam hidupmu
berikanlah rindumu pada denting waktu
luangkanlah sejenak detik dalam sibukmu
dan lihatlah warna kemesraan dan cinta

sebelum hidupmu terhalang nafasmu
sesudah nafsumu tak terbelenggu
indahnya membisu tandai yang berlalu
bahasa tubuhmu mengartikan rindu

repeat reff

yang tlah semu.. yang tak semu..

Rabu, Februari 13, 2008

11st January

Artist : GIGI
Title : 11 Januari


11 Januari bertemu menjalani kisah cinta ini
Naluri berkata engkaulah milikku
Bahagia selalu dimiliki
Bertahun menjalani bersamamu
Kunyatakan bahwa engkaulah jiwaku

Akulah penjagamu
Akulah pelindungmu
Akulah pendampingmu
Di setiap langkah-langkahmu

Mengaku menyakiti hatimu
Pernah kau melupakan janji ini
Semua karena kita ini manusia

Akulah penjagamu
Akulah pelindungmu
Akulah pendampingmu
Di setiap langkah-langkahmu

Kaubawa diriku kedalam hidupmu
Kaubasuh diriku dengan rasa sayang
Senyummu juga sedihmu adalah hidupku
Kausentuh cintaku dengan lembut
Dengan sejuta warna

Musik

Kaubawa diriku kedalam hidupmu
Kaubasuh diriku dengan rasa sayang
Senyummu juga sedihmu adalah hidupku
Kausentuh cintaku dengan lembut
Dengan sejuta warna

11 Januari bertemu menjalani kisah cinta ini
Naluri berkata engkaulah milikku