Petunjuk Teknis Pelaksanaan Pemberian Gaji/Pensiun/Tunjangan Bulan Ke-13 Tahun 2015 Kepada PNS, Anggota TNI/POLRI, Pejabat Negara,dan Penerima Pensiun/Tunjangan
Penyesuaian Besaran Gaji Pokok Pegawai Negeri Sipil, Anggota Tentara Nasional Indonesia, dan Anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia tahun 2015
berikut tautan peraturannya klik disini
Bila negeri-negeri berkembang terus berjuang memerangi kemiskinan tentu ini adalah hal yang wajar karena di negeri-negeri tersebut memang masih banyak kemiskinan. Yang mungkin tidak banyak yang tahu adalah bahwa negeri adikuasa-pun terus berjuang melawan kemiskinan, apakah ini mudah bagi mereka ? Ternyata tidak juga. Setengah abad mereka berjuang memerangi kemiskinan tetapi yang terjadi malah kemiskinan di negeri mereka juga terus membengkak. Apakah kita layak mencontoh, berguru atau mengidolakan sesuatu yang gagal ?
Banyak yg konsultasi ke Saya dan Tim RWP bahwa mereka pengen sukses di bisnis karena sudah bosan jadi karyawan, pengen membantu orang tua dg bisnisnya yg sukses, pengen meng-hajikan ortunya, pengen membayar hutang-hutang keluarga dg bisnisnya yg sukses, dan pengen-pengen lainnya. Namun segudang alasan diikutsertakan dalam mengungkapkan keinginan utk berhasil itu….Alasan tersebut fokusnya adalahmengungkapkan kelemahan diri yg bernada “merendahkan diri” sendiri…!
Hari-hari ini ratusan ribu jama’ah haji Indonesia sedang wukuf di Arafah untuk selanjutnya besuk mulai melempar jumrah di Mina. Melempar jum’rah adalah bagian dari rangkaian ibadat haji – yang pelajarannya diambil dari apa yang dilakukan oleh nabi Ibrahim ‘Alaihi Salam dan putranya Ismail ‘Alaihi Salam sekitar 3,900 tahun lalu. Syariatnya kemudian dicontohkan langsung oleh Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Ada pelajaran yang dimudahkan oleh Allah di syariat ini, tetapi apakah kita sudah mengambil pelajaran ?
Semut adalah binatang kecil yang oleh kebanyakan manusia diabaikan keberadaannya, malah cenderung dibasmi karena dianggap mengganggu. Padahal semut adalah salah satu binatang yang disebut khusus di Al-Qur’an dan bahkan menjadi nama salah satu surat. Lantas apa pentingnya semut ini bagi manusiasesungguhnya ? selain berperan di ecosystem sebagai pembasmi hama dan meng-aerasi tanah, semut memberi pelajaran yang sangat penting bagi manusia untuk bekerja !
Dalam Al-Qur’an pelajaran tentang semut ini teringkas dalam dua ayat yang berurutan berikut :
Tidak selamanya apa yang kita usahakan atau perjuangkan itu membawa keberhasilan atau kemenangan, adakalanya kita gagal atau kalah. Kegagalan atau kekalahan sebenarnya adalah hal yang biasa, karena umumnya kegagalan inilah yang lebih sering kita hadapi ketimbang keberhasilan. Maka sikap ketika kita menghadapi kegagalan atau kekalahan itulah yang akan membedakan kita, apakah kita seorang yang kalah (loser) atau seorang pemenang sejati (winner).Bagi pemenang sejati, Anda hanya mengenal dua hal yaitu kadang Anda menang terkadang pula Anda harus belajar – sometimes you win, sometimes you learn.
Kekhusu’an kita dalam melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadhan tahun ini- khususnya 10 hari pertama - kemungkinan akan terganggu oleh kegaduhan PEMILU Presiden. Maka PEMILU ini harus disikapi secara proporsional, jangan sampai gara-gara ini terganggu silaturahim kita apalagi terjebak dalam fitnah-memfitnah, penyebaran berita yang tidak benar dan sejenisnya. Lebih dari itu kita perlu mengenal jaman dimana kita sekarang sedang berada, agar kita tahu prioritas apa yang harusnya kita lakukan tahap demi tahapnya.
Lima tahun lalu kami mengajari kambing-kambing kami jenis peranakan etawa (PE) untuk belajar minum dari instrumen yang canggih. Mereka harus menekan dengan lidahnya batang besi kecil di tengah pipa supaya air keluar. Tentu sulit sekali awalnya, tetapi ketika salah satu dari mereka bisa – maka yang lainpun segera bisa. Kini lima tahun kemudian, generasi demi generasi kambing berganti – tetapi semua bisa minum dari instrumen tersebut tanpa harus kami ajari lagi. Siapa yang mengajari mereka ? Itulah yang disebut kecerdasan kolektif.
Kemiskinan merajalela di sekitar kita namun pada umumnya kita tidak melihatnya, mengapa ? Pertama kita tidak sensitif dalam mendeteksi gejalanya, dan kedua ada standar yang (di)bias(kan) dalam pengukurannya. Berdasarkan data BPS untuk tahun 2013 (per September 2013) misalnya, kemiskinan di negeri ini ‘hanya’ tercatat di angka sekitar 28.5 juta orang atau 11.47 % dari penduduk Indonesia. Padahal angka ini menggunakan garis kemiskinan di angka Rp 292,951 per kapita per bulan atau di sekitar angka US$ 1/kapita/hari, angka ini hanya kurang dari 1/10 nishab zakat !
Anak adalah harapan di masa yang akan datang. Kalimat ini seringkali kita dengar dan amat lengket di benak kita. Tak ada yang memungkiri ucapan itu, karena memang ia sebuah kenyataan bukan hanya sekedar ungkapan perumpamaan, benar-benar terjadi bukan sebatas khayalan belaka. Karenanya sudah semestinya memberikan perhatian khusus dalam hal mendidiknya sehingga kelak mereka menjadi para pengaman dan pelopor masa depan umat Islam.
Tahun lalu produksi daging sapi nasional Indonesia hanya 430,000 ton atau sekitar1.8 kg per kapita. Kalau datanya FAO menyebutkan konsumsi daging rata-rata kita adalah 10 kg per tahun per kapita, maka tambahannya perlu diisi daridaging ayam, kambing/domba dan tentu saja daging impor. Ini hanya sekedar untuk mempertahankan tingkat konsumsi daging yang sekarang, lantas bagaimana kita bisa meningkatkan konsumsi daging per kapita sama dengan rata-rata konsumsi masyarakat dunia yang sekitar 42 kg per tahun per kapita ? jawabannya ada di mindset !
Dua kali dalam sepekan ini saya bisa merasakan langsung apa yang diderita saudara-saudara kita di Riau dan sekitarnya – yaitu rasa ‘ditundukkan’ oleh asap. Pertama adalah ketika gagal terbang dari Pekanbaru ke Jakarta, sehingga harus menempuh jalan darat untuk bisa terbang dari Padang ke Jakarta. Kedua adalah kemarin ketika sebuah seminar di Universitas Andalas terpaksa dibatalkan,karena pesawat yang seharusnya membawa saya dengan moderatornya – tidak bisa terbang juga karena asap. Mengapa manusia yang sesungguhnya diberi kemampuan untuk menundukkan bumi dan langit, malah tunduk dengan ‘asap’ dan sejenisnya ini ?
Tapi mungkin masyarakat sering bertanya polusi cahaya itu seperti apa sih? Karena toh dalam menjalani kehidupan sehari-hari kita tidak benar-benar bisa merasakan akibatnya. Bahkan mungkin bentuknya pun tidak diketahui seperti apa. Dan memang yang lebih sering menuarakan problematika polusi cahaya ini adalah para astronom yang kehilangan langit gelap. Tapi, komponen yang satu ini juga penting bagi kehidupan manusia loh bukan cuma untuk astronom.
Dalam suatu hadits, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda “Manusia itu bagaikan seratus unta, hampir-hampir tidak engkau temukan satupun rahilah”(HR. Bukhari). Lantas apa rahilahitu ?, dia adalah unta yang enak untuk ditunggangi, kuat mengangkat beban yang berat, kuat untuk melakukan perjalanan yang sangat jauh dan enak pula dipandang mata. Yang demikian itu jumlahnya sedikit, tidak lebih dari 1 %.
Setiap hari ada sekitar 4.3 juta sel yang mati di dalam tubuh kita, ketika penggantinya lebih dari yang mati ini berarti tubuh kitamasih mengalami pertumbuhan. Sebaliknya bila kita sudah mengalami proses penuaan, sakit dlsb. maka sel-sel baru yang terbentuk tersebut jumlahnya kurang dari yang mati. Dari mana datangnya sel-sel baru ini ? dari makanan yang setiap hari kita makan. Lantas bagaimana kalau yang kita makan salah dan pola makan-nya pun salah ? Di sinilah pentingnya kita menggunakan petunjuk yang benar dalam hal makanan sekalipun, baik yang terkait jenisnya, caranya, prosesnya, jumlahnya dan seterusnya.
India adalah negeri yang unique, profesi yang pada umumnya dianggap paling aman di dunia – yaitu petani – ternyata menjadi profesi yang mengerikan di negeri itu. Pasalnya adalah setiap 30 menit rata-rata, satu orang petani bunuh diri di negeri itu. Ribuan kilometer dari India, sebuah gudang super aman sedang dibangun di laut Barents dekat Arctic – 1,100 km dari kutub utara. Apa hubungan kedua cerita ini ?
Melalui pengucapan Nabiullah Ibrahim ‘Alaihi Salam dalam Al-Qur’an : “dan Dia Yang memberi makan dan minum kepadaku, dan apabila aku sakit Dialah Yang menyembuhkanku” (QS 26:79-80), kita diingatkan bahwa Yang memberi kita makan adalah juga Dia Yang memberi kita obat ketika kita sakit. Efektifitas satu solusi untuk semuadalam dunia makanan dan pengobatan ini hanya berlaku bila kita mengikuti petunjukNya.
Tidak terjadi pada rekayasa yang dibuat manusia secanggih apapun teknologinya dan setinggi apapun ilmunya – bila manusia itumengabaikan petunjuk-petunjukNya langsung.
Ternyata bukan hanya agama kita Islam yang menolak kapitalisme itu, orang Nasrani-pun menolaknya. Setidaknya ini terungkap dari serangan Paus Francis dalam pernyataannya sepanjang 84 halaman yang dikeluarkan dua hari lalu. Dalam pernyataan keras tersebut, Paus menyebut kapitalisme yang tidak terkendali telah menciptakan tirani baru.Ekonomi ekslusif dan ketidak setaraan kapitalisme bahkan bisa membunuh.
Paus mencontohkannya betapa warga tunawisma di negeri kaya bisa mati kedinginan tanpa mendapat-kan perhatian juru warta, sementara ketika pasar saham turun 2 poin saja beritanya ke seluruh dunia.
Bulan Muharram adalah bulan pertama dalam kalender Hijriyah. Bulan ini disebut oleh Nabi Muhammadshallallahu ‘alaihi wa sallamsebagaiSyahrullah(Bulan Allah). Tentunya, bulan ini memilki keutamaan yang sangat besar.
Di zaman dahulu sebelum datangnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bulan ini bukanlah dinamakan bulan Al-Muharram, tetapi dinamakan bulan Shafar Al-Awwal, sedangkan bulan Shafar dinamakan Shafar Ats-Tsani. Setelah datangnya Islam kemudian Bulan ini dinamakan Al-Muharram.1
Al-Muharram di dalam bahasa Arab artinya adalah waktu yang diharamkan. Untuk apa? Untuk menzalimi diri-diri kita dan berbuat dosa. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu di keempat bulan itu” (QS At-Taubah: 36)