Minggu, November 30, 2008

Akhir Zaman & Kiamat

Dajjal, Antara Kenyataan dan Kamuflase


Dajjal, Antara Kenyataan dan Kamuflase
Penulis: Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman

“Dajjal” acap menjadi topik seru yang dibicarakan banyak orang. Perkaranya pun kian hangat dengan munculnya orang-orang yang mengaku atau dianggap orang lain sebagai Dajjal, seperti yang dialamatkan pada Sri Sathya Sai Baba, seorang begawan dari India. Benarkah dia Dajjal?1


Jika ditinjau dari sisi bahasa, makna Dajjal adalah sangat tepat untuknya, karena Dajjal berarti banyak berdusta dan menipu. Siapa pun yang banyak berdusta dan menipu, ada pengikutnya ataupun tidak, maka dia adalah Dajjal. Demikianlah yang diistilahkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang mereka. Beliau menjelaskan hal ini dalam banyak hadits seperti yang diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari rahimahullahu dalam dua tempat (no. 3340 dalam Kitabul Manaqib dan no. 6588 dalam Kitab Al-Fitan) dan Muslim rahimahullahu dalam dua tempat (no. 8 dalam Muqaddimah dan no. 5205 dalam Kitab Al-Fitan Wa Asyrathis Sa’ah) dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:

لاَ تَقُوْمُ السَّاعَةُ حَتَّى تَقْتَتِلَ فِئَتَانِ عَظِيْمَتَانِ يَكُوْنُ بَيْنَهُمَا مَقْتَلَةٌ عَظِيْمَةٌ دَعْوَتُهُمَا وَاحِدَةٌ وَحَتَّى يُبْعَثَ دَجَّالُوْنَ كَذَّابُوْنَ قَرِيْبٌ مِنْ ثَلاَثِيْنَ كُلُّهُمْ يَزْعُمُ أَنَّهُ رَسُوْلُ اللهِ وَحَتَّى يُقْبَضَ الْعِلْمُ وَتَكْثُرَ الزَّلاَزِلُ وَيَتَقَارَبَ الزَّمَانُ وَتَظْهَرَ الْفِتَنُ وَيَكْثُرَ الْهَرْجُ وَهُوَ الْقَتْلُ وَحَتَّى يَكْثُرَ فِيْكُمُ الْمَالُ فَيَفِيْضَ حَتَّى يُهِمَّ رَبَّ الْمَالِ مَنْ يَقْبَلُ صَدَقَتَهُ وَحَتَّى يَعْرِضَهُ عَلَيْهِ فَيَقُوْلَ الَّذِي يَعْرِضُهُ عَلَيْهِ: لاَ أَرَبَ لِي بِهِ؛ وَحَتَّى يَتَطَاوَلَ النَّاسُ فِي الْبُنْيَانِ وَحَتَّى يَمُرَّ الرَّجُلُ بِقَبْرِ الرَّجُلِ فَيَقُوْلُ: يَا لَيْتَنِي مَكَانَهُ؛ وَحَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا فَإِذَا طَلَعَتْ وَرَآهَا النَّاسُ يَعْنِي آمَنُوا أَجْمَعُوْنَ فَذَلِكَ حِيْنَ لاَ يَنْفَعُ نَفْسًا إِيْمَانُهَا لَمْ تَكُنْ آمَنَتْ مِنْ قَبْلُ أَوْ كَسَبَتْ فِي إِيْمَانِهَا خَيْرًا

“Tidak akan terjadi hari kiamat sehingga dua kelompok besar saling berperang dan banyak terbunuh di antara dua kelompok tersebut, yang seruan mereka adalah satu. Dan hingga dibangkitkannya para Dajjal lagi pendusta hampir 30 orang, semuanya mengaku bahwa dirinya Rasulullah, dicabutnya ilmu, banyak terjadi gempa, zaman berdekatan, fitnah menjadi muncul, banyak terjadi pembunuhan, berlimpah ruahnya harta di tengah kalian sehingga para pemilik harta bingung terhadap orang yang akan menerima shadaqahnya. Sampai dia berusaha menawarkannya kepada seseorang namun orang tersebut berkata: ‘Saya tidak membutuhkannya’; orang berlomba-lomba dalam meninggikan bangunan. Ketika seseorang lewat pada sebuah kuburan dia berkata: ‘Aduhai jika saya berada di sana’; terbitnya matahari dari sebelah barat dan apabila terbit dari sebelah barat di saat orang-orang melihatnya, mereka beriman seluruhnya (maka itulah waktu yang tidak bermanfaat keimanan bagi setiap orang yang sebelumnya dia tidak beriman atau dia tidak berbuat kebaikan dengan keimanannya).”

Dari keterangan di atas jelaslah bahwa kata Dajjal sering dipakai untuk menamai seseorang yang banyak berdusta dan banyak menipu umat. Para dedengkot kesesatan yang memproklamirkan diri sebagai nabi setelah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah para Dajjal. Dan bila disebutkan Dajjal secara mutlak (tanpa keterangan tambahan, red.) maka tidak ada yang tergambar dalam benak setiap orang melainkan Ad-Dajjal Al-Akbar (yang terbesar), yang akan muncul di akhir zaman sebagai tanda dekatnya hari kiamat dengan sifat-sifat yang sudah jelas sebagaimana dijelaskan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.


Mengimani Munculnya Dajjal Al-Akbar

Tidak ada keraguan bagi orang yang beriman terhadap segala berita yang datang dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, masuk akal ataupun tidak. Karena mereka meyakini bahwa segala yang diberitakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sepanjang riwayatnya shahih, merupakan berita wahyu dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan segala perkara yang disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang terkait dengan Dajjal –seperti sifat-sifatnya, kejadian-kejadian luar biasa yang diperbuatnya, masa tinggalnya di atas dunia, para pengikutnya, tempat turunnya, siapa yang akan membunuhnya dan sebagainya– bagi orang yang beriman bukanlah sebuah khurafat dan tahayul yang menjajah akal serta hati mereka. Bukan pula sebuah keanehan bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk menjadikan keluarbiasaan pada diri Dajjal. Dan ini tidak akan mengurangi kemuliaan Allah Subhanahu wa Ta’ala sedikitpun. Mereka menjadikan segala yang terkait dengan Dajjal sebagai perkara yang akan menambah dan mengokohkan keimanan mereka terhadap kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala serta kebenaran berita Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka akan menjadikan segala yang terkait dengan Dajjal sebagai ujian yang datang dari Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk menambah kebajikan mereka di atas kebajikan. Tidak ada ucapan yang keluar dari orang-orang yang beriman melainkan:

آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا

“Kami beriman kepadanya, semuanya itu dari sisi Rabb kami.” (Ali ‘Imran: 7)

سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا

“Kami mendengar dan kami patuh.” (Al-Baqarah: 285)


Dajjal sebagai Tanda Hari Kiamat

Munculnya Dajjal merupakan salah satu tanda hari kiamat kubra (tanda-tanda yang besar). Artinya, tanda-tanda yang muncul mendekati hari kiamat dan bukan tanda yang biasa terjadi. Seperti munculnya Dajjal, turunnya ‘Isa, munculnya Ya’juj dan Ma’juj, serta terbitnya matahari dari sebelah barat. (Lihat At-Tadzkirah karya Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullahu hal. 264, Fathul Bari 13/485, dan Ikmal Mu’allim Syarah Shahih Muslim, 1/70)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberitakan akan munculnya Dajjal di dalam banyak hadits. Di antaranya yang diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim rahimahullahu (no. 5228) dari An-Nawwas bin Sam’an radhiyallahu ‘anhu:

ذَكَرَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الدَّجَّالَ ذَاتَ غَدَاةٍ فَخَفَّضَ فِيْهِ وَرَفَّعَ حَتَّى ظَنَنَّاهُ فِي طَائِفَةِ النَّخْلِ فَلَمَّا رُحْنَا إِلَيْهِ عَرَفَ ذَلِكَ فِيْنَا. فَقَالَ: مَا شَأْنُكُمْ؟ قُلْنَا: يَا رَسُوْلَ اللهِ ذَكَرْتَ الدَّجَّالَ غَدَاةً فَخَفَّضْتَ فِيْهِ وَرَفَّعْتَ حَتَّى ظَنَنَّاهُ فِي طَائِفَةِ النَّخْلِ. فَقَالَ: غَيْرُ الدَّجَّالِ أَخْوَفُنِي عَلَيْكُمْ، إِنْ يَخْرُجْ وَأَنَا فِيْكُمْ فَأَنَا حَجِيْجُهُ دُوْنَكُمْ، وَإِنْ يَخْرُجْ وَلَسْتُ فِيْكُمْ فَامْرُؤٌ حَجِيْجُ نَفْسِهِ

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkisah tentang Dajjal pada pagi hari dan beliau mengangkat dan merendahkan suaranya seakan-akan kami menyangka dia (Dajjal) berada di sebagian pohon korma. Lalu kami berpaling dari sisi Rasulullah. Kemudian kami kembali kepada beliau dan beliau mengetahui hal ini, lalu beliau berkata: ‘Ada apa dengan kalian?’ Kami berkata: ‘Ya Rasulullah, engkau bercerita tentang Dajjal pada pagi hari dan engkau mengangkat serta merendahkan suara, sehingga kami menyangka bahwa dia berada di antara pepohonan korma.’ Rasulullah lantas bersabda: ‘Bukan Dajjal yang aku khawatirkan atas kalian. Dan jika dia keluar dan aku berada di tengah kalian maka akulah yang akan menyelesaikan urusannya. Dan jika dia keluar dan aku tidak berada di tengah kalian, maka setiap orang menyelesaikan urusannya masing-masing’.”

Diriwayatkan oleh Ibnu Majah rahimahullahu dalam Kitabul Fitan (no. 4045) dari Hudzaifah bin Usaid Abu Suraihah radhiyallahu ‘anhu:

كُنَّا قُعُوْدًا نَتَحَدَّثُ فِي ظِلِّ غُرْفَةٍ لِرَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرْنَا السَّاعَةَ فَارْتَفَعَتْ أَصْوَاتُنَا فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لَنْ تَكُوْنَ - أَوْ لَنْ تَقُوْمَ - السَّاعَةُ حَتَّى يَكُوْنَ قَبْلَهَا عَشْرُ آيَاتٍ طُلُوْعُ الشَّمْسِ مِنْ مَغْرِبِهَا وَخُرُوْجُ الدَّابَّةِ وَخُرُوْجُ يَأْجُوْجَ وَمَأْجُوْجَ وَالدَّجَّالُ وَعِيْسَى ابْنُ مَرْيَمَ وَالدُّخَانُ وَثَلاَثَةُ خُسُوْفٍ خَسْفٌ بِالْمَغْرِبِ وَخَسْفٌ بِالْمَشْرِقِ وَخَسْفٌ بِجَزِيْرَةِ الْعَرَبِ وَآخِرُ ذَلِكَ تَخْرُجُ نَارٌ مِنْ الْيَمَنِ مِنْ قَعْرِ عَدَنٍ تَسُوْقُ النَّاسَ إِلَى الْمَحْشَرِ

“Kami sedang duduk-duduk berbincang di bayang-bayang salah satu kamar Rasulullah. Kami berbincang tentang hari kiamat, dan suara kami pun menjadi meninggi. Lalu beliau bersabda: ‘Tidak akan terjadi hari kiamat sehingga muncul sepuluh tanda; yaitu terbitnya matahari dari sebelah barat, munculnya Dajjal, munculnya asap, keluarnya binatang, munculnya Ya’juj dan Ma’juj, turunnya Isa putra Maryam, dan tiga khusuf (terbenam ke dalam bumi), satu di timur, satu di barat dan satu di Jazirah Arab, dan api yang keluar dari arah Yaman dari dataran terendah ‘Adn yang menggiring manusia ke tempat mahsyar’.”

Berita tentang munculnya Dajjal dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang wajib diimani dengan sifat-sifat yang telah disebutkan dengan terang dan jelas yang tidak butuh penakwilan apapun, di antaranya:

1. Dia dari Bani Adam

2. Laki-laki

3. Pemuda

4. Pendek

5. Berkulit merah

6. Keriting rambutnya

7. Dahinya lebar

8. Lehernya lebar

9. Matanya buta sebelah kanan

10.Tertulis di antara dua matanya ك ف ر (yang bermakna kafir)

11.Tidak berketurunan

12.Pada matanya sebelah kiri terdapat daging tumbuh.

Sifat-sifat di atas disebutkan di dalam banyak hadits baik dalam Ash-Shahihain (Al-Bukhari dan Muslim) atau selain keduanya.


Dajjal adalah dari Bani Adam, Bukan Lambang Kejahatan dan Kerusakan

Termasuk benarnya keimanan seorang hamba kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya yaitu mengimani bahwa Dajjal adalah dari Bani Adam, dan bukan sebuah lambang kejahatan dan lambang khurafat, seperti yang telah dikatakan oleh Muhammad Abduh dalam kitab tafsirnya Al-Manar (3/317), lalu diikuti oleh Abu ‘Ubayyah yang mengatakan bahwa Dajjal adalah sebuah lambang dari kejahatan dan bukan salah seorang Bani Adam. (Asyrathus Sa’ah, hal. 316)

Penakwilan ini termasuk sikap memalingkan makna lahiriah (tekstual) nash-nash.

Asal Dajjal dari Bani Adam telah dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam banyak hadits. Dari penjelasan nash tersebut tidaklah masuk akal bila dimaknakan kepada sebuah lambang. Coba perhatikan hadits di bawah ini yang diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari rahimahullahu (no. 6484) dan Al-Imam Muslim rahimahullahu (no. 246) dari sahabat Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma:

ذَكَرَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا بَيْنَ ظَهْرَانَيِ النَّاسِ الْمَسِيْحَ الدَّجَّالَ، فَقَالَ: إِنَّ اللهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى لَيْسَ بِأَعْوَرَ أَلاَ إِنَّ الْمَسِيْحَ الدَّجَّالَ أَعْوَرُ عَيْنِ الْيُمْنَى كَأَنَّ عَيْنَهُ عِنَبَةٌ طَافِيَةٌ. قَالَ: وَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَرَانِي اللَّيْلَةَ فِي الْمَنَامِ عِنْدَ الْكَعْبَةِ فَإِذَا رَجُلٌ آدَمُ كَأَحْسَنِ مَا تَرَى مِنْ أُدْمِ الرِّجَالِ تَضْرِبُ لِمَّتُهُ بَيْنَ مَنْكِبَيْهِ، رَجِلُ الشَّعْرِ يَقْطُرُ رَأْسُهُ مَاءً، وَاضِعًا يَدَيْهِ عَلَى مَنْكِبَيْ رَجُلَيْنِ وَهُوَ بَيْنَهُمَا يَطُوْفُ بِالْبَيْتِ فَقُلْتُ: مَنْ هَذَا؟ فَقَالُوا: الْمَسِيْحُ ابْنُ مَرْيَمَ. وَرَأَيْتُ وَرَاءَهُ رَجُلاً جَعْدًا قَطَطًا أَعْوَرَ عَيْنِ الْيُمْنَى كَأَشْبَهِ مَنْ رَأَيْتُ مِنْ النَّاسِ بِابْنِ قَطَنٍ، وَاضِعًا يَدَيْهِ عَلَى مَنْكِبَيْ رَجُلَيْنِ يَطُوْفُ بِالْبَيْتِ. فَقُلْتُ: مَنْ هَذَا؟ قَالُوا: هَذَا الْمَسِيْحُ الدَّجَّالُ

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan pada suatu hari di tengah keramaian tentang Al-Masih Ad-Dajjal. Beliau berkata: “Sesungguhnya Allah tidak buta sebelah, dan ketahuilah Al-Masih Ad-Dajjal adalah buta mata sebelah kanannya, seperti buah anggur yang menonjol.” Ibnu ‘Umar berkata: “Rasulullah bersabda: ‘Diperlihatkan dalam mimpiku pada suatu malam ketika aku berada di Ka’bah, kemunculan secara tiba-tiba seseorang dari Bani Adam yang terlihat sangat bagus, berkulit sawo matang dari Bani Adam, rambutnya tersisir di antara kedua pundaknya, dalam keadaan meletakkan kedua tangannya di atas dua pundak dua lelaki dan dia melaksanakan thawaf di antara keduanya aku berkata: ‘Siapa ini?’ Mereka berkata: ‘Al-Masih bin Maryam.’ Dan aku melihat di belakangnya ada seseorang yang sangat keriting rambutnya dan buta matanya sebelah kanan dan serupa dengan Ibnu Qathan. Dia meletakkan tangannya di atas pundak dua laki-laki dan thawaf di Ka’bah. Lalu aku berkata: ‘Siapa ini?’ Mereka menjawab: ‘Ini adalah Al-Masih Ad-Dajjal’.”


Kenapa Tidak Disebutkan Dajjal Di dalam Al-Qur`an dengan Jelas Sebagaimana dalam Hadits-hadits?

Mungkin orang-orang akan bertanya kenapa tidak disebutkan di dalam Al-Qur`an dengan jelas tentang Dajjal sebagaimana disebutkan di dalam hadits-hadits? Padahal perkara Dajjal tidaklah jauh lebih besar dari perkara Ya’juj dan Ma’juj, sementara urusan Ya’juj dan Ma’juj disebutkan di dalam Al-Qur`an?

Telah disebutkan alasannya oleh para ulama dalam banyak pendapat. Di antaranya:

1. Penyebutan Dajjal di dalam Al-Qur`an termasuk dalam kandungan ayat:

هَلْ يَنْظُرُوْنَ إِلاَّ أَنْ تَأْتِيَهُمُ الْمَلاَئِكَةُ أَوْ يَأْتِيَ رَبُّكَ أَوْ يَأْتِيَ بَعْضُ آيَاتِ رَبِّكَ يَوْمَ يَأْتِي بَعْضُ آيَاتِ رَبِّكَ لاَ يَنْفَعُ نَفْسًا إِيْمَانُهَا لَمْ تَكُنْ آمَنَتْ مِنْ قَبْلُ أَوْ كَسَبَتْ فِي إِيْمَانِهَا خَيْرًا قُلِ انْتَظِرُوا إِنَّا مُنْتَظِرُوْنَ

“Yang mereka nanti-nanti tidak lain hanyalah kedatangan malaikat kepada mereka (untuk mencabut nyawa mereka) atau kedatangan (siksa) Rabbmu atau kedatangan beberapa ayat Rabbmu. Pada hari datangnya ayat dari Rabbmu, tidaklah bermanfaat lagi iman seseorang kepada dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu, atau dia (belum) mengusahakan kebaikan dalam masa imannya. Katakanlah: ‘Tunggulah olehmu, sesungguhnya kamipun menunggu (pula)’.” (Al-An’am: 158)

Yang dimaksud dengan ‘tanda-tanda Rabbmu’ dalam ayat ini adalah munculnya Dajjal, terbitnya matahari dari sebelah barat, dan munculnya daabbah (binatang). Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan di dalam sebuah sabdanya:

ثَلاَثَةٌ إِذَا خَرَجْنَ لَمْ يَنْفَعْ نَفْسًا إِيْمَانُهَا لَمْ تَكُنْ آمَنَتْ مِنْ قَبْلُ: الدَّجَّالُ وَالدَّابَّةُ وَطُلُوْعُ الشَّمْسِ مِنْ مَغْرِبِهَا

“Tiga hal apabila telah muncul (terjadi) maka tiada bermanfaat lagi sebuah keimanan bagi seorang jiwa yang belum beriman (sebelumnya): Dajjal, daabbah, dan terbitnya matahari dari arah barat.”

2. Al-Qur`an menyebutkan akan turunnya Nabi ‘Isa ‘alaihissalam dan dialah yang akan membunuh Dajjal. Maka dengan menyebutkan Masihil Huda (Nabi ‘Isa ‘alaihissalam) sudah cukup dari penyebutan Masihidh Dhalal (Dajjal). Dan kebiasaan orang Arab adalah mencukupkan diri dengan menyebutkan salah satu yang berlawanan.

3. Bahwa munculnya Dajjal disebutkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam firman-Nya:

لَخَلْقُ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ أَكْبَرُ مِنْ خَلْقِ النَّاسِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لاَ يَعْلَمُوْنَ

“Sesungguhnya penciptaan langit dan bumi lebih besar daripada penciptaan manusia akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Al-Mu`min: 57)

Yang dimaksud kata “manusia” di dalam ayat ini adalah Dajjal. Dalam istilah kaidah bahasa termasuk dalam bab penyebutan secara umum sedangkan yang dimaksud adalah khusus, yaitu Dajjal. Abu ‘Aliyah berkata: “Artinya lebih besar dari penciptaan Dajjal yang diagungkan oleh orang-orang Yahudi.” (Tafsir Al-Qurthubi, 15/325)

Dan Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullahu berkata: “Ini, kalau memang benar, adalah sebaik-baik jawaban. Dan ini termasuk perkara-perkara yang ditugaskan kepada Rasul-Nya untuk dijelaskan. Dan ilmunya ada di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (Fathul Bari, 13/92)

4. Al-Qur`an tidak menyebutkan Dajjal sebagai bentuk penghinaan terhadapnya. Di mana dia menobatkan dirinya sebagai Tuhan, padahal dia adalah manusia. Tentu sikapnya ini menafikan kemahaagungan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan kemahasempurnaan-Nya serta kesucian-Nya dari sifat-sifat kekurangan. Oleh karena itu, urusan Dajjal di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah sangat hina dan kecil untuk disebutkan.

Jika demikian, mengapa tentang Fir’aun yang mengaku sebagai Tuhan disebutkan di dalam Al-Qur`an? Jawabannya adalah: “Perkara Fir’aun telah selesai dan habis masanya, dan disebutkan sebagai peringatan bagi manusia. Adapun urusan Dajjal, akan muncul di akhir zaman sebagai ujian bagi manusia.”

Dan terkadang, sesuatu itu tidak disebutkan karena jelas dan nyata perkaranya.


Inilah beberapa pendapat dari jawaban dan alasan ulama tentang mengapa tidak disebutkan permasalahan Dajjal di dalam Al-Qur`an. Pertanyaan-pertanyaan seperti itu wajar bila muncul, karenanya Ibnu Hajar rahimahullahu menjelaskan: “Pertanyaan tentang tidak disebutkannya Dajjal di dalam Al-Qur`an akan terus muncul. Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan perkara Ya`juj dan Ma`juj, sementara fitnah mereka sama dengan fitnahnya Dajjal.” (Fathul Bari, 13/91-92)

Pengarang kitab Asyrathus Sa’ah menguatkan pendapat yang pertama yaitu Dajjal telah disebutkan di dalam Al-Qur`an sebagaimana kandungan ayat dalam surat Al-An’am di atas secara global, dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam diamanatkan untuk menjelaskannya (secara rinci). (Asyrathus Sa’ah, hal. 333)


Fitnah Dajjal

Tidak ada yang mengingkari bahwa fitnah Dajjal adalah fitnah besar sepanjang perjalanan hidup Bani Adam di atas dunia ini sampai pada hari kiamat. Hal ini disebabkan berbagai bentuk keanehan yang diciptakan Allah Subhanahu wa Ta’ala yang bisa diperbuat oleh Dajjal tersebut, sebagaimana dijelaskan dalam banyak riwayat. Dua fitnah yang sesungguhnya diusung oleh Dajjal untuk merekrut pengikut itulah fitnah syahwat dan fitnah syubuhat. Di bawah ini akan dijelaskan beberapa fitnah besar Dajjal terhadap umat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

1. Bersama Dajjal ada surga dan neraka

Diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim dalam Shahih-nya (no. 2934) dari sahabat Hudzaifah bin Al-Yaman radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الدَّجَّالُ أَعْوَرُ الْعَيْنِ الْيُسْرَى جُفَالُ الشَّعَرِ مَعَهُ جَنَّةٌ وَنَارٌ فَنَارُهُ جَنَّةٌ وَجَنَّتُهُ نَارٌ

“Dajjal adalah buta sebelah kiri, sangat keriting rambutnya, dan bersamanya surga dan neraka. Namun nerakanya adalah surga dan surganya adalah neraka.”

2. Bersamanya ada sungai-sungai yang penuh air

Diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim rahimahullahu (no. 2934) dari shahabat Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu berkata Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَأَنَا أَعْلَمُ بِمَا مَعَ الدَّجَّالِ، مِنْهُ مَعَهُ نَهْرَانِ يَجْرِيَانِ أَحَدُهُمَا رَأْيَ الْعَيْنِ مَاءٌ أَبْيَضُ وَاْلآخَرُ رَأْيَ الْعَيْنِ نَارٌ تَأَجَّجُ فَإِمَّا أَدْرَكَنَّ أَحَدٌ فَلْيَأْتِ النَّهْرَ الَّذِي يَرَاهُ نَارًا وَلْيُغَمِّضْ ثُمَّ لْيُطَأْطِئْ رَأْسَهُ فَيَشْرَبَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مَاءٌ بَارِدٌ، وَإِنَّ الدَّجَّالَ مَمْسُوْحُ الْعَيْنِ عَلَيْهَا ظَفَرَةٌ غَلِيْظَةٌ مَكْتُوْبٌ بَيْنَ عَيْنَيْهِ كَافِرٌ يَقْرَؤُهُ كُلُّ مُؤْمِنٍ كَاتِبٍ وَغَيْرِ كَاتِبٍ

“Sesungguhnya aku mengetahui apa yang menyertai Dajjal. Yaitu, bersamanya ada dua sungai yang mengalir. Dengan penglihatan mata, salah satunya adalah air yang putih dan yang lain api yang berkobar. Maka barangsiapa menjumpai yang demikian hendaklah dia mendatangi sungai yang dia lihat sebagai api dan pejamkan matanya kemudian tundukkan kepalanya dan minumlah darinya, karena sesungguhnya itu adalah air yang dingin. Sesungguhnya Dajjal buta dan pada matanya ada daging tumbuh yang tebal serta tertulis di antara dua matanya kafir, yang akan dibaca oleh setiap orang yang beriman baik yang bisa menulis atau tidak.”

3. Memerintahkan langit untuk menurunkan hujan dan bumi menumbuhkan tanamannya

Hal ini dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana dalam riwayat Al-Imam Muslim rahimahullahu dalam Shahih beliau (no. 2937) dari sahabat An-Nawwas bin Sam’an radhiyallahu ‘anhu:

قُلْنَا: يَا رَسُوْلَ اللهِ وَمَا لَبْثُهُ فِي اْلأَرْضِ؟ قَالَ:أَرْبَعُوْنَ يَوْمًا يَوْمٌ كَسَنَةٍ وَيَوْمٌ كَشَهْرٍ وَيَوْمٌ كَجُمُعَةٍ وَسَائِرُ أَيَّامِهِ كَأَيَّامِكُمْ. قُلْنَا: يَا رَسُوْلَ اللهِ، فَذَلِكَ الْيَوْمُ الَّذِي كَسَنَةٍ أَتَكْفِيْنَا فِيْهِ صَلاَةُ يَوْمٍ؟ قَالَ: لاَ، اقْدُرُوا لَهُ قَدْرَهُ. قُلْنَا: يَا رَسُوْلَ اللهِ، وَمَا إِسْرَاعُهُ فِي اْلأَرْضِ؟ قَالَ: كَالْغَيْثِ اسْتَدْبَرَتْهُ الرِّيْحُ، فَيَأْتِي عَلَى الْقَوْمِ فَيَدْعُوْهُمْ فَيُؤْمِنُوْنَ بِهِ وَيَسْتَجِيْبُوْنَ لَهُ فَيَأْمُرُ السَّمَاءَ فَتُمْطِرُ وَاْلأَرْضَ فَتُنْبِتُ

Kami berkata: “Ya Rasulullah, berapa lama masa tinggalnya di atas dunia?” Beliau bersabda: “40 hari. Satu hari bagaikan satu tahun, satu hari bagaikan satu bulan, dan satu hari bagaikan satu minggu dan selain itu harinya sama dengan hari biasa.” Kami mengatakan: “Ya Rasulullah, bagaimana kalau satu hari bagaikan satu tahun, apakah cukup bagi kita untuk melaksanakan shalat satu hari?” Rasulullah bersabda: “Tidak, tetapi ukurlah kadarnya.” Kami berkata: “Ya Rasulullah, bagaimana tentang kecepatannya di muka bumi?” Beliau bersabda: “Bagaikan hujan yang ditiup oleh angin lalu dia mendatangi kaum dan menyerukan mereka sehingga mereka beriman kepadanya dan menerima seruannya. Dia juga memerintahkan langit untuk menurunkan hujan dan kemudian hujan turun; dan memerintahkan bumi untuk menumbuhkan tanaman maka kemudian tumbuh.”

4. Bersamanya segala perbendaharaan bumi, dan bisa menempuh arah dengan cepat bagaikan hujan yang ditiup oleh angin. Sebagaimana dalil yang disebutkan di atas.

5. Menghidupkan dan mematikan.

Diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim rahimahullahu dari sahabat Abu Sai’d Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu (no. 2938) berkata:

حَدَّثَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا حَدِيْثًا طَوِيْلاً عَنِ الدَّجَّالِ فَكَانَ فِيْمَا حَدَّثَنَا قَالَ: يَأْتِي وَهُوَ مُحَرَّمٌ عَلَيْهِ أَنْ يَدْخُلَ نِقَابَ الْمَدِيْنَةِ فَيَنْتَهِي إِلَى بَعْضِ السِّبَاخِ الَّتِي تَلِي الْمَدِيْنَةَ فَيَخْرُجُ إِلَيْهِ يَوْمَئِذٍ رَجُلٌ هُوَ خَيْرُ النَّاسِ أَوْ مِنْ خَيْرِ النَّاسِ فَيَقُوْلُ لَهُ: أَشْهَدُ أَنَّكَ الدَّجَّالُ الَّذِي حَدَّثَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَدِيْثَهُ. فَيَقُوْلُ الدَّجَّالُ: أَرَأَيْتُمْ إِنْ قَتَلْتُ هَذَا ثُمَّ أَحْيَيْتُهُ أَتَشُكُّوْنَ فِي اْلأَمْرِ؟ فَيَقُوْلُوْنَ: لاَ. قَالَ: فَيَقْتُلُهُ ثُمَّ يُحْيِيْهِ فَيَقُوْلُ حِيْنَ يُحْيِيْهِ: وَاللهِ مَا كُنْتُ فِيْكَ قَطُّ أَشَدَّ بَصِيْرَةً مِنِّي اْلآنَ. قَالَ: فَيُرِيْدُ الدَّجَّالُ أَنْ يَقْتُلَهُ فَلاَ يُسَلَّطُ عَلَيْهِ

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan kepada kami sebuah hadits yang panjang tentang Dajjal pada suatu hari. Di antara apa yang beliau sampaikan adalah: “Dajjal datang dan dia diharamkan untuk masuk ke kota Madinah, maka dia berakhir di daerah yang tanahnya bergaram yang berada di sekitar Madinah. Maka keluarlah kepadanya seorang yang paling baik dan dia berkata: ‘Aku bersaksi bahwa kamu adalah Dajjal yang telah diceritakan oleh Rasulullah.’ Lalu Dajjal berkata (kepada pengikutnya): ‘Bagaimana jika aku membunuh orang ini kemudian menghidupkannya, apakah kalian masih tetap ragu tentang urusanku?’ Mereka berkata: ‘Tidak.’ Dia pun membunuhnya kemudian menghidupkannya. Orang yang baik itu berkata setelah dihidupkan: ‘Demi Allah, aku semakin yakin tentang dirimu.’ Rasulullah berkata: ‘Lalu Dajjal ingin membunuhnya lagi namun dia tidak sanggup melakukannya’.”

6. Melakukan penipuan dengan mengubah wujud seseorang

Demikianlah beberapa bentuk dari sekian fitnah Dajjal yang sangat dahsyat. Tidak ada seorang pun yang akan selamat melainkan orang-orang yang berusaha menyelamatkan dirinya kemudian dijemput oleh rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dengan rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala, dia selamat dari fitnah Dajjal yang amat sangat dahsyat.

Bentuk fitnah yang juga diusung oleh Dajjal dalam rangka mencari pengikut adalah fitnah syahwat. Sungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menguji kita dengan sedikit harta benda dunia dan kita berguguran menjadi budak kesesatan. Bisa dibayangkan jika si Dajjal mengusung surga dan neraka, membunuh dan menghidupkan, di tangannya ada perbendaharaan bumi, memerintahkan langit untuk menurunkan hujan lalu turun. Dan memerintahkan bumi menumbuhkan tanam-tanaman lalu tumbuh, kemudian menawarkannya kepada kita. Ke manakah kita akan menginjakkan kaki? Apakah menjadi pengikut Dajjal yang di tangannya kenikmatan semu, atau menjadi kekasih Allah Subhanahu wa Ta’ala? Jawabannya ada dalam diri kita masing-masing.


Ucapan Ulama tentang Kejadian Luar Biasa pada Dajjal

Al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullahu berkata: “Hadits-hadits ini yang disebutkan oleh Al-Imam Muslim rahimahullahu dan selain beliau tentang kisah Dajjal adalah hujjah bagi ahlul haq tentang kebenarannya. Dia adalah manusia biasa yang dijadikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai ujian bagi hamba-hamba-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kemampuan kepadanya berupa hal-hal yang merupakan kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala semata, seperti menghidupkan mayat yang dibunuhnya, serta bersamanya ada segala kenikmatan dunia, surga dan neraka, perbendaharaan dunia, dia memerintahkan langit untuk menurunkan hujan lalu terjadi dan memerintahkan bumi untuk menumbuhkan lalu terlaksana. Semuanya terjadi dengan kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan kehendak-Nya. Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kepadanya ketidaksanggupan untuk membunuh orang tersebut (setelah dia menghidupkannya) dan selain orang tersebut. Allah Subhanahu wa Ta’ala juga membatilkan urusannya lalu dia dibunuh oleh Nabi ‘Isa ‘alaihissalam dan Allah Subhanahu wa Ta’ala mengokohkan orang-orang yang beriman. Inilah madzhab Ahlus Sunnah dan seluruh ahli hadits serta para fuqaha dan para peneliti. Berbeda dengan orang-orang yang mengingkarinya dan menolak perkaranya, seperti Khawarij, Jahmiyyah, sebagian Mu’tazilah serta selain mereka, yaitu bahwa Dajjal itu benar adanya, namun kejadian-kejadian luar biasa pada diri Dajjal adalah khayalan yang tidak memiliki hakikat. Mereka mengira, jika hal itu benar niscaya tidak ada perbedaan dengan mukjizat yang terjadi pada diri nabi. Cara berfikir seperti ini termasuk kesalahan mereka seluruhnya, karena Dajjal tidak mengaku sebagai nabi dan apa yang terjadi pada dirinya hanya sebatas sebagai bukti bahwa dia Dajjal. Dia justru mengaku sebagai Rabb, meski pada kenyataannya dia berdusta dalam pengakuannya, dari sisi penampilannya sendiri, sesuatu yang baru terjadi, kekurangan dalam hal penciptaan, ketidaksanggupannya untuk menghilangkan kebutaan matanya dan menghilangkan tulisan kafir yang terdapat di antara dua matanya.

Karena bukti-bukti ini dan selainnya pada diri Dajjal, maka tidak tertipu dengannya kecuali orang-orang rendahan. Ini semata-mata untuk menutupi keinginan dan kemiskinan, berharap untuk memenuhi kebutuhan hidup, atau menyelamatkan dirinya, atau takut dari gangguannya, karena fitnahnya yang dahsyat dan membingungkan akal.

Oleh karena itulah, para nabi memperingatkan dari fitnahnya serta menjelaskan tentang kelemahan dan bukti kedustaannya. Adapun orang yang diberikan taufiq oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala mereka tidak akan tertipu dan terpesona dengan apa yang menyertainya dari bukti-bukti yang penuh kedustaan bersamaan dengan apa yang telah dijelaskan tentang keadaannya. Pantaslah orang yang telah dibunuhnya berkata: “Tidak menambahku tentang dirimu kecuali keyakinan.” (Syarah Shahih Muslim 18/58-59 dan Fathul Bari 13/105)

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullahu berkata: “Sesungguhnya Dajjal dijadikan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai ujian bagi hamba-hamba-Nya dengan kejadian-kejadian luar biasa yang diciptakan Allah Subhanahu wa Ta’ala melalui tangannya yang bisa disaksikan pada masanya. Dan bagi orang yang memenuhi panggilannya; memerintahkan langit untuk menurunkan hujan lalu turun dan memerintahkan bumi untuk menumbuhkan tanamannya lalu terlaksana yang bisa dimakan oleh binatang-binatang ternak dan dimanfaatkan oleh mereka sendiri kemudian mereka bisa mengambil manfaat dari binatang ternak baik daging ataupun susunya. Dan orang yang tidak memenuhi panggilannya serta menolak seruannya akan ditimpa oleh paceklik penuh kekurangan, binatang-binatang ternak mereka habis mati, kekurangan pada harta benda, jiwa, dan buah-buahan. Bersamanya juga ada perbendaharaan bagaikan mayang kurma dan dia membunuh seseorang lalu menghidupkannya. Ini semua bukan penipuan melainkan hakikat yang nyata yang diciptakan Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk menguji hamba-hamba-Nya pada akhir zaman nanti. Allah Subhanahu wa Ta’ala menyesatkan banyak orang dan memberikan hidayah kepada mereka. Orang-orang yang ragu, niscaya mereka akan kafir. Dan akan bertambahlah iman orang-orang yang beriman.” (An-Nihayah/Al-Fitan Wal Malahim 1/121)

Ibnu Hajar rahimahullahu berkata: “Pada diri Dajjal terdapat bukti nyata atas kedustaannya di hadapan orang-orang yang berakal. Karena dia memiliki wujud fisik serta memiliki bukti dari perbuatannya. Bersamaan dengan kekurangan pada dirinya bahwa dia adalah orang yang buta sebelah matanya. Jika dia menyeru manusia untuk mempertuhankannya itu menunjukkan keadaannya yang paling buruk. Bagi orang yang berakal mengetahui bahwa dia tidak mungkin akan bisa menciptakan selainnya, memperbaiki dan memperbagus serta dia tidak sanggup untuk menghilangkan kekurangan (seperti: matanya yang buta, tulisan kafir di dahinya, dll) yang ada pada dirinya. Maka ucapan yang paling ringan untuk dikatakan adalah: ‘Wahai orang yang menyangka bisa menciptakan langit dan bumi, bentuklah dirimu, perbaguslah dan hilangkan sifat kekurangan pada dirimu. Dan jika kamu menyangka bahwa tidak akan terjadi sesuatu yang baru pada diri Rabb, maka hilangkan apa yang tertulis di antara kedua matamu’.” (Fathul Bari 13/103)

Ibnul ‘Arabi rahimahullahu berkata: “Segala tanda-tanda kebesaran yang terjadi pada tangan Dajjal, dari turunnya hujan serta tanah menjadi subur bagi orang yang memercayainya, dan ketandusan atas orang yang mengingkarinya, dan segala yang bersamanya berupa perbendaharaan bumi, bersamanya surga dan neraka dan air yang mengalir, semuanya merupakan ujian dari Allah Subhanahu wa Ta’ala agar orang-orang yang ragu menjadi binasa dan orang-orang yang bertakwa menjadi selamat. Semuanya merupakan perkara yang sangat menakutkan. Oleh karena itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak ada fitnah yang paling besar dari fitnah Dajjal.” (Fathul Bari 13/103)

Demikianlah beberapa ucapan para ulama bahwa kejadian-kejadian luar biasa pada diri Dajjal adalah perkara yang hakiki, bukan khayalan atau sebuah kamuflase. Dan demikianlah keterangan-keterangan nash yang wajib diimani.


Kiat-Kiat Terhindar dari Fitnah Dajjal

Sebagaimana dalam pembahasan di atas sangat jelas bahwa fitnah Dajjal amat sangat berat dan besar sehingga tidaklah heran jika Dajjal memiliki banyak pengikut. Dan pengikut Dajjal yang terbanyak adalah dari kalangan Yahudi, orang ajam (orang-orang non Arab), bangsa Turki, orang-orang A’rabi (orang Badui yang dikuasai kejahilan), dan kaum wanita. Hal ini telah dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti sabda beliau:

يَتْبَعُ الدَّجَّالَ مِنْ يَهُوْدِ أَصْبَهَانَ سَبْعُوْنَ أَلْفًا عَلَيْهِمُ الطَّيَالِسَةُ

“Yang akan mengikuti Dajjal adalah Yahudi Ashbahan dan 70.000 dari mereka memakai pakaian yang tebal dan bergaris.” (HR. Muslim no. 5237 dari sahabat Anas radhiyallahu ‘anhu)

Dalam riwayat Al-Imam Ahmad rahimahullahu no. 11290 disebutkan: “70.000 dari mereka memakai mahkota.”

Begitu juga dari kaum ‘ajam, telah dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam riwayat Al-Bukhari (no. 3323) dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.

Adapun bangsa Turki disebutkan oleh Ibnu Katsir rahimahullahu: “Yang nampak, wallahu ‘alam, yang dimaksud dengan orang-orang Turki adalah para pembela Dajjal.” (An-Nihayah 1/117)

Tentang keadaan orang-orang Badui sebagai pengikut Dajjal terbanyak disebabkan kejahilan menguasai mereka, sebagaimana dalam riwayat Muslim rahimahullahu dari sahabat Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu.

Adapun kebanyakan pengikut mereka dari kaum wanita karena keadaan mereka lebih jelek dari kaum Badui, karena cepatnya mereka terpengaruh dan mereka dikuasai kejahilan, sebagaimana dalam riwayat Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma yang diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad rahimahullahu dan dishahihkan sanadnya oleh Ahmad Syakir rahimahullahu.

Kalaulah demikian besar fitnahnya dan banyak yang mengikutinya, maka sudah barang tentu kita harus berusaha menyelamatkan diri dari fitnahnya. Dan inilah beberapa kiat untuk menyelamatkan diri dari fitnah-fitnah Dajjal.

Pertama: Berpegang teguh dengan Islam dan bersenjatakan iman serta mengetahui nama-nama Allah Subhanahu wa Ta’ala dan sifat-sifat-Nya yang mulia yang tidak ada seorangpun menyamai-Nya dalam masalah ini. Diketahui bahwa Dajjal adalah manusia biasa yang makan dan minum, dan Maha Suci Allah dari hal itu. Dajjal buta sebelah sementara Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak demikian. Dan tidak ada seorang pun bisa melihat Allah Subhanahu wa Ta’ala sampai mati, sementara Dajjal dilihat ketika keluarnya baik oleh orang-orang kafir atau mukmin.

Kedua: Berlindung dari fitnah Dajjal, terlebih ketika shalat sebagaimana yang banyak diriwayatkan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ketiga: Membaca sepuluh ayat dari surat Al-Kahfi baik awal ataupun akhirnya di hadapan Dajjal, sebagaimana yang telah disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Keempat: Lari dari Dajjal dan mencari tempat perlindungan, seperti kota Makkah dan Madinah. Karena keduanya adalah tempat yang tidak akan dimasuki oleh Dajjal, sebagaimana disebutkan dalam riwayat Al-Imam Ahmad, Abu Dawud, dan Al-Hakim dari sahabat ‘Imran bin Hushain radhiyallahu ‘anhu dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu di dalam kitab Shahih Al-Jami’us Shagir (5/303 no. 6177).

Wallahu alam.


1 Tentu jawabnya bukanlah dia yang dimaksud dalam hadits-hadits Dajjal. Karena banyak sifat dan keadaan Dajjal yang tidak ada padanya. Dan tanda-tanda kiamat yang besar itu datang silih berganti dengan cepat sebagaimana disebutkan dalam sebagian hadits. Dan ini belum terjadi pada zaman ini. (ed)

Amar Ma'ruf Nahi Munkar2

Kedudukan Dakwah, Amar Ma’ruf Nahi Munkar dan Syariat Islam


Empat hal berikut ini adalah urut-urutan strategi nabi SAW ketika menegakkan nilai-nilai Islam di suatu negeri. Adapun definisi dari masing-masing dari empat terminologi diatas adalah sbb :

1. Dakwah adalah mengabarkan, memberitahukan, menjelaskan dan mendidik seseorang tentang hal-hal yang benar dan yang salah sesuai dengan ajaran Islam. Disini tidak ada unsur menyuruh, memaksa atau melarang melakukan sesuatu.

2. Amar Ma’ruf berarti menyerukan kepada kebajikan, yaitu mengajak, menghimbau, memerintahkan, menyuruh atau menuntut dilakukannya segala perbuatan yang baik menurut syariat Islam dan mendekatkan pelakunya kepada Allah SWT

3. Nahi Munkar berarti mencegah perbuatan munkar, yaitu mencegah, melarang, menjauhkan, menentang, mengancam, melawan, menegur atau menyudahi terjadinya segala perbuatan yang buruk menurut syariat Islam dan menjauhkan pelakunya dari Allah SWT.

4. Hukum Islam (nilai-nilai pidana/perdata Syariat Islam) adalah aturan-aturan menyeluruh yang wajib diikuti oleh setiap orang (di suatu negeri)

Empat Manhaj Nabi SAW tersebut dilakukan secara berurut sesuai dengan sejarah syiar Islam sejak nabi diangkat sebagai Rasulullah hingga Islam mulai menyebar ke seluruh dunia. Jadi, urutannya jelas tidak bisa dibolak-balik. Masyarakat harus sadar dulu (melalui dakwah), baru diajak kepada kebaikan (amar makruf), dilarang berbuat buruk (nahi munkar), bila lebih siap maka hukum Islam (syariat Islam) diterapkan perlahan hingga kaffah (menyeluruh). Saat ajaran Islam mulai dikenalkan nabi SAW maka nabi tidak langsung melarang minum minuman keras (khamr) yang sudah menjadi kebiasaan penduduk setempat saat itu. Nabi mulai dengan mengajarkan nilai-nilai tauhid hingga hal-hal baik (ma'ruf) baru kemudian secara bertahap melarang perbuatan-perbuatan maksiat / kemungkaran. Ketika Islam sudah mulai diterima secara politik maka mulailah nabi SAW menerapkan nilai-nilai syariah Islam secara kaffah dalam bentuk aturan-aturan dan hukum yang berlaku bagi seluruh penduduk di wilayah tersebut.

Dakwah, Amar Ma'ruf dan Nahi Munkar wajib dilakukan oleh semua umat Islam dimanapun ia berada. Di negeri dengan mayoritas non-muslim atau negeri sekuler maka kadar & frekwensi dakwah/amar makruf/ nahi munkar harus lebih bijak. Sebagai contoh, wajib bagi kita mengingatkan teman kita, Islam maupun non-muslim, bila kita ketahui mereka berbohong atau mencuri. Contoh lain, di Eropa, umat Islam tetap wajib menolak atau menegur orang setempat bila mereka menghina Rasulullah (kasus kartun nabi), jadi amar makruf nahi munkar wajib dilakukan (tidak saja) pada umat Islam (tapi juga) pada non-muslim dalam koridor melindungi umat Islam yang ada di suatu wilayah. Perbedaannya hanya pada kadar dan bentuk tegurannya / penolakannya. Bentuk penolakan yang paling lemah adalah penolakan dalam hati.

Amar makruf nahi munkar wajib dilakukan semua umat Islam, baik di negeri thogut, negeri sekuler, negeri mayoritas non-muslim, negeri dengan mayoritas muslim, apalagi negeri yang telah menyepakati penerapan syariat Islam sebagai landasan hukum. Perbedaan cara penerapannya tergantung seberapa besar kekuatan umat Islam tersebut di suatu negeri. Bisa saja di negeri non-muslim seseorang muslim memiliki pengaruh atau lobby politik yang kuat untuk menolak suatu kemaksiatan. Nash yang digunakan untuk ini adalah hadits Rasulullah SAW : “Barang siapa diantara kamu melihat suatu kemunkaran maka hendaklah ia merubahnya dengan tangannya, dan jika ia tak mampu maka dengan lisannya, dan jika ia tak mampu juga maka dengan hatinya, dan itulah selemah-lemah iman” (HR Muslim dan Ibn Majah). Kewajiban menjaga dan menegakkan nilai Islam harus dengan ‘tangan’, artinya dengan kekuasaan, pengaruh, atau lobby atau fisik yang kita miliki. Lisan dan hati hanyalah pilihan berikutnya bagi yang lebih lemah imannya (misalnya takut atau tidak memiliki kemampuan yang memadai).

Hukum Islam tidak wajib diterapkan secara total di suatu wilayah bila syariat Islam tidak / belum dijadikan landasan hukum pidana dan perdata. Sebagai contoh, di negeri sekuler semacam Amerika atau Belanda, maka hukuman rajam tidak bisa diterapkan pada keluarga atau kerabat muslim kita yang kedapatan berzina misalnya. Namun menghukum anak kita yang tidak mau sholat atau melarang kerabat kita yang memakan makanan haram tetap menjadi hukum yang harus kita jaga.


Dakwah, Amar Ma'ruf Nahi Munkar dan Syariat Islam di Rumah Kita dan di Indonesia

Upaya persuasif dan penuh kelembutan merupakan strategi dakwah, sedangkan amar makruf nahi munkar bisa dilakukan dengan lembut maupun tegas/ keras, misalnya memaksa (dengan ancaman hukum) anak kita untuk sholat atau melarang (dengan kata-kata keras dan tegas) anak kita supaya berhenti merokok.

Jangan disalahpahami bahwa bila sebagian umat Islam melakukan amar ma’ruf nahi munkar di Indonesia bukan berarti pemaksaan penerapan hukum Islam, melainkan menjaga agar nilai-nilai kebaikan (sebagai bagian dari nilai-nilai syariat Islam) dapat terpelihara.

Amar ma’ruf nahi munkar merupakan kewajiban umat Islam untuk menegakkan dan menjaga nilai-nilai Islam (semampunya) pada dirinya dan lingkungannya (baik muslim atau non-muslim). Amar ma’ruf nahi munkar kepada non-muslim, sekali lagi, bukan berarti memaksakan nilai-nilai hukum Islam pada umat non-muslim. Tapi sebagai contoh, mengajak seorang non-muslim untuk tidak menggunakan narkoba, atau mengajak seorang non-muslim membersihkan parit di pinggir jalan.

Nilai-nilai ajaran Islam yang bersifat umum (misalnya akhlak atau hubungan sosial) merupakan nilai-nilai yang bisa diterapkan pada non-muslim, sedangkan ajaran Islam yang bersifat khusus (misalnya hukum pidana dan perdata Islam) hanya bisa diterapkan pada muslim di negara yang sudah menggunakan syariat Islam sebagai landasan hukum.

Syariat Islam hendaknya tidak dilihat sebagai hukum potong tangan atau rajam, tetapi meliputi cara makan, cara menikah, cara ibadah, cara berperilaku, syarat boleh dan tidaknya melakukan suatu pekerjaan, dan sebagainya. Penerapan syariat Islam secara kaffah (komprehensif) adalah tujuan jangka panjang, sedang dalam jangka pendek harus diterapkan semampunya atau dibatasi hukum lokal yang diterapkan di suatu negeri.
Seorang muslim diwajibkan untuk menegakkan Syariat Islam di negerinya sesuai dengan kemampuannya. Seorang muslim berkebangsaan Amerika, misalnya, bahkan wajib bercita-cita menerapkan syariat Islam di negerinya, namun karena ia tidak mampu maka ia bisa memulainya dari keluarganya sendiri. Ketika ia menjaga cara berpakaiannya maka ia sudah menerapkan sebagian dari syariat Islam.

Insya Allah, tulisan ini bisa melunakkan rasa takut atau rasa khawatir dari sebagian orang yang merasa phobia dengan Islam yang bersumber dari terbatasnya pemahaman terhadap nilai-nilai syariat Islam.


“…Sesungguhnya Allah SWT memiliki para mujahid diatas bumi yang lebih baik daripada para syuhada, mereka hidup mendapat rizqi dan berjalan diatas bumi, Allah membanggakan mereka di hadapan para Malaikat langit, dan Surga pun berhias diri untuk mereka sebagaimana Ummu Salamah berhias untuk (suaminya) Rasulullah….. Mereka adalah orang-orang yang memperjuangkan amar ma’ruf nahi munkar, serta mereka mengasihi karena Allah dan membenci karena Allah” (Sabda Rasulullah SAW)


Sumber : NN

Amar Ma'ruf Nahi Munkar

Ikhlas dan Sabar Dalam Melakukan Amar Ma'ruf Nahi Munkar


Seorang salafus sholihin pernah menasihati anak-anaknya, “Apabila seseorang dari kalian hendak melakukan amar ma’ruf nahi munkar, hendaklah ia memantapkan diri untuk bersabar dan meyakini datangnya pahala (dan perlindungan) dari Allah. Sebab, barang siapa yakin akan pahala (dan perlindungan) dari Allah SWT, maka ia tidak akan pernah khawatir akan timbulnya gangguan atas dirinya”. (dikisahkan dalam buku Ihya Ulumuddin, Imam Ghozali)

Allah memuji orang yang sabar dalam menegakkan amar ma’ruf nahi munkar. Firman Allah SWT :

“Dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa”. (QS Al Baqarah, 177)

Allah menjanjikan kemenangan bagi orang yang bersabar, Firman-Nya :

“Jika kamu bersabar dan bersiap siaga dan mereka datang menyerang kamu dengan seketika itu juga, niscaya Allah menolong kamu dengan lima ribu Malaikat yang memakai tanda. (QS, Ali Imran, 125)

Luruskan niat dan bersabarlah dalam menegakkan amar ma’ruf nahi munkar, bersabarlah dengan segala cobaan dan sikap musuh kita, karena Allah telah memberikan janji-Nya bahwa Ia akan menguatkan kedudukan kita kalau kita ikhlas menegakkan amar ma’ruf nahi munkar. Ini telah dijanjikan Allah dalam firman Allah SWT :

“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu”. (QS, Surat Muhammad ayat 7)

“Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama) -Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa” (QS, Al Hajj, 40)

Hidayah & Kisah Mualaf

Islamnya Napoleon Bonaparte


Siapa yang tidak mengenal Napoleon Bonaparte, seorang Jendral dan Kaisar Prancis yang tenar kelahiran Ajaccio, Corsica 1769. Namanya terdapat dalam urutan ke-34 dari Seratus Tokoh yang paling berpengaruh dalam sejarah yang ditulis oleh Michael H. Hart.

Sebagai seorang yang berkuasa dan berdaulat penuh terhadap negara Prancis sejak Agustus 1793, seharusnya ia merasa puas dengan segala apa yang telah diperolehnya itu.

Tapi rupanya kemegahan dunia belum bisa memuaskan batinnya, agama yang dianutnya waktu itu ternyata tidak bisa membuat Napoleon Bonaparte merasa tenang dan damai.

Akhirnya pada tanggal 02 Juli 1798, 23 tahun sebelum kematiannya ditahun 1821, Napoleon Bonaparte menyatakan ke-Islamannya dihadapan dunia Internasional.

Apa yang membuat Napoleon ini lebih memilih Islam daripada agama lamanya, Kristen ?

Berikut penuturannya sendiri yang pernah dimuat dimajalah Genuine Islam, edisi Oktober 1936 terbitan Singapura.

"I read the Bible; Moses was an able man, the Jews are villains, cowardly and cruel. Is there anything more horrible than the story of Lot and his daughters ?"

"The science which proves to us that the earth is not the centre of the celestial movements has struck a great blow at religion. Joshua stops the sun ! One shall see the stars falling into the sea... I say that of all the suns and planets,..."

"Saya membaca Bible; Musa adalah orang yang cakap, sedang orang Yahudi adalah bangsat, pengecut dan jahat. Adakah sesuatu yang lebih dahsyat daripada kisah Lut beserta kedua puterinya ?" (Lihat Kejadian 19:30-38)

"Sains telah menunjukkan bukti kepada kita, bahwa bumi bukanlah pusat tata surya, dan ini merupakan pukulan hebat terhadap agama Kristen. Yosua menghentikan matahari (Yosua 10: 12-13). Orang akan melihat bintang-bintang berjatuhan kedalam laut.... saya katakan, semua matahari dan planet-planet ...."

Selanjutnya Napoleon Bonaparte berkata :
"Religions are always based on miracles, on such things than nobody listens to like Trinity. Yesus called himself the son of God and he was a descendant of David. I prefer the religion of Muhammad. It has less ridiculous things than ours; the turks also call us idolaters."


"Agama-agama itu selalu didasarkan pada hal-hal yang ajaib, seperti halnya Trinitas yang sulit dipahami. Yesus memanggil dirinya sebagai anak Tuhan, padahal ia keturunan Daud. Saya lebih meyakini agama yang dibawa oleh Muhammad. Islam terhindar jauh dari kelucuan-kelucuan ritual seperti yang terdapat didalam agama kita (Kristen); Bangsa Turki juga menyebut kita sebagai orang-orang penyembah berhala dan dewa."

Selanjutnya :
"Surely, I have told you on different occations and I have intimated to you by various discourses that I am a Unitarian Musselman and I glorify the prophet Muhammad and that I love the Musselmans."


"Dengan penuh kepastian saya telah mengatakan kepada anda semua pada kesempatan yang berbeda, dan saya harus memperjelas lagi kepada anda disetiap ceramah, bahwa saya adalah seorang Muslim, dan saya memuliakan nabi Muhammad serta mencintai orang-orang Islam."

Akhirnya ia berkata :
"In the name of God the Merciful, the Compassionate. There is no god but God, He has no son and He reigns without a partner."


"Dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Tiada Tuhan selain Allah. Ia tidak beranak dan Ia mengatur segala makhlukNya tanpa pendamping."

Napoleon Bonaparte mengagumi AlQuran setelah membandingkan dengan kitab sucinya, Alkitab (Injil). Akhirnya ia menemukan keunggulan-keunggulan Al-Quran daripada Alkitab (Injil), juga semua cerita yang melatar belakanginya.


Referensi :
1. Memoirs of Napoleon Bonaparte by Louis Antoine Fauvelet de Bourrienne edited by R.W. Phipps. Vol. 1 (New York: Charles Scribner's Sons, 1889) p. 168-169.
http://chnm.gmu.edu/revolution/d/612/
2. 'Napoleon And Islam' by C. Cherfils. ISBN: 967-61-0898-7
http://www.shef.ac.uk/~ics/whatis/articles/napoleon.htm
3. Satanic Voices - Ancient and Modern by David M. Pidcock, (1992 ISBN: 1-81012-03-1), it states on page 61, that the then official French Newspaper, Le Moniteur, carried the accounts of his conversion to Islam, in 1798 C.E

Memahami Jihad

Kisah Semangat Jihad Anak-anak Pada Zaman Rasulullah SAW


Percakapan dan perbualan para sahabat Rasulullah (saw) mengenai jihad sedemikian rupa, sehingga hal itu sangat berpengaruh kepada cita2 dan semangat juang anak2 mereka. Jika hari ini anak2 kita berbincang hal2 kosong tentang tokoh2 fiktif yang tidak ada kaitannya dengan aqidah mereka, maka perbincangnan diantara anak2 para sahabat adalah keberanian dan tanggung jawab orangtua2 mereka dalam meninggikan kalimah Allah (swt).

Sedemikian rupa keadaan mereka, sehingga setiap dari mereka ingin segera terlibat bersama orang2 dewasa dalam memperjuangkan agama mereka. Meskipun mereka belum lagi mencapai usia baligh, akan tetapi sepak terjang mereka yang heroik telah menjadi kisah2 abadi yang menjadi teladan bagi orang2 di belakang hari. Bukan saja terhadap anak2 kita, akan tetapi juga menjadi teladan bagi orang2 dewasa, bagaimana seharusnya kita bersikap dalam memperjuangkan agama ini.

Sedemikian rupa keadaannya, maka hampir menjadi kebiasaan Rasulullah (saw) untuk meminta kepada mereka yang siap keluar jihad, untuk berparade dalam suatu barisan. Hal itu selain sesuai dengan kehendak Allah (swt) [1], juga agar Rasulullah (saw) dapat memastikan bahwa tidak ada anak2 di bawah umur yang turut serta bersama mereka.

Demikian pula halnya pada hari2 menjelang perang Uhud. Nabi (saw) terpaksa meredam semangat jihad anak2 dengan cara mengembalikan mereka ke rumah2 orangtua mereka masing2. Diantara mereka adalah Abdullah bin Umar (ra), Zaid bin Tsabit (ra), Usamah bin Zaid (ra), Zaid bin Arqam (ra), Barra bin Azib (ra), Amr bin Hizam (ra), Usaid bin Zhuhair (ra), Urabah bin Aus (ra), Abu Sa'id al Khudri (ra), Samurah bin Jundub (ra) dan Rafi' bin Khadij (ra).

Tentu saja, anak2 tersebut merasa sangat kecewa. Dan melihat kekecewaan anaknya, maka Khadij (ra) berusaha untuk membela anaknya agar dia tetap dapat pergi ke medan perang. Khadij (ra) berkata, "Rafi' anak saya ini pandai memanah." Dan seiring dengan pembelaan ayahnya tersebut, dengan semangat baja, Rafi' menjijitkan kakinya agar terlihat lebih tinggi. Dan selanjutnya Rasulullah (saw) mengizinkan Rafi' bin Khadij (ra) ikut berperang.

Melihat keberhasilan Rafi' (ra), maka Samurah bin Jundub (ra) merayu ayah tirinya, Murrah bin Sinan (ra), "Ayah, Rafi' diperbolehkan ikut berperang, sedangkan saya tidak, padahal saya lebih kuat daripadanya. Jika adu tanding, pasti saya dapat mengalahkannya."

Rasulullah (saw) memperkenankan usulannya, sehingga keduanya ditandingkan di hadapan beliau. Ternyata Samurah bin Jundub (ra) dapat mengalahkan Rafi' bin Khadij (ra). Kemudian Samurah diizinkan beliau untuk ikut berperang.

Pertandingan itu benar2 membangkitkan semangat anak2 yang lain, sehingga banyak diantara mereka yang kembali mengajukan permohonan kepada Nabi (saw) agar mereka diijinkan untuk ikut berperang. Bagaimanapun akhirnya Nabi (saw) hanya membenarkan beberapa anak saja yang dapat menyertai peperangan ini. Subhanallah.


Catatan kaki:
[1] "Sesungguhnya Allah menyukai orang2 yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur se-akan2 mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh." (Qs ash Shaff 61:4).

Disarikan dari Subhan Ibn Abdullah, Pattaya, 15/04/2005

Rabu, Oktober 29, 2008

Untuk yang gak mau pulang ada surat nih....

Surat dari Ibu

Anakku…

Ini surat dari ibu yang tersayat hatinya. Linangan air mata bertetesan deras menyertai tersusunnya tulisan ini. Aku lihat engkau lelaki yang gagah lagi matang. Bacalah surat ini. Dan kau boleh merobek-robeknya setelah itu, seperti saat engkau meremukkan kalbuku sebelumnya.

Sejak dokter mengabari tentang kehamilan, aku berbahagia. Ibu-ibu sangat memahami makna ini dengan baik. Awal kegembiraan dan sekaligus perubahan psikis dan fisik. Sembilan bulan aku mengandungmu. Seluruh aktivitas aku jalani dengan susah payah karena kandunganku. Meski begitu, tidak mengurangi kebahagiaanku. Kesengsaraan yang tiada hentinya, bahkan kematian kulihat didepan mataku saat aku melahirkanmu. Jeritan tangismu meneteskan air mata kegembiraan kami.

Berikutnya, aku layaknya pelayan yang tidak pernah istirahat. Kepenatanku demi kesehatanmu. Kegelisahanku demi kebaikanmu. Harapanku hanya ingin melihat senyum sehatmu dan permintaanmu kepada Ibu untuk membuatkan sesuatu.

Masa remaja pun engkau masuki. Kejantananmu semakin terlihat, Aku pun berikhtiar untuk mencarikan gadis yang akan mendampingi hidupmu. Kemudian tibalah saat engkau menikah. Hatiku sedih atas kepergianmu, namun aku tetap bahagia lantaran engkau menempuh hidup baru.

Seiring perjalanan waktu, aku merasa engkau bukan anakku yang dulu. Hak diriku telah terlupakan. Sudah sekian lama aku tidak bersua, meski melalui telepon. Ibu tidak menuntut macam-macam. Sebulan sekali, jadikanlah ibumu ini sebagai persinggahan, meski hanya beberapa menit saja untuk melihat anakku.

Ibu sekarang sudah sangat lemah. Punggung sudah membungkuk, gemetar sering melecut tubuh dan berbagai penyakit tak bosan-bosan singgah kepadaku. Ibu semakin susah melakukan gerakan.

Anakku…

Seandainya ada yang berbuat baik kepadamu, niscaya Ibu akan berterima kasih kepadanya. Sementara Ibu telah sekian lama berbuat baik kepada dirimu. Manakah balasan dan terima kasihmu pada Ibu ? Apakah engkau sudah kehabisan rasa kasihmu pada Ibu? Ibu bertanya-tanya, dosa apa yang menyebabkan dirimu enggan melihat dan mengunjungi Ibu ? Baiklah, anggap Ibu sebagai pembantu, mana upah Ibu selama ini ?

Anakku...

Ibu hanya ingin melihatmu saja. Lain tidak. Kapan hatimu memelas dan luluh untuk wanita tua yang sudah lemah ini dan dirundung kerinduan, sekaligus duka dan kesedihan ? Ibu tidak tega untuk mengadukan kondisi ini kepada Dzat yang di atas sana. Ibu juga tidak akan menularkan kepedihan ini kepada orang lain. Sebab, ini akan menyeretmu kepada kedurhakaan. Musibah dan hukuman pun akan menimpamu di dunia ini sebelum di akhirat. Ibu tidak akan sampai hati melakukannya,

Anakku…

Walaupun bagaimanapun engkau masih buah hatiku, bunga kehidupan dan cahaya diriku…

Anakku…

Perjalanan tahun akan menumbuhkan uban di kepalamu. Dan balasan berasal dari jenis amalan yang dikerjakan. Ibu harapkan nantinya, engkau akan menulis surat kepada keturunanmu tidak dengan linangan air mata seperti yang Ibu alami.

Selasa, Oktober 28, 2008

“Agama dapat menjadi petunjuk yang berhasil untuk pencarian ilmu pengetahuan. Dan agama Islam dapat mencapai sukses dalam hal ini. Tidak ada pertentangan antara ilmu genetika dan agama. Kenyataan di dalam al-Quran yang ditunjuk­kan oleh ilmu pengetahuan menjadi valid. AI-Quran yang berasal dari Allah mendukung ilmu pengetahuan.



- Prof. Dr. Joe Leigh Simpson

Ketua Jurusan Ilmu Kebidanan dan Ginekologi dan

Prof. Molecular dan Genetika Manusia,

Baylor College Medicine, Houston,

Amerika Serikat.





"Nabi Muhammad SAW sebagai buku ilmu pengetahuan dari Allah. "



- Prof. Marshall Johnson

Guru Besar ilmu Anatomi dan Perkembangan Biologi,

Universitas Thomas Jefferson,

Philadelphia, Pennsylvania,

Amerika Serikat.



“AI-Quran adalah sebuah kitab, petunjuk, kebenaran, bukti,” dan kebenaran yang abadi bagi kita sampai akhir zaman. "



- Prof. TVN Persaud

Ahli anatomi, ahli kesehatan anak-anak,
dan ahli ginekologi kebidanan dan ilmu reproduksi
di Universitas Manitoba, Winnipeg, Menitoba,

Kanada.



"Semua yang tertulis di dalam al-Quran pasti sebuah kebenaran, yang dapat dibuktikan dengan peralatan ilmiah. "



- Prof. Tejatat Tejasen

Ketua Jurusan Anatomi Universitas Thailand,

Chiang Mai



"...metode ilmiah modern sekarang membuktikan apa yang telah dikatakan Muhammad 1400 tahun yang lalu. AI-Quran adalah buku teks ilmu pengetahuan yang simpel dan sederhana untuk orang yang sederhana. "



- Prof. Alfred Kroner

Ketua Jurusan Geologi Institut Geosciences,

Universitas Johannnes Gutterburg, Maintz,

Jerman.



“AI-Quran adalah kitab yang menakjubkan yang menggambarkan masa lalu, sekarang, dan masa depan. "



- Prof. Palmer

Ahli Geologi ternama
Amerika Serikat.



"llmuwan itu sebenarnya hanya menegaskan apa yang telah tertulis di dalam al-Quran beberapa tahun yang lalu. Para ilmuwan sekarang hanya menemukan apa yang telah tersebut di dalam al-Quran sejak 1400 tahun yang lalu."



- Prof. Shroeder

Ilmuwan kelautan dari

Jerman



"Dengan membaca al-Quran, saya dapat menemukan jalan masa depan saya untuk investigasi alam semesta,"



- Prof. Yoshihide Kozai

Guru Besar Universitas Tokyo dan

Direktur The National Astronomical Observatory, Mikata, Tokyo,

Jepang






“Agama dapat menjadi petunjuk yang berhasil untuk pencarian ilmu pengetahuan. Dan agama Islam dapat mencapai sukses dalam hal ini. Tidak ada pertentangan antara ilmu genetika dan agama. Kenyataan di dalam al-Quran yang ditunjuk­kan oleh ilmu pengetahuan menjadi valid. AI-Quran yang berasal dari Allah mendukung ilmu pengetahuan.



- Prof. Dr. Joe Leigh Simpson

Ketua Jurusan Ilmu Kebidanan dan Ginekologi dan

Prof. Molecular dan Genetika Manusia,

Baylor College Medicine, Houston,

Amerika Serikat.





"Nabi Muhammad SAW sebagai buku ilmu pengetahuan dari Allah. "



- Prof. Marshall Johnson

Guru Besar ilmu Anatomi dan Perkembangan Biologi,

Universitas Thomas Jefferson,

Philadelphia, Pennsylvania,

Amerika Serikat.



“AI-Quran adalah sebuah kitab, petunjuk, kebenaran, bukti,” dan kebenaran yang abadi bagi kita sampai akhir zaman. "



- Prof. TVN Persaud

Ahli anatomi, ahli kesehatan anak-anak,
dan ahli ginekologi kebidanan dan ilmu reproduksi
di Universitas Manitoba, Winnipeg, Menitoba,

Kanada.



"Semua yang tertulis di dalam al-Quran pasti sebuah kebenaran, yang dapat dibuktikan dengan peralatan ilmiah. "



- Prof. Tejatat Tejasen

Ketua Jurusan Anatomi Universitas Thailand,

Chiang Mai



"...metode ilmiah modern sekarang membuktikan apa yang telah dikatakan Muhammad 1400 tahun yang lalu. AI-Quran adalah buku teks ilmu pengetahuan yang simpel dan sederhana untuk orang yang sederhana. "



- Prof. Alfred Kroner

Ketua Jurusan Geologi Institut Geosciences,

Universitas Johannnes Gutterburg, Maintz,

Jerman.



“AI-Quran adalah kitab yang menakjubkan yang menggambarkan masa lalu, sekarang, dan masa depan. "



- Prof. Palmer

Ahli Geologi ternama
Amerika Serikat.



"llmuwan itu sebenarnya hanya menegaskan apa yang telah tertulis di dalam al-Quran beberapa tahun yang lalu. Para ilmuwan sekarang hanya menemukan apa yang telah tersebut di dalam al-Quran sejak 1400 tahun yang lalu."



- Prof. Shroeder

Ilmuwan kelautan dari

Jerman



"Dengan membaca al-Quran, saya dapat menemukan jalan masa depan saya untuk investigasi alam semesta,"



- Prof. Yoshihide Kozai

Guru Besar Universitas Tokyo dan

Direktur The National Astronomical Observatory, Mikata, Tokyo,

Jepang
Islam Peradaban Malik Bennabi

Kajian Siyasah/Khilafah Oleh : Redaksi 29 Jan 2004 - 6:00 pm


Malik Bennabi (1905-1973) dikenal sebagai sarjana Muslim kontemporer yang menekuni bidang filsafat sosial. Dia lahir di Tebessa, AlJazair. Menghabiskan masa hidupnya di antara Prancis, Kairo, dan Aljazair. Karya-karya Malik Bennabi mencapai 18 buku, ditulis dalam bahasa Prancis dan Arab dan semua karya beliau dalam bahasa Prancis telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab.

Di antara karya-karya terpenting beliau adalah al-Zahirah al-Qur'aniyyah (Fenomena al-Quran), 1961, Wijhah al-Alam al-Islami (Masa Depan Dunia Islam), 1959, Fikrah al-Ifriqiyyah al-Asiawiyyah (Pemikiran Asia Afrika), 1956, Musykilah al-Thaqafah (Problem Budaya), 1959, Syurut al-Nahdah (Syarat-syarat Kebangkitan), 1960, Milad Mujtama' (Kelahiran Masyarakat), 1962, Mudhakkirat Syahid li al-Qarn (Catatan Harian Seorang Saksi Sebuah Zaman), 1966, Musykilat al-Afkar (Problem Pemikiran), 1970, Fikrah Komonweth al-Islami (Pemikiran Persemakmuran Islam), 1971, dan al-Muslim fi Alam al-Iqtisad (Muslim dalam Dunia Ekonomi), 1972.
Manusia sebagai homo religiosus

Menurut Malik Bennabi fenomena beragama adalah fenomena universal yang selalu wujud, ia sudah wujud lama, sebagai karakteristik kehidupan manusia, dari manusia yang sangat primitif hingga manusia yang sudah memiliki peradaban yang tinggi.

Menurutnya, "setiap kali seseorang menyusup jauh ke dalam sejarah purbakala dan sejarah manusia, baik pada zaman kejayaan kebudayaannya, maupun pada tingkat-tingkat yang masih primitif evolusi sosialnya, dia akan mendapati peninggalan di dalamnya yang menunjuk kepada adanya ide mengenai keagamaan."

"Bagaimana pun bentuk upacara-upacara keagamaan itu, namun ternyata bahwa struktur bangunan, dari gua-gua tempat peribadatan pada zaman batu hingga pada zaman bangunan tempat-tempat peribadatan yang mega-megah, berjalan berdampingan dengan ide keagamaan yang menciptakan peraturan hidup dan yang melahirkan kebudayaan-kebudayaan manusia.

" "Di bawah naungan rumah-rumah peribadatan seperti rumah peribadatan Sulaiman atau Ka'bah munculah kebudayaan-kebudayaan itu untuk penyinaran alam kita ini." Kesimpulan Malik Bennabi senada dengan apa yang pernah diungkapkan oleh Plutarch (46-120 AD), seorang ahli filsafat dan etika Yunani, ketika mengatakan: "Kita dapat menjumpai kota-kota tanpa dinding, tanpa raja, tanpa peradaban, tanpa literatur, atau tanpa gedung theatre, tapi seseorang tidak pernah menjumpai sebuah kota tanpa tempat-tempat peribadatan atau penganut-penganut agama.

" Atau seperti juga apa yang dikatakan ahli filsafat Henri Bergson (1859-1941) bahwa: "kita jumpai di masa lampau dan sekarang masyarakat tanpa sains, tanpa seni, dan tanpa filsafat. Tapi kita tidak pernah menjumpai sebuah masyarakat tanpa agama." Menurut Malik Bennabi, totemisme, mitos, dan kepercayaan pada dewa-dewa tidak lain hanya merupakan pemecahan yang diilhami oleh problem, yang selalu sama, yang menghinggapi hati nurani manusia; setiap kali dia mendapati dirinya ditarik oleh teka-teki tentang segala sesuatu, serta tujuan terakhirnya.

Dengan mengakui ekspresi-ekspresi keagamaan yang berbeda-beda tersebut (seperti totemisme, politheisme, dan monotheisme), Malik Bennabi ingin membangun fenomena agama yang bersifat perenial sebagai karakteristik alami manusia, yang oleh karenanya manusia digambarkan sebagai homo religiosus (hewan beragama). Yang oleh karena itu, agama tidak hanya sebagai aktivitas spiritual dan mental psikik manusia.

Tetapi merupakan sebagai satu kecenderungan fundamental manusia dan fakta kosmik yang jauh berakar pada struktur alam. Ia tidak dapat direduksi kepada hanya sebagai satu kategori budaya yang didapati manusia sepanjang sejarah atau hanya sebagai keperluan manusia dalam fase primitif perkembangan sosiobudaya manusia seperti yang dikonsepsikan oleh Auguste Comte.

Tetapi sebagai fitrah universal yang tidak pernah luput dalam sejarah suatu bangsa baik dahulu maupun hari ini dan yang akan datang sekaligus merupakan "katalisator" setiap peradaban manusia.
Agama sebagai katalisator peradaban

Malik Bennabi merumuskan tiga faktor utama yang menentukan pembentukan sesuatu peradaban, yaitu; manusia, tanah, dan masa. Manusia adalah faktor yang paling penting; sebagai pencipta dan penggerak sejarah. Manusia memiliki dua jenis identitas; pertama, identitas yang tetap dan tidak dapat dipengaruhi oleh sejarah, yaitu kriteria-kriteria anatomi dan fisiologi yang membentuk wujud luaran manusia, dan; kedua, yang dapat berubah dan dapat dipengaruhi oleh sejarah, yaitu kewujudan manusia secara sosial yang merupakan keadaan mental dan psikologi manusia yang ditangkap oleh struktur sejarah dan warisan sosial.

Manusia sepanjang perjalanan sejarah berinteraksi dengan masa dan ruang tidak dalam kedudukannya sebagai ciptaan alami, melainkan sebagai kepribadian-kepribadian sosial. Tanah (turab), sebagai faktor kedua, adalah sumber alam yang lebih berkaitan dengan konsep-konsep sosial. Istilah tanah (turab) digunakan untuk menjauhi istilah materi (madah), karena perkataan 'materi' dalam akhlak berarti suatu konsep yang berlawanan dengan perkataan 'roh', dalam sains ia bermaksud lawan dari perkataan 'energi' dan dalam filsafat perkataan 'materi' memberi maksud yang berlainan dengan 'ide'.

Masa adalah faktor ketiga dalam proses pembentukan peradaban. Yang dimaksudkan dengan masa adalah nilainya dalam kehidupan manusia dan hubungannya dengan sejarah, kebangkitan ilmu, produktivitas, dan pencapaian peradaban. Akan tetapi menurut Malik Bennabi, wujudnya ketiga-tiga faktor tersebut tidak dapat secara pasti dan secara otomatis dapat melahirkan suatu peradaban. Sebuah teka-teki yang dapat dijawab oleh ilmu kimia.

Air pada dasarnya adalah hasil dari hidrogen dan oksigen. Meskipun demikian kewujudan kedua-dua unsur ini tidak menjamin secara langsung terciptanya air. Menurut para ahli kimia, proses pembentukan air turut dipengaruhi oleh faktor lain yang berupa katalisator yang dapat mempercepat proses penyusunan dua unsur hidrogen dan oksigen yang seterusnya menyebabkan terciptanya air.

Demikian juga, menurut Malik Bennabi, dengan proses pembentukan peradaban, walaupun sudah tersedia tiga faktor utama; manusia, tanah, dan masa, masih diperlukan faktor lain sebagai katalisator yang dapat mengolah dan menyusun ketiga-tiga unsur tersebut dan menjadikannya suatu peradaban. Katalisator yang dimaksud dalam konteks ini menurut Malik Bennabi adalah agama. Agama atau "pemikiran agama inilah yang selalu wujud di balik kelahiran suatu peradaban dalam sejarah.

" Agama menurut Malik Bennabi adalah katalisator (catalyseur) yang menjadikan manusia, tanah, dan masa sebagai suatu kekuatan dalam sejarah dan yang menyebabkan kelahiran suatu peradaban. Dalam pandangan Malik Bennabi tidak hanya peradaban-peradaban besar dunia seperti peradaban Islam, peradaban Kristen Eropa dan peradaban Buddha Cina, tetapi bahkan "peradaban komunis" yang anti-agama adalah juga lahir dari pemikiran agama.

Malik Bennabi memandang komunisme dari dua aspek; aspek sejarah dan aspek psikologi yang berhubung-kait dengan keyakinan. Dilihat dari aspek sejarah, komunisme atau marxisme adalah 'krisis' internal peradaban Kristen, yaitu ketika agama itu tidak lagi memiliki nilai-nilai gaib, seperti kata Gonzague de Reynol bahwa peradaban Rusia adalah peradaban Kristen Ortodok yang 'tersalah tembak', atau seperti ungkapan Toynbee bahwa komunisme adalah satu halaman buku Kristen yang terkoyak dan tersalah baca.

Dari aspek psikologi, komunisme atau marxisme adalah sebagai pemikiran keagamaan yang berhubungan dengan keyakinan para penyokong dan pengikutnya terahadap ide-ide dan doktrin-doktrin yang dicipta oleh Karl Marx, sebagai ajaran yang memiliki tulisan-tulisan yang disucikan, memiliki surga dan neraka, keselamatan dan kecelakaan, dan sebagai sebuah agama tanpa Tuhan.

Masyarakat pasca-peradaban Malik Bennabi menamakan masyarakat Islam setelah keruntuhan dinasti Muwahhidun (1121-1269 M) sebagai masyarakat "pasca-peradaban", yang berbeda dengan mayarakat "pra-peradaban". Masyarakat pra-peradaban, adalah masyarakat yang di luar peradaban, tapi mereka adalah manusia yang masih fitrah dan alam (L'homonatuna) yang selalu bersedia untuk memasuki peradaban, seperti masyarakat badui jahiliah sebelum kedatangan risalah Islam.

Sementara masyarakat pasca-peradaban merupakan masyarakat yang telah melepasi fase peradaban yang bukan hanya sebagai masyarakat yang tidak bergerak dari tempatnya, tetapi sebagai masyarakat yang mundur atau berjalan ke belakang, setelah menyeleweng jauh dan putus dari peradabanya. Mereka tidak hanya sebagai manusia yang di luar peradaban, tetapi juga sebagai masyarakat yang terkeluar dari peradaban yang tidak mampu lagi menghasilkan karya-karya peradaban (oeuvre civilisatrice).

Masyarakat yang "alam figurnya" tidak lagi seperti modelnya yang asal, "alam idenya" bisu dan mati, sementara "alam bendanya" berkuasa atas akal dan kesadaran. Masyarakat yang sudah kronis dan memiliki semua syarat yang menjadikan mereka layak untuk dijajah (al-qabiliyah li isti'mar).
Reformasi dan modernisme

Menurut Malik Bennabi, masyarakat Islam yang berada dalam "pasca-peradaban" sejak kejatuhan Muwahhidun, telah menyaksikan gerakan-gerakan ke arah kebangkitan sejak sekitar tahun 1858 bersamaan dengan kemunculan gerakan reformasi oleh tokoh-tokoh seperti Jamaluddin al-Afghani (1849-1897) dan Muhammad Abduh (1849-1905) dan gerakan modernisme yang dibawa oleh para sarjana yang berpendidikan Barat.

Hanya saja dalam pandangan Malik Bennabi, baik gerakan reformasi maupun gerakan modernisme belum dapat memberikan jawaban dan penyelesaian terhadap persoalan-persoalan sesungguhnya dunia Islam. Dalam pengamatan Malik Bennabi, kelemahan al-Afghani adalah karena beliau hanya memfokuskan pada pembaruan politik dunia Islam; dalam bentuk pan-Islam dan pembaruan sistem undang-undang, dan bukan pada pembaruan diri manusia yang telah dibentuk oleh fase pasca-Muwahhidun.

Sementara itu kelemahan Muhammad Abduh adalah karena beliau lebih banyak memfokuskan pada pembaruan ilmu kalam (teologi), yang menurut Malik Bennabi bukan sebagai permasalahan sebenarnya masyarakat Islam. Orang Islam termasuk orang Islam pasca-Muwahhidun tidak memiliki permasalahan dalam akidah, mereka tetap sebagai orang yang beriman dan beragama, akan tetapi yang menjadi permasalahan adalah bahwa akidah mereka tidak berpotensi dan tidak memberikan fungsi sosial.

Demikian juga dengan gerakan modernisme, menurut Malik Bennabi gerakan ini tidak memiliki tujuan dan metode yang jelas dan yang akhirnya hanya membawa masyarakat Islam kepada sikap suka mengumpul karya-karya peradaban Barat, dan menjadikan mereka sebagai pelanggan setia perabadaban yang asing bagi diri mereka sendiri.

Apapun kelemahan-kelemahan gerakan reformasi dan modernisme, Malik Bennabi tetap mengakui bahwa yang pasti gerakan-gerakan tersebut telah berhasil memberikan kesadaran umum tentang kelemahan diri masyarakat Islam. Ia menilainya sebagai kecenderungan sejarah yang positif yang diakibatkan oleh kekuatan internal yang wujud sebagai tindak balasan terhadap penjajahan dan fenomena "kelayakan dijajah.
" Islam peradaban

Ketika merumuskan konsepnya bahwa semua agama dapat berperanan sebagai katalisator unsur-unsur penting peradaban; manusia, tanah dan masa, pada dasarnya Malik Bennabi bertujuan untuk membuktikan bahwa Islam sebagai agama pada asasnya mampu dan dapat memainkan peranan yang lebih baik sebagai katalisator pembentukan dan pembangunan peradaban, dibandingkan dengan agama-agama ataupun ideologi-ideologi yang lain, baik di dalam sejarah masa lalu, masa sekarang, ataupun di masa yang akan datang.

Melihat peranan Islam sebagai katalisator, menurut Malik Bennabi, adalah berarti melihat peranannya dalam perspektif sosial. Yaitu sebagai katalisator yang dapat membentuk nilai-nilai yang bertindak mengubah 'manusia individu' ke dalam satu kesatuan dalam masyarakat, menjadikan 'masa' yang pada asalnya hanya merupakan jumlah jam yang bergerak sebagai masa yang berdimensi sosial yang dihitung dengan kualitas kerja, dan yang menjadikan 'tanah' yang hanya tampak sebagai keperluan yang sederhana sebagai medan yang luas yang dapat dikuasai dan digunakan sepenuhnya untuk memenuhi keperluan-keperluan kehidupan masyarakat banyak.

Peranan Islam sebagai katalisator nilai-nilai sosial hanya dapat terjadi apabila agama menjadi fenomena masyarakat banyak dan bukan sebagai fenomena individu. Ketika Islam menciptakan jaringan roh yang menghubungkan antara individu dengan keimanan terhadap Allah SWT, pada masa yang sama ia juga mengharuskan terciptanya jaringan perhubungan di antara individu-individu dalam masyarakat tersebut. Hal ini membuka peluang bagi mereka untuk memainkan peranan dunia dan melaksanakan aktivitas-aktivitas bersama. Islam mengikat cita-cita langit dengan tuntutan-tuntutan bumi.

Oleh karena itu ketika "perhubungan keagamaan" lemah jumlah "perhubungan kemasyarakatan" menjadi berkurang, dan karenanya kevakuman sosial (social vacuum) di antara individu-individu dalam masyarakat tersebut bertambah luas. Sebaliknya ketika perhubungan keagamaan kuat maka perhubungan kemasyarakatannya juga menjadi meningkat, dan karenanya kevakuman sosial berkurang. Islam peradaban adalah perspektif Islam yang memandang bahwa keefektifan suatu pemikiran dan ajaran agama adalah dalam kerangka sosial, perubahan, pembentukan peribadi-peribadi, dan apa yang dapat dihasilkannya dalam sejarah.

Yaitu Islam yang tidak memperpanjang perdebatan khilafiah dalam fikih. Yaitu Islam yang tidak pula menghabiskan energi dan masa hanya untuk membuktikan kebenaran dirinya. Yaitu Islam yang praktikal dan yang lebih menekankan pengamalan dimensi-dimensi sosialnya. Landasan filsafat Islam peradaban adalah bahwa; (i) ajaran Islam adalah ajaran yang otentik dan benar yang tidak perlu banyak untuk dibuktikan kebenarannya secara teoretis tetapi dengan mengamalkannya dalam kehidupan dan memperlihatkan kedinamikannya dalam kehidupan praktis; dan (ii) bahwa keimanan harus berdimensi sosial, karena ketika ia hanya sebagai fenomena peribadi risalahnya akan putus ditelan bumi dan menjadi keimanan para rahib, yang memutuskan hubungan dengan masyarakat dan melepaskan diri dari kewajiban-kewajiban sosial.

Bagi Malik Bennabi, mengapa kita tidak profesional, tidak produktif, tidak progresif, tidak aktif, dan tidak berdisiplin dalam menaati kebersihan dan peraturan, tidak seperti orang Barat? Teka-teki yang pernah dirasakan oleh Muhammad Abduh ketika mengatakan bahwa Islam wujud di Barat dan tidak hadir dalam masyarakat Islam sendiri. Jawabannya adalah karena kita melupakan dimensi-dimensi sosial agama kita yang dapat menciptakan kedinamisan kebudayaan kita. Kebudayaan merupakan inti dari peradaban, maju dan mundurnya peradaban adalah terletak pada dinamik dan tidaknya suatu kebudayaan.

Menurut Malik Bennabi, agama Islam, dapat menciptakan kedinamisan kebudayaan ketika berperanan sebagai prinsip moral dan sebagai katalisator unsur-unsur penting kebudayaan. Sebagai prinsip moral, Islam menggariskan baik dan buruk, apa yang boleh dan apa yang tidak boleh dilakukan, ia membantu menciptakan sistem-sistem nilai sosial yang padu dan utuh. Ganjaran-ganjaran dan sanksi-sanksi sosial yang terdapat dalam kerangka acuan yang bersifat suci mempunyai kekuatan memaksa yang istimewa, kerana ia tidak hanya menyangkut ganjaran-ganjaran dan hukuman-hukuman yang bersifat duniawi dan manusiawi, tetapi juga ganjaran-ganjaran dan hukuman-hukuman yang bersifat supra-manusiawi dan ukhrawi.

Selain sebagai prinsip moral, Islam juga berperanan sebagai katalisator unsur-unsur kebudayaan; estetika, logika kerja, dan teknologi. Estetika atau cita rasa keindahan memainkan peranan penting di dalam kebudayaan dengan segala isinya, bahkan ia adalah kerangka di mana suatu peradaban terbentuk. Ia memberikan ciri-ciri khas terhadap jaringan-jaringan dalam masyarakat dan yang menambahkan gambaran yang sesuai dengan perasaan dan cita rasa umum daripada aspek warna dan bentuk.

Semua agama terutama Islam mengajarkan pentingnya aspek estetika dalam kehidupan manusia baik sebagai individu maupun masyarakat. Standar kebudayaan Barat adalah lebih kepada standar estetika sementara dalam masyarakat Islam adalah standar moral. Ini tidak berarti kebudayaan Islam tidak memiliki unsur estetika akan tetapi ia meletakkan unsur estetika di bawah prinsip moral dalam susunan nilai. Kebudayaan dalam peradaban Barat yang lebih mengutamakan aspek estetika daripada moral dalam susunan nilai, telah mengakibatkan kebudayaan tersebut terpisah dari kebudayaan kemanusiaan, merusakkan metode dalam sistem nilai, dan membawa kepada penghalalan segala cara, memutuskan jaringan sosial dan bahkan telah melahirkan 'kebudayaan penjajahan'.

Logika kerja adalah usaha untuk menghasilkan sebanyak mungkin faidah daripada kemudahan, fasilitas dan segala kemampuan yang dimiliki. Agama Islam menekankan pentingnya prinsip logika kerja dan mengajarkan para penganutnya untuk giat bekerja. Orang Islam memerlukan prinsip ini kerana mereka banyak memiliki akal yang abstrak tetapi mempunyai akal praktikal yang sedikit, mereka banyak berbicara sedikit kerja, pandai berdebat tetapi tidak mengamalkan. Teknologi atau al-sina'ah dalam bahasa Ibnu Khaldun adalah juga unsur penting dalam kebudayaan. Ia merangkumi seni, teknik, karya, kemahiran, dan hasil-hasil terapan dari ilmu pengatahuan.

Perkembangan ilmu dan teknologi dalam suatu masyarakat menurut Malik Bennabi, tergantung kepada lingkungan dan budaya yang dapat mendorong semangat keilmuan dan yang dapat menggerakkan terjadinya proses menerima atau menyampaikan ilmu. Al-Quran tidak mendatangkan secara langsung ilmu matematika atau aljabar atau sistim desimal, yang merupakan asas-asas penting dalam perkembangan teknologi, tapi ia mendatangkan lingkungan rasional (aqliyah) dan budaya ilmiah yang baru yang mendorong perkembangan ilmu pengetahuan yang pesat.

Agama Islam membuka jalan ke arah lingkungan ilmiah melalui perkataan "iqra" (bacalah), kemudian meletakkan beberapa langkah fundamental yang dapat menciptakan ruang dan psikologi sosial bagi mewujudkan budaya intelektual dan perkembangan ilmu pengetahuan. Demikian juga yang terjadi di Eropa, perkembangan dan kemajuan teknologinya telah dimulai dengan wujudnya miliu intelektual dan budaya ilmiah yang telah tumbuh sejak dua abad sebelumnya. Islam peradaban menekankan peranan dirinya sebagai katalisator kebudayaan dengan menanamkan "moral" yang menggariskan baik dan buruk atau yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan dan yang mengaitkan nilai amanah dalam segala perilaku praktikal individu dan masyarakat.

Juga mengajarkan "logika kerja" yaitu profesionalisme dalam melakukan pekerjaan dengan usaha untuk menghasilkan sebanyak mungkin faidah dari fasilitas-fasilitas dan segala kemampuan yang dimiliki, menentukan "nilai estetika" yang mengaharuskan individu-individu dalam masyarakat memiliki ide-ide yang kreatif dan inovatif. Ide-ide yang kreatif dan inovatif sangat diperlukan untuk membentuk dan membangunkan suatu peradaban yang merdeka dan tidak tergantung pada peradaban lain. Islam peradaban juga berupaya secara praktikal mendorong, dengan segala metode, ke arah terciptanya lingkungan intelektual dan budaya ilmiah yang seterusnya diharapkan dapat berpengaruh pada lahirnya sains dan "teknologi.

" Malik Bennabi pernah meramalkan bahwa Asia khususnya Indonesia akan menjadi pusat peradaban Islam masa depan. Menurutnya, "dunia Islam [akan] beralih dan tunduk pada tarikan gravitasi Jakarta, sebagaimana ia pernah tunduk pada tarikan gravitasi Kairo dan Damascus." Ramalan ini memberikan tanggung jawab yang besar terhadap umat Islam di negeri ini. Keadaan Indonesia yang memiliki penduduk Islam terbesar masih terlalu jauh dari apa yang pernah diramalkan oleh Malik Bennabi lima puluh tahun yang lalu. Malaysia yang tidak pernah disebut oleh Malik Bennabi justru dapat melangkah lebih maju dalam banyak bidang dibandingkan dengan Indonesia.

Dari perspektif pemikiran Malik Bennabi, dalam aspek "moral", terutamanya korupsi, Malaysia mampu menduduki posisi yang menyenangkan di antara negara-negara membangun lainnya, sementara Indonesia menjadi negara paling kotor dan menduduki peringkat nomor tiga sebagai negara terkorup di dunia. Dalam aspek "logika kerja," Malaysia memiliki etos kerja dan profesionalisme yang baik. Peningkatan etos kerja dan profesionalisme dilakukan melalui berbagai cara, di antaranya adalah dengan ISO (International Standardisation Organization).

Semua instansi baik pemerintah maupun swasta berlomba-lomba untuk mendapatkan pengakuan standar efisiensi dan profesionalisme internasional tersebut. Sementara itu di Indonesia pelayanan umum tidak efisiens, tidak profesional dan sarat dengan birokrasi yang tidak penting. Birokrasi yang semestinya untuk mempermudah urusan justru untuk mempersulit, karena di dalam kesulitan terdapat duit.

Jawaban "bapak sedang rapat" atau "datang esok" atau kata-kata "mau cepat atau lambat" merupakan budaya yang umum, banyak pegawai atau petugas yang sibuk membaca koran atau ngobrol waktu tugas kantor, mereka juga banyak yang bersikap cuek dan tidak menghormati pelanggan, bahkan kadang mereka hanya memprioritaskan orang tertentu yang dianggap menjanjikan sesuatu. Di Malaysia Anda hanya memerlukan satu jam dan tanpa biaya untuk mengurus dan mendapatkan akta kelahiran anak

Anda dari JPN (Jabatan Pendaftaran Negara), tapi, hal itu agak sulit untuk kita temukan dalam tradisi birokrasi kita. Dalam "estetika", orang Malaysia memiliki kesadaran yang lebih baik, mereka mudah menaati kebersihan lingkungan dan menaati segala bentuk peraturan lalulintas dan peraturan-peraturan kota yang lain. Nilai estetika pada orang Indonesia yang pernah dibanggakan oleh Malik Bennnabi tentu saja masih ada, tapi ia lebih berbentuk "potensi" dan belum berbentuk "amalan". Kekuatan masyarakat Islam terletak pada Islam itu sendiri. Yaitu Islam yang bergerak dalam akal dan tingkah laku dan yang dibangkitkan dalam kehidupan sosial dan dalam bentuk Islam peradaban. (RioL)
Oleh : Usman S Husnan Direktur Forum Kajian Islam Peradaban (FKIP) Cempakah Putih, Ciputat
Malik Bennabi
Malik Bennabi (1905-73) merupakan seorang pemikir dan cendekiawan Islam yang terulung abad ke-20. Sumbangan beliau yang terbesar ialah teori peradaban yang dikemukakannya.

Lahir di Costantine, Algeria kepada seorang keluarga sederhana, persekitaran kekeluargaan Malik Bennabi sendiri telah menekankan akan kepentingan pendidikan kepada beliau. Waktu itu Algeria merupakan sebahagian daripada jajahan Perancis yang berhasrat mejadikan Algeria sebagai sebahagian daripada wilayah Perancis.

Beliau sendiri menerima pendidikan tradisional Arab dan pendidikan Barat (Perancis) yang menjadikannya antara tokoh unik di kalangan pemikir Islam di Afrika Utara ketika itu. Pendidikan awalnya mengaji Al-Quran di Kuttab dan sekolah Perancis. Beliau pernah mendapat markah tertinggi di dalam kelas, namun gred terbaik di dalam kelasnya diberikan kepada seorang pelajar Perancis. Malik melihatkan ini sebagai gambaran diskriminasi kolonialis dan menurut Dr. Fauzia Bariun, beliau "merasakan keperluan untuk mencabar diskriminasi Barat secara intelektual dan berazam untuk meneruskan pendidikannya dan membuktikan kemampuannya."

Di Lycee Franco-Musulman Malik mula meminati sastera Perancis dan membaca novel-novel Jules Verne, Pierre Loti dan Claude Farrere. Namun buku yang lebih berpengaruh di dalam kehidupannya ialah L’Histoire sociale de l’humanite (Sejarah Social Kemanusiaan) karangan Courtellemont, Umm al Qura karangan Al-Kawakibi, Risalah Tauhid karangan Muhammad Abduh dan L’Ambre Chaude de l’Islam. Pada waktu yang sama, disamping meminati syair-syair Arab klasik, beliau turut menuntut ilmu dari Sheikh Maulud Bin Mawhub, seorang bekas mufti Costantine yang progresif dan terbuka.

Kemudian Malik mula terpengaruh dengan gerakan Islah yang sedang berkembang pesat di dunia Islam waktu itu, sebagaimana Kaum Muda di Tanah Melayu sedang giat mencabar doktrin-doktrin konservatif Kaum Tua. Selepas tamat persekolahan, beliau merantau ke Perancis untuk bekerja, tetapi pulang tidak lama selepas itu, kecewa dengan penindasan yang dilakukan oleh kapitalis-kapitalis Perancis terhadap pekerja-pekerja Algeria. Beliau melihatkan dakwaan kolonialisasi Perancis untuk la mission civilsatrice sebagai topeng untuk hegemoni Barat semata-mata.

Namun selepas bekerja di Algeria tidak lama, beliau ke Perancis semula pada tahun 1930. Keluarganya membiayai sebahagian dari pembelajarannya di sana. Beliau menyertai L’Ecole des Langues Orientales namun menghadapi halangan yang beliau sifatkan sebagai halangan politik. Setelah itu beliau menyertai institut kejuruteraan yang meyakinkannya tentang sumbangan besar sains di dalam kejayaan ketamadunan Barat. Di dalam semi-autobiografinya Mudhakkirat Shahidin lil Qarn beliau menjelaskan tentang komitmennya waktu itu untuk "menjadi peyelamat yang ditugaskan" kepada dunia Islam yang mundur. Gaya analisanya di dalam mengutarakan ide-idenya juga kelihatan pendekatan saintifik, kesan pendidikannya.

Kehidupannya di Paris banyak berkaitrapat dengan Latin Quarter yang terkenal itu. Beliau juga aktif bersama Persatuan Pelajar Maghrib yang menyebabkan beliau menghadapi pelbagai masalah di dalam kehidupannya di Perancis. Meskipun beliau bertemu dengan pengasas parti North African Star yang bernaung di bawah payung Parti Komunis Perancis, Massali Haj, namun permainan politik Massali menyebabkan Malik tidak terlibat dengan parti tersebut. Waktu itu juga beliau mula mengenali ide-ide Pan Arab Shakeeb Arslan yang disebarkan menerusi akhbarnya yang berasas di Geneva, La Nation Arabe.

Tidak lama selepas berakhirnya Perang Dunia Kedua barulah Malik Bennabi menulis buku. Fenomena Al Quran (Le Phenomene Coranique) diterbitkan pada 1946; setahun kemudian terbitnya Labbaik, satu-satunya novel karya beliau; Les Conditions de la Renaissance pada 1948 dan pada 1954 beliau menerbitkan La Vocation de l’Islam. Buku-bukunya, antara lain, bertujuan membincangkan aspek-aspek teoretikal untuk menghidupkan kembali gerakan Islah.

Malik mengiktiraf bahawa gerakan kebangkitan Islam dipelopori Jamaluddin al-Afghani meskipun beliau tidak bersetuju bulat-bulat dengan pandangan al-Afghani. Beliau melihat al-Afghani sebagai rajul fitrah atau insan semulajadi yang dapat memberi sumbangan besar terhadap kemajuan peradaban berbanding apa yang menurut Malik, mereka yang berada di luar peradaban. Disamping itu, ketika cubaan-cubaan untuk meniupkan semangat nahdah di kalangan umat Islam dilakukan sebelum ini, semuanya berpunca lebih kepada sentimen puak atau kabilah; al-Afghani tokoh pertama yang memulakan perjuangannya pada Islam, bukan etnik.

Api-api kebangkitan Islam yang disemai ini memainkan peranan besar untuk mengejutkan umat Islam yang sedang tidur di dalam apa yang digelarkan Malik Bennabi sebagai dunia pasca kerajaan Almohads (yakni zaman kemunduran Islam).

Namun al-Afghani menurut kacamata Malik bukanlah pembaharu, tetapi mujahid. Pembaharu, menurutnya, lebih wajar diberikan gelaran tersebut kepada Muhammad Abduh. Muhammad Abduh yang menyedari bahawa untuk menjayakan reformasi di dalam dunia umat Islam, harus ditumpukan pada perkara pokok-pangkalnya dahulu – isu kerohanian. Namun Malik mengkritik pendapat bahawa pendekatan untuk mengubah akidah yang perlu ditekankan, kerana insan pasca Almohads sekalipun, masih setia kepada akidahnya walaupun mundur di dalam aspek lain. Beliau tidak bersetuju dengan pendekatan yang dogmatik dan kaku, beliau mahukan pendekatan yang lebih mengambilkira cara pengamalan Islam di dalam bidang-bidang kehidupan.

Malik Bennabi turut mengkritik pengikut-pengikut kedua-dua tokoh kebangkitan Islam tersebut kerana, menurutnya, di dalam La Vocation de l’Islam (Wijhat al Alam al Islami atau Islam di dalam Sejarah dan Sosiologi), "mereka bukannya mencari fakta, tetapi untuk bukti-bukti" terhadap pihak lawan, yang menyebabkan "mereka tidak cuba mendengar antara satu sama lain, dan setiap daripada mereka akan cuba mengalahkan yang satu lagi di dalam kata-kata yang tidak berhenti-henti."

Sebenarnya beliau turut mengkritik kedua-dua pendukung gerakan modernisasi dan Islah. Baginya di dalam berinteraksi dengan golongan evolues di Algeria, gerakan modenisasi terlalu ghairah di dalam mengambil peradaban Barat dari aspek superficial dan mahu menirunya bulat-bulat untuk menyelesaikan masalah umat Islam. Ini sesuai dengan idenya mengenai ‘dunia benda’ dan ‘dunia ide’. Beliau menilai bahawa ‘dunia ide’ lebih bermakna dari ‘dunia benda’ – maka meskipun negara Jerman menerima kemusnahan yang dasyat dari segi fizikal ketika Perang Dunia Kedua, negara tersebut pantas mendapat tempat semula antara ekonomi paling dinamik dunia kerana ‘dunia ide’nya tidak dimusnahkan oleh Pihak Bersekutu. Turut dikritiknya ialah negara-negara dunia ketiga yang baru merdeka waktu itu, yang berlumba-lumba mendirikan tugu-tugu fizikal kemajuan sedangkan pengisian peradaban itu sendiri tidak wujud; sebagaimana mungkin apa yang sedang terjadi di negara kita hari ini!

Malik Bennabi juga mempunyai perbezaan pendapat dengan pemimpin Ikhwanul Muslimun, Syed Qutb yang dibunuh oleh Gamal Abdul Nasser. Pertelingkahan intelektual ini berakar umbi apabila Syed Qutb menukar tajuk bukunya dari "Ke Arah Sebuah Masyarakat Islam yang Bertamadun" kepada "Ke Arah Sebuah Masyarakat Islam" yang menurut Bennabi, mengandaikan bahawa masyarakat Islam sudah bertamadun sedangkan realiti adalah sebaliknya. Syed Qutb membalas bahawa tindakannya adalah untuk memendekkan tajuk tersebut dan beliau tidak menilai peradaban menurut kaca mata Barat.

Sumbangan pemikiran yang paling besar dibuat oleh Malik Bennabi, sebagaimana yang telah saya nyatakan ialah Teori Peradabannya. Ketika tokoh-tokoh kebangkitan Islam sezaman dengannya lebih meminati istilah ‘nahdah’ (renaissance) atau ‘al-taqaddum’ (pembangunan) beliau menekankan istilah ‘hadara’ (peradaban). Di sini kita dapat melihat dinamik pemikiran di antara Ibnu Khaldun, antara pelopor awal ilmu sosiologi ketika akhir zaman keagungan peradaban Islam yang mengarang Mukaddimah dan Arnold Toynbee, seorang sarjana moden British yang mengkaji peradaban dan telah menghasilkan A Study of History.

Persamaan peradaban yang dikemukan olehnya ialah,

Insan + Tanah + Masa = Peradaban.

Namun, dengan menggunakan analisa saintifik, beliau menegaskan bahawa pemangkin atau catalyseur terhadap elemen-elemen tersebut ialah agama. Meskipun ada yang mencabar pendapatnya dengan memberikan contoh negara Soviet yang baru muncul sebagai kuasa dunia waktu itu, sebagaimana Toynbee, Malik melihat perkembangan tersebut sebagai satu yang berpokok pangkal dari tamadun Barat-Kristian.

Dengan pengaruh Ibnu Khaldun di dalam kitaran peradaban, Malik Bennabi mengemukakan pendapatnya mengenai tiga peringkat peradaban. Bermula dengan Peringkat Kerohanian – jika dilihat umat Islam melalui zaman ini bermula dengan turunnya wahyu kepada Nabi Muhammad s.a.w. dan berakhir dengan jatuhnya Khulafa ar-Rasyidin ketika Perang Siffin. Ini sesuai dengan teori beliau dan Ibnu Khaldun bahawa agama memainkan peranan yang besar di dalam menggerakkan sesebuah tamadun.

Kemudian Peringkat Rasional di mana prinsip-prinsip agama masih kukuh dan berkembang, ketika ilmu sains dan kesenian mula mendapat tempat dan ketamadunan pada waktu ini menuju ke zaman kegemilangannya, tetapi masyarakat tidak lagi dapat dikawal sebagaimana Peringkat Kerohanian. Jika di Islam peringkat ini ditandai oleh kegemilangan pemerintahan Umayyah dan Abasiah, dunia Barat melaluinya ketika Renaissance berkembang di Eropah selepas kejatuhan Islam.

Akhir sekali, Peringkat Naluri di mana masyarakat sesebuah peradaban menghadapi zaman kegelapan. Ikatan keimanan yang menjadi penghubung anggota masyarakat sudah lemah dan kitaran peradaban berakhir. Jika melihat dari segi sejarah, zaman ini dilalui oleh umat Islam ketika jatuhnya Baghdad kepada bangsa Mongol, tidak lama selepas hidupnya Ibnu Khaldun.

Toynbee juga seorang yang banyak terpengaruh dengan Ibnu Khaldun. Toynbee, sebagaimana Spengler, melihat krisis dunia Barat kontemporari akan dapat diatasi dengan satu tempoh di masa hadapan apabila mereka akan memeluk sebuah agama dari Timur. Meskipun begitu, wujud perbezaan di antara Malik Bennabi dengan Toynbee. Toynbee juga seorang sarjana sejarah yang banyak mempengaruhi tasawwur peradabannya, sedangkan Malik Bennabi cuma meminati sejarah lebih sebagai alat untuk menjelaskan teori-teorinya mengenai peradaban.

Sumbangan Malik Bennabi terhadap dunia intelektual Islam terlalu besar untuk diperkatakan. Menurut Dato’ Seri Anwar Ibrahim, "Jika Iqbal menyalakan api dengan imaginasi puisinya, Bennabi melakukan sedemikan dengan prosanya yang sempurna. Tetapi, ulasan Bennabi mengenai pengalaman realiti peradaban mengatasi Iqbal."

NIK NAZMI NIK AHMAD, 20, ialah seorang exco Unit Pendidikan Politik-Institut Kajian Dasar (UPP-IKD) dan Editor SuaraAnum.com.

TEBAK2AN

Apa persamaan dan bedanya Megi Z dan Tukang Sayur ?
Persamaanya : sama-sama teriak Bedanya : Megi Z Teriak 'Teganya-teganya', Tukang sayur teriak 'Togenya-togenya'

Kenapa dipapan Keyboard Komputer tertulis 'ENTER' ?
Karena kalau tulisannya 'ENTAR' programnya ngga jalan-jalan dong

Apa bahasa Indianya Bumbu Dapur ?
Tumbar Miri Jahe

Ikan apa yang lahir, langsung sakit ?
Ikan Loahan (liat aja kepalanya yg benjol)